Zohri Banjir Sanjungan, Bagaimana Efek Psikologisnya?

Kompas.com - 13/07/2018, 17:04 WIB
Sprinter Indonesia, Lalu Muhammad Zohri (tengah) bersama dua atlet AS, Anthony Schwartz  dan Eric Harrison Sprinter Indonesia, Lalu Muhammad Zohri (tengah) bersama dua atlet AS, Anthony Schwartz dan Eric Harrison

JAKARTA, KOMPAS.com - Lalu Muhammad Zohri, pelari Indonesia yang menjadi juara dunia dalam Kejuaraan Dunia Atletik U-20 untuk nomor 100 meter putra mendapatkan sorotan dunia dan publik Tanah Air.

Ia mencatat sejarah sebagai pelari pertama Indonesia yang menjadi juara dunia.

Pujian dan sanjungan dilayangkan untuk Zohri. 

Besarnya perhatian publik membuat Ketua Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia ( PB PASI), Mohamad Hasan, mengingatkan agar kemenangan Zohri tidak dibesar-besarkan.

Ia khawatir akan muncul ketidaktenangan pada Lalu Muhammad Zohri.

Baca juga: TGB: Bonus Rp 200 Juta untuk Zohri

Apa efek psikologis bagi Zohri dengan berbagai pujian dan respons, dan bahkan bantuan yang demikian besar diterimanya?

Konselor Olahraga Dianita Luschinta mengatakan, tidak masalah memberikan pujian terhadap seseorang atas pencapaiannya. Akan tetapi, sebaiknya dilakukan secara wajar.

Prestasi yang telah diukir Zohri, kata dia, harus dijadikan motivasi untuk orang lain.

"Untuk menyanjung sih sewajarnya ya. Memuji atas torehan prestasi yang berhasil diukir Zohri, sekaligus memberikan dukungan agar dia dapat selalu menjadi lebih baik dan menginspirasi lebih banyak orang gitu. Jadi ya enggak memuji atau memperlakukan dia secara berlebihan dengan menjadikan dia bintang. Karena pujian yang berlebihan juga bisa jadi bumerang untuk Zohri sendiri nantinya," kata Shinta kepada Kompas.com, Jumat (13/7/2018).

Efek Star Syndrome

Shinta menilai, pemberitaan luas terkait Zohri juga bisa mengarah timbulnya efek sindroma bintang atau star syndrome.

Akibatnya, sang atlet kurang peduli terhadap faktor-faktor yang membuatnya bisa berprestasi.

"Seperti yang sudah-sudah, efeknya nanti bisa mengarah ke sindroma bintang, star syndrome. Dia merasa benar-benar sudah jadi bintang, di mana-dimana diperhatikan, dan akhirnya kurang peduli dengan faktor-faktor yang awalnya bikin dia bisa berprestasi seperti itu," kata Shinta.

Halaman:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya


Close Ads X