Kompas.com - 02/12/2017, 13:56 WIB
|
EditorDimas Wahyu

KOMPAS.com - Hidup dengan satu tangan bukanlah halangan untuk tidak berprestasi dalam dunia olahraga. Setidaknya hal itu dibuktikan Guntur dalam ajang ASEAN Para Games (APG), Kuala Lumpur, Malaysia 2017.

Pada gelaran pesta olahraga untuk atlet difabel atau berkebutuhan khusus antarnegara se-Asia Tenggara itu, Guntur yang harus kehilangan tangan kirinya ini berhasil menyabet 3 emas pada cabang olahraga renang.

Lebih hebatnya lagi, pria kelahiran Balikpapan, Kalimantan Timur, ini berhasil memecahkan 2 rekor pada ajang tersebut.

Guntur yang bertanding pada nomor 100 meter gaya dada SB8 berhasil mencatat waktu 1 menit 20,53 detik. Raihan ini lebih baik dari rekor APG 2015 Singapura, yakni 1 menit 22,10 detik yang juga dicatat atas namanya.

Adapun satu rekor lagi dia ciptakan pada nomor 50 meter gaya dada SB8 putra setelah menorehkan catatan waktu 36,78 detik. Angka itu lebih cepat dari capaian Nguyen Quang Vuong (Myanmar) pada 2011, yaitu 37,33 detik.

"Ini mahakarya Tuhan. Saya mungkin tak berada di sini jika kondisi fisik saya utuh," kata Guntur, seperti dimuat bolasport.com pada Selasa (19/9/2017).

Semua prestasi itu butuh kepercayaan diri, kerja keras, dan dukungan semua pihak yang membuat Guntur bisa seperti sekarang ini.

Terlebih lagi jika mengingat-ingat kejadian ketika ia harus kehilangan tangan kirinya 17 tahun silam atau tahun 2000. Saat itu, tangan kiri Guntur terkena kipas mesin kapal ketika sedang melaut bersama orangtuanya untuk mencari ikan.

"Saat mengetahui itu, seketika dunia serasa gelap, seolah kekurangan pada diri saya memupus segala harapan masa depan saya," kata pria berusia 34 tahun ini seperti termuat dalam Kemenpora.go.id, Kamis (21/9/2017).

Beruntung, kata dia, kedua orangtua, keluarga, dan kawan-kawannya tetap memberi semangat, terutama sahabatnya, Lamri, yang mengenalkan pada dunia paralimpiade, yaitu pertandingan olahraga dengan berbagai nomor untuk atlet difabel atau yang mengalami keterbatasan fisik dan mental.

Gntur, atlet renang difabel Gntur, atlet renang difabel

Alhasil dunia renang yang ditekuninya sejak berusia 18 tahun membuka jalan Guntur untuk menjadi atlet difabel. Anak ketiga dari 7 bersaudara pasangan Haji Santer dan Hajah Suwarni ini akhirnya tampil di pekan paralimpiade nasional pada 2008 silam.

Kemampuan renang Guntur tidak berkurang meski dia hanya mengandalkan ayunan tangan kanannya. Malah dengan satu tangan, pria yang bercita-cita menjadi pengusaha ini merasa bisa berenang lebih cepat dari sebelumnya kala memiliki dua tangan.

"Saya awalnya juga tidak percaya, kok dengan tangan satu malah saya lebih cepat berenang. Inilah yang membuat saya termotivasi untuk terus latihan, menunjukkan kepada semua orang bahwa dengan kekurangan juga bisa berprestasi, bisa menembus keberhasilan," ujarnya seperti dimuat Kompas.com, Rabu (20/9/2017).

Nah, selain Guntur, ada banyak atlet difabel nasional yang berhasil menggoreskan rekor baru pada APG 2017. Total ada 36 rekor baru dari tiga cabang olahraga, yakni angkat besi, renang, dan atletik yang berhasil diperbarui.

