Rencana Tontowi Jika Liliyana Gantung Raket - Kompas.com

Rencana Tontowi Jika Liliyana Gantung Raket

Kompas.com - 05/01/2018, 22:46 WIB
Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir bersykur atas keberhasilan menjuarai French Open Super Series 2017, Minggu (29/10/2017).Dok PBSI Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir bersykur atas keberhasilan menjuarai French Open Super Series 2017, Minggu (29/10/2017).

JAKARTA, Kompas.com - Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, pasangan yang dibentuk oleh Kepala Pelatih Richard Mainaky  telah mengoleksi berbagai gelar bergengsi, puncaknya adalah emas olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Usai memenangkan gelar paling bergengsi di panggung bulutangkis internasional yaitu olimpiade, mereka masih haus gelar. Meskipun tak lagi muda, namun semangat Tontowi/Liliyana tak kunjung padam. Ditambah lagi soal cedera lutut yang sempat menghantui Liliyana di akhir 2016

Sepanjang tahun 2017, Tontowi/Liliyana memang lebih selektif memilih turnamen. Tiga gelar diraih pasangan rangking tiga dunia ini pada tahun 2017. Diawali dengan terwujudnya ambisi menjadi kampiun di kandang sendiri lewat gelar BCA Indonesia Open Super Series Premier 2017. Kemenangan ini terasa begitu manis bagi Tontowi/Liliyana yang sudah enam kali gagal menaklukkan kerasnya persaingan di Indonesia Open.

“Gelar di Indonesia Open paling berkesan buat kami di tahun ini, karena kami penasaran sekali mau jadi juara di rumah sendiri. Waktu itu kami berpikir kok belum bisa juara di Indonesia? padahal di event-event penting seperti kejuaraan dunia dan emas olimpiade sudah bisa kami dapatkan,” kata Liliyana.

“Yang kedua baru gelar juara dunia tahun 2017. Nggak menyangka bisa jadi juara dunia lagi. Sebelumnya saya sudah pernah jadi juara dunia tiga kali dan tahun 2017 saya bisa juara lagi,” beber Liliyana yang juga menjadi juara dunia bersama Tontowi pada tahun 2013. Sebelumnya, gelar juara dunia diraih Liliyana tahun 2005 dan 2007 saat berpasangan dengan Nova Widianto.

Senada dengan pasangannya, Tontowi pun mengatakan gelar BIOSSP 2017 menjadi gelar yang paling membekas di hatinya. “Rasanya luar biasa, bisa juara di depan publik sendiri dan akhirnya menang setelah beberapa kali mencoba. Kami pun mematahkan anggapan orang yang meragukan kalau kami bisa juara di kandang sendiri,” ujar Tontowi.

“Apalagi lihat lawan-lawan kami di BIOSSP memang banyak pemain-pemain muda yang sedang naik penampilannya,” katanya.

Tontowi/Liliyana mengaku cukup puas dengan capaian mereka di tahun 2017. Dua gelar penting yang memang dibidik mereka, berhasil diraih. Satu gelar lainnya juga direbut Tontowi/Liliyana di French Open Super Series 2017.

“Secara keseluruhan sih kami cukup puas dengan hasil di tahun 2017, pertandingan yang memang jadi target bisa kami menangkan. Untuk pemain kelas senior, sudah bisa dapat gelar penting seperti di olimpiade, All England, juara dunia, menurut saya sudah bagus ya,” ujar Liliyana.

“Kalau ditanya soal kekalahan paling menyedihkan di tahun 2017 sih nggak ada. Namanya kalah pasti ada rasa kecewa, tetapi untungnya di event-event penting kami bisa dapat gelar. Jadi kekalahan lain cukup terobati,” tambahnya.

“Alhamdulillah tidak ada kekecewaan di 2017, karena kami memang tidak menargetkan apa-apa selain Indonesia Open dan Kejuaraan Dunia. Semoga tidak ada kekecewaan lagi di 2018,” kata Tontowi. Ayah dari Danish Arsenio Ahmad ini kemudian bercerita mengenai kekecewaan terdalamnya saat kalah di Kejuaraan Dunia 2015 lalu.

“Kalau ditanya yang paling nyesek ya Kejuaraan Dunia 2015. Sudah mau menang, tetapi ternyata belum bisa menang,” sambungnya.

Ada satu gelar yang belum dikantongi Tontowi/Liliyana yaitu emas Asian Games. Kejuaraan ini menjadi fokus Tontowi/Liliyana di tahun depan, apalagi Indonesia akan menjadi tuan rumah pesta olahraga se Asia ini. Pada empat tahun lalu di Asian Games Incheon 2014, Tontowi/Liliyana mendapat medali perak. “Tahun 2018 ini saya mau juara lagi di All England dan dapat medali emas di Asian Games,” tutur Tontowi.

“Untuk tahun depan, lawannya itu-itu saja, paling beda partner. Kami mesti lebih siap lagi, pemain selevel kami harus lebih selektif dalam memilih turnamen. Agak mikir juga tahun depan ada 12 turnamen yang wajib diikuti, cukup berat buat kami. Kalau ikut saja sih bisa, tetapi bisa nggak hasilnya maksimal?” tutur Liliyana.

 Bukan tak mungkin Liliyana akan gantung raket usai 2018. Menanggapi hal ini, Tontowi mengatakan dirinya harus siap jika ditinggal partnernya tersebut. “Ya mau nggak mau harus siap kalau cik Butet pensiun, karena waktu itu pasti akan datang,” sebutnya.


EditorTjahjo Sasongko
Komentar

Close Ads X