Atlet Tertua dan Terkaya Tak Pernah Menyerah - Kompas.com

Atlet Tertua dan Terkaya Tak Pernah Menyerah

Kompas.com - 11/08/2018, 21:50 WIB
Michael Bambang HartonoTjahjo Sasongko/Kompas.com Michael Bambang Hartono

JAKARTA, Kompas.com - Ada satu ungkapan dari Oei Wie Gwan, pendiri kerajaan bisnis Djarum yang selalu menjadi pegangan keluarga,"Selalu ada Jalan keluar, jangan pernah putus asa."

Kata-kata ini agaknya yang juga menjadi pegangan buat Michael Bambang Hartono, anak laki-laki  dari Oei Wie Gwan. Setelah ayah mereka meninggal pada 1963, bersama saudaranya,  Robert Budi Hartono mereka mengembangkan bisnis hingga menjadi terbesar di Indoensia. Di  bidang bisnis, filosofi ayah mereka membuat Djarum mampu melewati gonjang-ganjing  dunia politik dan ekonomi Indonesia dan tetap eksis.

Filosofi ini pula yang membuat Bambang yang dilahirkan pada 2 Oktober 1939 ini mampu  mengembangkan salah satu sisi hidupnya yang lain, yaitu olahraga Bridge. "Bagi saya, bridge itu semacam legacy keluarga. Saya mengenal olahraga bridge dari orang tua dan paman saya. Saat masih berusia 6 atau 7 tahun saya sering melihat  mereka bermain bridge di rumah," kata Bambang, Sabtu (11/08/2018).

"Setelah dikenalkan dasar-dasar bermain bridge dari para paman, saya menjadi bagian dari mereka sebagai pemain," lanjut Bambang. Bukan hanya menggeluti bridge sebagai permainan, Bambang memutuskan untuk menjadi pemain bridge secara lebih serius dengan mengikuti kejuaraan mulai 1951.

 

Michael Bambang Hartono, atlet tertua Indonesia pada Asian Games 2018Tjahjo Sasongko/Kompas.com Michael Bambang Hartono, atlet tertua Indonesia pada Asian Games 2018

Bukan hanya sebagai pemain, Bambang kemudian  juga bertindak sebagai pembina dan pengembang olahraga bridge di Indonesia. "Kesulitan terbesar dalam pengembangan olahraga Bridge di Indonesia adalah adanya anggapan salah bahwa Bridge ini adalah salah satu bentuk perjudian. Jadi buat banyak daerah di Indonesia,  penolakan masyarakat kerap terjadi," katanya lagi.

Namun dengan filosofi yang diajarkan ayahnya, Bambang memiliki pengalaman untuk  bisa mengatasi penolakan tersebut. "Pada akhir 70 atau awal 1980-an, saya ditugaskan  ketua umum PB GABSI, Amran Zamzami untuk membentuk pengurus bridge di Aceh dan Sumatera Barat. Saya katakan tidak salah? Saya ini keturunan China dan non muslim. Tetapi ketua umum mengaku yakin saya bisa mengatasi masalah tersebut," katanya.

"Dalam bridge ada tahapan bidding, yaitu pengumpulan data untuk dianalisa, disimpulkan dan diputuskan  strategi apa yang akan kita ambil. Ini yang saya terapkan," katanya. Karena itulah, ia menyadari perlunya pendekatan terhadap dua institusi yang  dominan di kedua provinsi tersebut.  "Saya melakukan pendekatan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat untuk meyakinkan bahwa bahwa bridge itu lebih  ke unsur olahraga dan bukan bentuk perjudian," katanya.

Setelah itu, ia melakukan pendekatan kepada sasaran potensial yaitu kalangan perguruan tinggi. "Saya juga meyakinkan dosen dan juga orang tua mahasiswa dengan penjelasan serupa bahwa bridge adalah bentuk olahraga. Ini pun mulus dijalankan," kenang Bambang.

Setelah persetujuan diperoleh, Bambang baru menerapkan prinsip-prinsip bisnis modern untuk mencari peminat bridge. "Untuk menarik peminat yang kebanyakan pria, saya mengenalkan bridge pertama-tama kepada para mahasiswi. Begitu mereka mau bertanding, pasti para mahasiswa mau berpartisipasi, baik sebagai pemain atau pun sekadar penonton,"  kata Bambang pula.

Filosofi tak pernah putus asa ini muncul lagi ketika sebagai pembina, Michael Bambang Hartono berperan menggolkan bridge untuk dipertandingkan di ajang Asian Games.  Sebagai seorang yang aktif di GABSI,  Presiden South East Asia Bridge Fedreation (SEABF) serta wakil Presiden Asia Pacific Bridge Federation (APBF), Bambang melakukan lobi-lobi kepada para pengambil keputusan di Olympic Council of Asia (OCA).

Michael Bambang Hartono  bersama Ketua Umum PB GABSI, Dr. dr. Ekawahyu Kasih, S.H., M.M., M.H.Tjahjo Sasongko/Kompas.com Michael Bambang Hartono bersama Ketua Umum PB GABSI, Dr. dr. Ekawahyu Kasih, S.H., M.M., M.H.

"Sampai di tingkat OCA pun,  ketua OCA asal  Kuwait, Ahmad Al-Fahad Al-Sabah memiliki  anggapan bahwa  bridge adalah satu bentuk judi juga ada.  Mereka baru bisa menerima setelah dijelaskan bahwa pemain kelas dunia justru berasal dari negara Islam seperti Pakistan, Mesir dan Bangladesh," katanya.

"Perlu lobi yang lama untuk meyakinkan bahwa itu adalah anggapan yang salah sehingga bridge bisa dipertandingkan di Asian Games 2018 di Indonesia ini," katanya. "Bagi saya ini langkah awal untuk mewujudkan impian besar saya melihat bridge dipertandingkan di Olimpiade. Kita perlu dua ajang Asian Games lagi sebagai syarat bridge untuk masuk Olimpiade," katanya.

Sebagai atlet, Bambang menjaga kondisi dengan sangat disiplin. "Untuk menjaga kemampuan berpikir dan analisa, saya mendisplinkan diri dengan  selalu membaca 5 judul buku dalam satu pekan. Kalau dirinci lagi, saya mendisiplinkan diri membaca 200 halaman dalam waktu 3 jam setiap hari. Any kind of book, buku apa saja," lanjutnya.

Pada Asian Games 2018 ini, Bambang yang merupakan atket tertua akan turun di nomor super mixed team bersama atlet senior lainnya Bert Polii, mengejar target dua medali emas. "Saya akan bergabung bersama para atlet di perkampungan atlet. Apalagi kami punya ritual bahwa setiap pagi para pemain dan ofisial berkumpul di kamar saya untuk melakukan persiapan dengan terutama melakukan doa bersama," kata Bambang.

Sebagai seorang pengusaha terkaya di Indonesia,  Michael Bambang Hartono mengaku menghargai bila pemerintah akan memberi bonus Rp 1.5 milyar kepada peraih medali emas. "Kalau saya mendapatkan bonus dari pemerintah, uang tentu akan saya manfaatkan buat pembinaan olahraga bridge. Biar kami memiliki regenerasi," katanya.


Komentar
Close Ads X