Sama seperti Guntur, beberapa atlet bahkan berhasil memecahkan lebih dari satu rekor. Mereka adalah Marinus Melianus Yowei dengan 3 rekor, Jendi Pangabean (2), Muhammad Samsi (2), Muhammad Bejita (2), Laura Aurelia Dinda (2). Lima orang ini juga atlet renang seperti halnya Guntur.

Adapun satu nama lagi dari cabang angkat besi putri, yakni Ni Nengah Widiashi. Perempuan asal Bali ini berhasil memecahkan dua rekor pada nomor 45 kilogram (kg) dan 86 kg.

Atlet difabel nasional, Ni Nengah Widiashi, saat acara pelepasan atlet Indonesia yang akan tampil di ajang Paralympic Games 2016 Rio de Janeiro, di Lor In Hotel, Solo, Jawa Tengah, Jumat (2/9/2016) Atlet difabel nasional, Ni Nengah Widiashi, saat acara pelepasan atlet Indonesia yang akan tampil di ajang Paralympic Games 2016 Rio de Janeiro, di Lor In Hotel, Solo, Jawa Tengah, Jumat (2/9/2016)

Dengan capaian itu, maka tak heran kalau kontingan Indonesia berhasil keluar sebagai juara umum APG 2017 dengan raihan 126 medali emas, 75 perak, dan 50 perunggu. Tim Indonesia mengungguli Malaysia di ranking kedua dengan perolehan 90 emas, 85 perak, dan 83.

Hadapi Asian Para Games 2018

Capaian positif tersebut kemudian menjadi modal berharga bagi Indonesia untuk menghadapi Asian Para Games 2018. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi bahkan yakin, para atlet difabel nasional akan sukses di gelaran yang akan berlangsung pada 6-13 Oktober 2018 tersebut.

"Para atlet akan bersiap menyongsong sukses berikutnya, yakni di Asian Para Games 2018. Menyiapkan diri kembali mengibarkan Merah Putih di Asian Para Games di Jakarta,” ujar Imam Nahrawi dalam artikel Kompas, Senin (25/9/2017).

Optimisme serupa juga dilontarkan Ketua Umum Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia Senny Marbun. Dia yakin, pada Asian Para Games 2018 nanti, pencapaian kontingan Indonesia akan lebih baik dari Asian Para Games 2014 di Incheon, Korea Selatan.

Kata dia, posisi Indonesia sebagai tuan rumah memberikan keuntungan dan semangat tersendiri bagi para atlet difabel.

”Harapannya, naik dari posisi kesembilan ke kedelapan atau ketujuh,” ucap dia.

Pada Asian Para Games di Incheon, tim dari Indonesia berhasil mendapatkan 39 medali dari emas (9), perak (11), dan perunggu (18).

Indikasi bila atlet difabel nasional bisa bersaing pada level Asia sebenarnya bisa terlihat dari kemampuan mereka di APG 2017. Pelatih atletik difabel Abdul Aziz kemudian mencontohkan kalau raihan atlet difabel nasional pada cabang atletik sudah mendekati rekor Asian Para Games sebelumnya.

Atlet lari difabel, Nur Ferry Pradana, berpose dengan medali emas yang diraihnya dari nomor lari 400 meter T47 putra ASEAN Para Games di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (19/9/2017).INASGOC Atlet lari difabel, Nur Ferry Pradana, berpose dengan medali emas yang diraihnya dari nomor lari 400 meter T47 putra ASEAN Para Games di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (19/9/2017).

Dia pun memprediksi salah satu pelari cepat, yakni Nur Feri Pradana (21), mampu bersaing di nomor 100 meter (m) dan 400 m pada Asian Para Games 2018. Nur Feri saat itu berhasil mendapat empat emas.

Nur Feri Pradana sendiri mengatakan siap berlatih lebih keras untuk memperbaiki catatan waktunya. Di nomor 400 m ASEAN Para Games, Ferry membukukan waktu 50,49 detik, sementara di nomor 100 m 11,14 detik.

