Kompas.com - 08/06/2018, 20:58 WIB

CISARUA, Kompas.com -  Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) cabang olahraga dirgantara Paralayang, yang untuk pertama kalinya dilombakan di Asian Games, semakin mematangkan persiapannya.

Bruce Goldsmith, Juara Dunia Lintas Alam Paralayang 2007, hadir di Gunung Mas, Puncak, Jawa Barat sejak 1-7 juni lalu. Ia melatih 18 pilot/atlit anggota Pelatnas yang disiapkan untuk Asian Games XVIII  2018, Agustus ini. Didahului kelas teori setiap pagi, pria asal Inggris itu ikut terbang bersama 10 putra dan 8 putri penerbang handal Indonesia, sekitar Cianjur dan Puncak.

“Cuaca memang mudah berubah di Puncak. Tapi lumayan, kita pernah terbang sejauh 25 kilometer. Mereka sudah bagus tekniknya, hanya kurang efisien terbangnya,” ujat produsen parasut merek BGD, Kamis (7/6).
          
Maksud mantan juara nasional Inggris itu, dalam nomor lintas alam (XC/Cross Country), pilot tak boleh membuat banyak gerakan yang tidak perlu saat terbang.  “Akibatnya parasut bisa hilang ketinggian dan terpaksa mendarat, padahal seluruh soal belum dikerjakan dan gagal mencapai garis finish. Dalam lomba lintas alam, itu jelas akan merugikan pilot,” jelasnya. Bagaimana peluang para pilot Merah Putih menjadi juara umum cabang Paralayang AG ’18 menurut mantan juara dunia olahraga udara Gantolle (Layang Gantung) era ‘90an itu?

“Sebagai tuanrumah, mereka wajib memaksimalkan penguasaan medan. Mereka harus lebih cerdik membaca tanda-tanda alam. Atlit jangan dibebani sasaran pencapaian medali emas. Biarkan mereka menikmati terbang,” serunya. Yang dimaksud Bruce dengan membaca tanda-tanda alam adalah saat terbang, jeli melihat arah gerakan pohon, daun jatuh atau riak air sungai. “Pilot yang baik harus bisa antisipasi perubahan arah angin secepat mungkin. Karena dalam Race To Goal, sepersekian detik sangat menetukan,” tegasnya.   
         
Dalam nomor Race To Goal (Lintas Alam Terbatas), setiap ronde para pilot akan diberikan soal berbeda. Mereka harus terbang di atas beberapa titik dalam waktu tercepat. Biasanya rutenya berbentuk segitiga, sesuai kondisi cuaca dan angin. Setiap hari, pilot hanya terbang satu ronde., mengingat waktu tempuh bisa mencapai 3-5 jam. Perangkat GPS (Global Positioning System) yang wajib dibawa setiap pilot, yang merekam jejak penerbangan, lalu diserahkan ke bagian kamar hitung untuk diunggah dan dibuat perhitungan nilai. Jumlah nilai tertinggi selama seluruh ronde yang menentukan juara.  
         
Saat Piala Asia Lintas Alam II tahun lalu di Puncak, sebagai ujicoba AG ’18, pilot mendapat soal terbang rute Puncak-Cianjur-Lido-Sentul-Puncak yang berjarak garis lurus sekitar 70 km. Jarak tempuh dalam soal berkisar 8,3 hingga 11,7 kilometer setiap ronde. Mengarah ke radius 17 km sekitar kawasan Danau Lido, Sukabumi, lalu radius 22 km di kawasan Sentul dan kembali ke kawasan perkebunan teh di Cisarua.
          
Parasut memadai dengan teknologi terkini, sangat mempengaruhi kemampuan pilot bermanuver untuk menambah kecepatan dan menjelajahi termal (udara panas yang bersumber dari awan). Keberhasilan mendapat termal sangat diperlukan guna mampu terbang tinggi dan sejauh mungkin demi mencapai seluruh titik dalam soal. Kegagalan pilot Indonesia meraih medali emas di Piala Asia II lebih disebabkan jenis parasut yang tertinggal jauh dengan pilot Korea Selatan, Jepang dan Cina. Bila tiga pesaing kuat Indonesia di nomor lintas alam itu memakai parasut produksi terbaru tahun lalu, para pilot Pelatnas masih memakai produksi 2014. Korea Selatan menyapu bersih medali emas seluruh kelas; Putri, Putra dan Beregu di Piala Asia II.
          
Menurut Wakil Sekjen II PB FASI, Kol. Pnb. Agung Sasongkojati, pihaknya sudah menerima dan menyerahkan pada Pelatnas, 18 buah parasut yang dibeli dari luar negeri Rabu lalu (6/6). Mereknya berbeda, sesuai dengan permintaan tiap pilot.

