Bonus dan Hadiah Buat Atlet Junior

Kompas.com - 15/08/2017, 15:45 WIB
Dua pebulu tangkis muda usia, Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti mendapatkan penghargaan atas keberhasilan menjuarai Asian Junior Badminton Champiosnhip di Jakarta, Juli lalu.
Tjahjo Sasongko/Kompas.comDua pebulu tangkis muda usia, Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti mendapatkan penghargaan atas keberhasilan menjuarai Asian Junior Badminton Champiosnhip di Jakarta, Juli lalu.
|
EditorTjahjo Sasongko

JAKARTA, Kompas.com - Dua pebulu tangkis muda usia, Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti mendapatkan penghargaan atas keberhasilan menjuarai Asian Junior Badminton Champiosnhip di Jakarta, Juli lalu.

Rehan/Fadia menjadi juara setelah di final mengalahkan pasangan Korea, Sung Seung Na/Ah Yeong Seong dalam pertandingan rubber game 21-19, 19-21, 21-9.

Atas prestasi mereka, keduanya mendapat penghargaan dari Djarum Foundation berupa bonus sebesar Rp 60 juta serta televisi LED Polytron ukuran 43 inci yang diberikan di Jakarta, Selasa (15/08/2017).

Saat memberikan pengahrgaan, manajer Tim PB Djarum, Fung Permadi  menyebut alasan pemberian ini karena keberhasilan Rehan/Fadia seperti hujan yang menghapus paceklik gelar buat Indonesia di ajang kejuaraan yunior Asia. "Kami harap pemberian penghargaan ini akan melecut Rehan/fadia dan juga para adik-adik di bawah mereka untuk berprestasi lebih tinggi lagi,"  kata Fung.

Indonesia terakhir kali meraih gelar juara di kejuaraan junior Asia pada 2012 lalu saat  ganda putera Edi Subaktiar/Arya Maulana Aldiartama yang juga atlet PB Djarum menjadi juara di ganda putera.

Sementara di nomor ganda campuran, gelar juara terakhir buat Indonesia diraih oleh  pasangan Lukhi Apri Nugroho/Ririn Amelia pada 2011.

Rehan Naufal Kusharjanto merupakan putera sulung mantan pemain nasional, Tri Kusharjanto yang pernah meraih medali perak di Olimpiade Sydney 2000. Rehan mengaku sangat senang dengan keberhasilannya  meraih gelar juara. "Saya tak diturunkan di nomor beregu, dari awal hingga ketika Indoensia kalah di final melawan Korea.  Tapi saya tak mau putus asa. Bagi saya  kalau sudah di lapangan ya harus bermain baik," kata Rehan yang dilahirkan 28 Februari 2000.

Sementara buat  Fadia, keberhasilannya ini merupakan  bakti dari dirinya kepada kedua orangtuanya. "Saya selalu terharu kalau mengingat perjuangan ayah ibu saya hingga saya bisa masuk pelatnas Cipayung. Ayah selalu mengantar saya dengan sepeda motor ke tempat-tempat berlangsungnya turnamen," kata pemain kelahiran 16 November 2000 ini.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X