Supaya bisa bersaing dalam Asian Para Games 2018, dia pun harus mempertajam catatan waktunya menjadi 49 detik pada nomor 400 m dan 10 detik pada nomor 100 m. ”Saya harus mendekati itu,” kata Ferry.

 
Pilihan Untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Daftar Pebalap Q2 MotoGP Thailand 2022: Tanpa Marquez, Ducati Terbanyak

Daftar Pebalap Q2 MotoGP Thailand 2022: Tanpa Marquez, Ducati Terbanyak

Motogp
6 Fakta Menarik Jelang Borneo FC Vs Madura United

6 Fakta Menarik Jelang Borneo FC Vs Madura United

Liga Indonesia
Man City Vs Man United, Potensi Erling Haaland Ukir Rekor Baru

Man City Vs Man United, Potensi Erling Haaland Ukir Rekor Baru

Liga Inggris
Kilas Balik Piala Dunia 1966: 'Gol Hantu' Geoff Hurst Bantu Inggris Juara

Kilas Balik Piala Dunia 1966: "Gol Hantu" Geoff Hurst Bantu Inggris Juara

Sports
Hasil FP3 MotoGP Thailand: Raul Fernandez Sakit Perut, Jorge Martin Tercepat

Hasil FP3 MotoGP Thailand: Raul Fernandez Sakit Perut, Jorge Martin Tercepat

Motogp
Arema FC Vs Persebaya: Aji Santoso 'Cuci Otak' Pasukan Bajul Ijo

Arema FC Vs Persebaya: Aji Santoso "Cuci Otak" Pasukan Bajul Ijo

Liga Indonesia
Man City Vs Man United: Derbi Manchester Menuntut Kesempurnaan, Jangan Malas...

Man City Vs Man United: Derbi Manchester Menuntut Kesempurnaan, Jangan Malas...

Liga Inggris
Man City Vs Man United: Hadapi Haaland, Lisandro Martinez Perlu Hindari Satu Hal

Man City Vs Man United: Hadapi Haaland, Lisandro Martinez Perlu Hindari Satu Hal

Liga Inggris
Kualifikasi Piala Asia U17: Indonesia Dihormati, Lawan Dituntut Kerja Keras

Kualifikasi Piala Asia U17: Indonesia Dihormati, Lawan Dituntut Kerja Keras

Liga Indonesia
Arema FC Vs Persebaya, Evan Dimas dan Rizky Ridho Siap Saling Jegal demi 3 Poin

Arema FC Vs Persebaya, Evan Dimas dan Rizky Ridho Siap Saling Jegal demi 3 Poin

Liga Indonesia
PSSI Pers Gelar Turnamen Sepak Bola

PSSI Pers Gelar Turnamen Sepak Bola

Liga Indonesia
Kondisi Skuad Jelang Man City Vs Man United: Maguire Absen, 2 Pemain Diragukan

Kondisi Skuad Jelang Man City Vs Man United: Maguire Absen, 2 Pemain Diragukan

Liga Inggris
Kualifikasi Piala Asia U17 2023: Lawan Indonesia di Pakansari, Malaysia Tak Ciut Nyali

Kualifikasi Piala Asia U17 2023: Lawan Indonesia di Pakansari, Malaysia Tak Ciut Nyali

Liga Indonesia
Arema FC Vs Persebaya - Dua Pelatih Adu Gengsi Bertaruh Rekor 23 Tahun Tak Terkalahkan

Arema FC Vs Persebaya - Dua Pelatih Adu Gengsi Bertaruh Rekor 23 Tahun Tak Terkalahkan

Liga Indonesia
Rekap Hasil Vietnam Open 2022: Indonesia Amankan Satu Tiket Final

Rekap Hasil Vietnam Open 2022: Indonesia Amankan Satu Tiket Final

Badminton
komentar di artikel lainnya
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.