Menang Dipuja, Kalah Jangan Dicela... - Kompas.com

Menang Dipuja, Kalah Jangan Dicela...

Kompas.com - 27/08/2018, 15:36 WIB
Pemain bulu tangkis tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting cedera saat bertanding melawan pemain tunggal putra China Shi Yuqi pada pertandingan final beregu putra Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (22/8/2018).KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO Pemain bulu tangkis tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting cedera saat bertanding melawan pemain tunggal putra China Shi Yuqi pada pertandingan final beregu putra Asian Games 2018 di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (22/8/2018).

KOMPAS.com - Perjuangan pebulutangkis Indonesia pada babak final beregu putra, Anthony Sinisuka Ginting, berakhir dramatis, Rabu (22/8/2018).

Ginting tak bisa melanjutkan pertandingan melawan pemain China, Shi Yuqi, karena mengalami cidera lutut.

Anthony kalah dengan skor 21-14, 21-23, dan 20-21 (retired).

Ada yang memuji perjuangan Ginting, tapi tak sedikit pula yang memberikan komentar sebaliknya.

Komentar netizen memenuhi kolom instagram pribadi Ginting.

Berikut komentar-komentar yang ditinggalkan warganet:

Tangkapan layar komentar di instagram pribadi Anthony Ginting.Instagram Tangkapan layar komentar di instagram pribadi Anthony Ginting.

1. "Semangat Ginting semoga bisa memberikan terbaik buat tim merah putih"

2. "Semangat terus ya kak. Berjuang untuk Indonesia"

3. "Payah nih kalah mulu, pindah haluan aja ikut uber lah, walaupun pasti kalah lagi, hahaha"

4. "Ting kalo smash ke musuh jangan dilampiaskan di lantai sendiri ya"

Bagaimana seharusnya para pendukung mengapresiasi para atlet?

Konselor olahraga Dianita Luschinta Sepda mengatakan, masyarakat seharusnya memberikan komentar yang pantas.

"Sebenarnya mungkin masyarakat maksudnya baik ya, perhatian gitu. Bisa jadi niatnya sih ngasih kritik, tapi jatuhnya malah caci bahkan bully," kata Shinta saat dihubungi Kompas.com, Senin (27/8/2018).

Menurut dia, pilihan kata menjadi kuncinya. Kritik harus disampaikan dengan kata-kata yang tak merendahkan.

"Misalnya harusnya kamu tadi smash silang aja biar lawan kelimpungan atau lebih banyak variasi," ujar dia.

Shinta mengatakan, publik juga harus memahami bahwa kata-kata kasar atau bully akan berdampak terhadap psikologis sang atlet.

"Ada yang beberapa hari ga bisa tidur, ada yang nangis-nangis karena merasa udah bikin kesalahan besar. Ada yang diam aja di kamar, nafsu makan menurun. Ada yang performanya turun seminggu, tapi ada juga yang langsung down," kata Shinta.

Bahkan, kata-kata tersebut dapat menurunkan kepercayaan diri seorang atlet.

"Bisa berakibat anti-sosial. Ada yang sosmed sampai dinonaktifkan atau di-uninstall dulu," lanjut dia.

Seorang atlet yang mengalami dampak psikologis seperti di atas, kata Sinta, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk memulihkan diri kembali ke performa terbaiknya.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak fokus pada kekalahan atlet, tapi menghargai dan mengapresiasi perjuangannya.

"Minimal (ucapkan) terima kasih lah. Itu udah cukup mengurangi rasa bersalahnya karena kalah dan bisa naikin semangatnya untuk usaha lebih baik lagi," kata Shinta.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Asal Muasal Desain Medali Asian Games 2018

Kompas TV Ayah pebulu tangkis Indonesia Antony Ginting terharu saat menyaksikan perjuangan anaknya di pertandingan final bulu tangkis beregu putra Asian Games 2018.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X