 Rika Wijayanti, kedua dari kiri, juara dunia Ketepatan Mendarat Paralayang 2017, meneruskan era kejayaan pilot putri Indonesia yang menjadi juara dunia berturutan sejak 2010 hingga 2014. Bersama anggota pelatnas Paralayang Asian Games XVIII 2018 lainnya, Milawti Sirin, paling kiri, juara dunia 2011, Ike Ayu Wulandari, juara ketiga dunia
2017 dan Lis Andriana, paling kanan, juara dunia 2012-2014. Saat
mengikuti seri TROI (Trip Of Indonesia), kejuaraan terbuka Ketepatan
Mendarat di Solo, Agustus lalu.Tagor Siagian/PB FASI Rika Wijayanti, kedua dari kiri, juara dunia Ketepatan Mendarat Paralayang 2017, meneruskan era kejayaan pilot putri Indonesia yang menjadi juara dunia berturutan sejak 2010 hingga 2014. Bersama anggota pelatnas Paralayang Asian Games XVIII 2018 lainnya, Milawti Sirin, paling kiri, juara dunia 2011, Ike Ayu Wulandari, juara ketiga dunia 2017 dan Lis Andriana, paling kanan, juara dunia 2012-2014. Saat mengikuti seri TROI (Trip Of Indonesia), kejuaraan terbuka Ketepatan Mendarat di Solo, Agustus lalu.

Hening “Digma” Paradigma, pilot putra pemegang rekor nasional lintas alam jarak terbuka (Open Distance XC) sejauh 109 km dari Wonogiri ke Pati, Jawa Tengah pada 2012, merasakan perubahan sangat berarti dalam teknik terbangnya setelah diasah Bruce.  “Tadinya aku ragu-ragu terbang kencang, maksimal 70 kilometer per jam. Bruce malah suruh saya tancap gas, 100 kilo juga ngga masalah. Yang penting terbang dengan cerdas, tahu kapan harus kencang dan siap mengurangi kecepatan bila harus berbelok dan berputar,” ujarnya. Digma juga merasa tambah percaya diri menghadapi AG ’18 berbekal kiat-kiat terbang dari Bruce, seperti bagaimana keluar tanpa panik bila tersedot awan.  
          
Ujian terakhir setelah penentuan 12 pilot (5 putri dan 7 putra) Tim Nasional (Timnas) sesuai batas waktu pendaftaran atlit peserta AG ’18 berdasarkan nama (Entry By Name) pada 30 Juni, adalah di ajang Seri III Piala Dunia Ketepatan Mendarat Paralayang (PGAWC/Para Gliding Accuracy World Cup) 2018 di Gunung Banyak, Batu, Malang, Jawa Timur, 13-15 Juli. Diperkirakan para calon peserta AG ’18 akan ramai-ramai hadir menjajal kemampuan bakal lawan mereka. Pada Seri PGAWC 2017, Indonesia memborong gelar Juara Dunia di ketiga kelas; Umum, Putri dan Beregu.

Rika Wijayanti, asal Batu, Malang berhasil mengembalikan pamor pilot putri Merah Putih yang sempat sangat disegani. Ia meneruskan jejak trio srikandi Ifa Kurniawati, Milawati Sirin dan Lis Andriana yang berturut-turut menjadi juara dunia pada 2010-2014. Lis, asal Kutai, Kalimantan Timur bahkan mencetak hattrick, menjadi juara dunia pada 2012-2014.
        
Pelatnas Paralayang Indonesia untuk Asian Games XVIII 2018:
Putri:
1.    Eka Nesti Wulansari (Jawa Tengah, 24 tahun)
2.    Ike Ayu Wulandari (Jawa Timur, 22)
3.    Rika Wijayanti (Jawa Timur, 23)
4.    Lis Andriana (Kalimantan Timur, 34)
5.    Dr. Milawati Sirin (Jawa Barat, 47)
6.    Nofrica Yanti (Sumatera Barat, 33)
7.    Rina Kusumaningrum (Sumatera Barat, 30)
8.    Tini Pertiwi (Jawa Tengah, 23)

Putra:
1.    Aris Afriansyah (Banten, 23)
2.    Hening Paradigma (Jawa Tengah, 31)
3.    Dr. Elisa Manueke (Jawa Tengah, 56)
4.    Ardi Kurniawan (Jawa Timur, 28)
5.    Thomas Widyananto (Jawa Tengah, 40)
6.    Roni Pratama (Jawa Timur, 21)
7.    Joni Efendi (Jawa Timur, 27)
8.    Jafro Megawanto (Jawa Timur, 21)
9.    Reza Christiyanto, S.Pi (Jawa Timur, 33)
10.    Indra Lesmana (DKI Jaya, 22) 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.