Indonesia Gagal Jadi Juara Umum, Satlak Prima Dituntut Bubar

Kompas.com - 31/08/2017, 19:16 WIB
Bendera Merah Putih raksasa dibawa pendukung timnas U-22 Indonesia saat melawan Timor Leste pada laga ketiga Grup B SEA Games 2017 di Stadion MP Selayang, Selangor pada 20 Agustus 2017. FERI SETIAWAN/BOLASPORT.COMBendera Merah Putih raksasa dibawa pendukung timnas U-22 Indonesia saat melawan Timor Leste pada laga ketiga Grup B SEA Games 2017 di Stadion MP Selayang, Selangor pada 20 Agustus 2017.
|
EditorAloysius Gonsaga AE

KOMPAS.com - Hasil buruk kontingen Indonesia di SEA Games 2017 bukanlah kesalahan dari atlet atau pelatih. Kegagalan Indonesia menjadi juara umum akibat dari banyaknya kepentingan mendompleng olahraga nasional. 

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PB PTMSI) Lukman Edy. Dia menilai, apa yang terjadi di Kuala Lumpur, tak lepas dari tak becusnya Satlak Prima bekerja. 

"Bubarkan Satlak Prima atau desak untuk membubarkan dirinya, atau semua yang ada di sana mundur dengan penuh kesadaran. Intinya mereka orang-orang yang tidak kompeten dan korup. Bukan memfasilitasi prestasi malah membuat kacau prestasi atlet-atlet kita," kata Edy.  

Prestasi Indonesia di SEAG 2017 kali ini memang di luar ekspektasi. Awalnya, kontingen Merah Putih diharapkan bisa memperbaiki prestasi dua tahun lalu di Singapura yang ketika itu berada di posisi kelima dengan raihan 47 emas, 61 perak dan 74 perunggu.

Nyatanya, perjuangan atlet Indonesia di Kuala Lumpur tak jauh lebih baik. Dari posisi, tetap ada di peringkat kelima. Dari sisi perolehan medali, Indonesia hanya bisa meraup 38 emas, 63 perak dan 90 perunggu.

Edy meminta pemerintah melalui Menpora Imam Nahrawi agar bertindak cepat. Bukan hanya cepat, Edy juga meminta Menpora bertindak tegas dengan memecat pejabatnya yang berurusan dengan prestasi olahraga.

"Mereka juga bukan orang-orang yang kompeten, korup dan selalu menyusahkan atlet dan pengurus cabor," tutur Edy.

Menpora harus mempunyai garis yang tegas dengan siapa sebaiknya berkoordinasi soal prestasi olahraga.

"Hubungan antara Kemenpora dan KONI yang tidak harmonis akibat dari masukan orang sekitar Menpora yang tidak kompeten, jadi salah satu sebab buruknya koordinasi," sebut Edy. 

Dan berikut ini pernyataan terbuka Edy setelah mendapatkan masukan dari masing-masing ketua umum cabang olahraga:

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X