Pelatih HangTuah: Kami seperti Dibunuh secara Perlahan - Kompas.com

Pelatih HangTuah: Kami seperti Dibunuh secara Perlahan

Kompas.com - 11/02/2019, 20:10 WIB
Pelatih HangTuah, Andika Supriadi Saputra (kanan) bersama salah satu pemainnya, Stevan Wilfredo Neno.Dok. HangTuah Pelatih HangTuah, Andika Supriadi Saputra (kanan) bersama salah satu pemainnya, Stevan Wilfredo Neno.

MALANG, KOMPAS.com - Pelatih HangTuah, Andika Supriyadi Saputra, merasa bingung dengan kebijakan Indonesian Basketball League ( IBL) terkait pencoretan Bryquis Perine.

Bedu, sapaan akrab Andika, merasa HangTuah telah menjadi korban karena sudah bertindak sesuai dengan aturan dalam merekrut pemain asing, yakni dari IBL Draft Foreign Player 2018-2019.

Di daftar itu, tertulis bahwa Perine memiliki tinggi badan 188 cm yang menjadi batas aturan yang ditetapkan IBL.

Baca juga: Pertanyakan Protes Pelita Jaya, Stapac Jakarta Singgung Wayne Bradford

Namun, ketika sang pemain sudah tiba di Indonesia, IBL justru melakukan kembali pengukuran tinggi badan Perine dan mendapati sang pemain memiliki postur 189 cm.

Perine akhirnya terpaksa dipulangkan meski sempat bermain pada laga hari pertama seri ketujuh IBL Pertamax 2018-2019 melawan Stapac Jakarta, di GOR Bima Sakti, Malang, Jawa Timur, Jumat (8/2/2019).

Pemain asing baru HangTuah, Bryquis Perine, saat tampil pada laga hari pertama seri ketujuh IBL Pertamax 2018-2019 melawan Stapac Jakarta, di GOR Bima Sakti, Malang, Jawa Timur, Jumat (8/2/2019).IBL Pemain asing baru HangTuah, Bryquis Perine, saat tampil pada laga hari pertama seri ketujuh IBL Pertamax 2018-2019 melawan Stapac Jakarta, di GOR Bima Sakti, Malang, Jawa Timur, Jumat (8/2/2019).

"Kami ganti pemain asing sudah sesuai dengan list (draft) yang disediakan oleh liga sebagai operator. Kami sudah pilih, kemudian kami datangkan, tetapi ternyata tak bisa, padahal sudah hampir akhir musim," ujar Bedu kepada Kompas.com pada Minggu (10/2/2019) kemarin.

"Kami tak bisa bicara langsung dengan si pemain dan agennya. Nah, jadi kami harus salahkan siapa? Namun, liga salahkan klubnya. Liga bilang bahwa kami salah memilih. Padahal, kasarnya kan liga yang punya list," ucapnya.

Bedu menilai, kejadian ini bakal menjadi preseden buruk bagi bola basket di Indonesia.

Ia mengaku bingung dengan penegakan aturan yang diterapkan oleh pihak IBL selaku operator liga.

"Dengan kemarin Perine bisa main dan sekarang tidak, secara langsung itu membunuh kami secara perlahan," ujar Bedu.

"Pastinya ini juga sebagai preseden buruk di Indonesia. Ini akan berdampak jelek. Okelah, kami mengakui Perine tingginya kelebihan, tetapi dasarnya apa, bagaimana, dan kami harus menyalahkan siapa? Kami kan hanya dikasih list," tutur dia menambahkan.

Aturan IBL memang mewajibkan setiap tim memiliki dua pemain asing. Satu slot diperbolehkan dengan tinggi badan bebas, sedangkan satu slot lainnya harus maksimal 188 cm.

Pihak IBL sendiri mengakui bahwa hal ini merupakan force majeur atau suatu hal yang terjadi di luar kehendak mereka.

Direktur IBL Hasan Gozali menyatakan pihaknya sudah mengukur tinggi badan Perine dengan bantuan Rumah Sakit Royal Sport Medical Center yang bertugas di lapangan.

"Setelah itu, kami mencari data dari berbagai sumber dan ditemukan bahwa tinggi Bry adalah 190 cm. Data yang dikirim agensinya berbeda," tutur Hasan dalam siaran pers yang diterima Kompas.com pada Minggu (10/2/2019).

Baca juga: Stapac Jakarta Yakin Tinggi Badan Kendal Yancy Sudah Sesuai Aturan

Peraturan IBL sebenarnya mewajibkan tim untuk menampilkan dua pemain impor. Namun, karena force majeur, tak ada sanksi bagi HangTuah yang terpaksa turun dengan satu pemain asing.

Kejadian ini berbuntut kepada protes Pelita Jaya Jakarta terhadap pemain asing Stapac Jakarta, Kendal Yancy, yang dinilai juga melampaui batas aturan.

Dalam sebuah surat resmi bertanggal 10 Februari 2019 dengan nomor 235/PBPJ/10/02/2019, Pelita Jaya meminta IBL mengukur ulang tinggi badan Yancy sebelum seri kedelapan IBL Pertamax 2018-2019 di Yogyakarta, 15-17 Februari.



Close Ads X