Tak Ada Gelar Superseries, Bukti Dominasi Putri China Sudah Luntur - Kompas.com

Tak Ada Gelar Superseries, Bukti Dominasi Putri China Sudah Luntur

Kompas.com - 09/12/2017, 12:34 WIB
Pebulu tangkis tunggal putri China, He Bingjiao, merayakan kemenangan pada final Prancis Terbuka di Pierre de Coubertin stadium, Paris, 30 Oktober 2016.MIGUEL MEDINA/AFP Pebulu tangkis tunggal putri China, He Bingjiao, merayakan kemenangan pada final Prancis Terbuka di Pierre de Coubertin stadium, Paris, 30 Oktober 2016.

KOMPAS.com - China dan dominasinya pada olahraga bulu tangkis sudah menjadi rahasia umum. Setiap tahun, negara yang dikenal dengan julukan Negeri Tirai Bambu ini seolah tak jemu menghadirkan pemain-pemain bulu tangkis yang memiliki potensi dan bakat luar biasa.

Khusus di sektor tunggal putri, China mampu menorehkan dominasi yang kuat terhitung sejak 2010. Dikutip BolaSport.com dari BWF World Superseries, pada tahun tersebut, terlepas dari kehadiran pemain seperti Saina Nehwal (India), Tine Baun (Denmark), Juliana Schenk (Jerman) dan Sung Ji-hyun (Korea Selatan), China berhasil memenangkan delapan gelar Superseries (tidak termasuk Superseries Finals).

Setahun kemudian, sektor tunggal putri China melakukan hal yang lebih baik lagi. Mereka memenangi 11 superseries, sedangkan satu gelar yang tersisa disabet oleh tunggal putri Thailand, Porntip Buranaprasertsuk, dalam ajang India Terbuka Superseries 2011.

(Baca Juga: Pemain Seperti Lee Chong Wei dan Lin Dan akan Keteteran Jika Mengikuti Aturan BWF Terbaru Ini)

Dominasi berlanjut hingga 2012, dengan Li Xuerui mencapai puncak bahkan pada awal kariernya. China berhasil memboyong tujuh gelar Superseries pada 2012 dan 2013.

Tahun selanjutnya, China masih terus menajamkan dominasinya dalam persaingan yang bahkan semakin ketat karena kehadiran Saina Nehwal (India), Ratchanok Intanon (Thailand), Tai Tzu Ying (Taiwan), hingga Carolina Marin (Spanyol). China membawa pulang sembilan gelar superseries pada tahun 2014.

Dominasi China mulai nampak luntur memasuki tahun 2015 di mana Marin, Nozomi Okuhara (Jepang), Akane Yamaguchi (Jepang), hingga Pusarla V Sindhu (India) mulai menampakkan kualitas mereka. Pada tahun 2015, China harus puas hanya menorehkan tiga gelar superseries.

(Baca Juga: Musuh Bebuyutan Marcus/Kevin Ternyata Pemegang Gelar Ganda Putra Terbanyak pada BWF Superseries Finals)

Satu tahun berikutnya, tren mengendornya dominasi China di sektor tunggal putri semakin kentara. China diperkirakan tidak akan memiliki gelar sama sekali dalam turnamen superseries seandainya He Bingjiao tidak memenangi Jepang Terbuka Superseries dan Perancis Terbuka Superseries 2016.

Tahun 2017 tampaknya menjadi prestasi terburuk dalam sejarah tunggal putri China karena hingga pengujung musim, mereka hanya bisa gigit jari. Dominasi yang mulai kendor pada tahun sebelumnya, berujung nirgelar. Untuk pertama kalinya China tidak memiliki satu gelar pun dari sektor tunggal putri pada keseluruhan (12) turnamen superseries.

Dengan demikian, China hanya memiliki satu kesempatan terakhir untuk memperoleh gelar dari turnamen bergengsi musim ini yakni BWF World Superseries Finals 2017. Turnamen tersebut akan digelar di Dubai Uni Emirat Arab, 13-17 Desember 2017 di mana He Bingjiao dan Chen Yufei jadi andalan untuk menghapus mimpi buruk tersebut.


EditorAloysius Gonsaga AE
SumberBolaSport
Komentar

Close Ads X