Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 06/04/2015, 13:18 WIB
EditorTjahjo Sasongko
SOFIA, KOMPAS.com — Floyd Mayweather Jr merupakan petinju tak terkalahkan dengan kekalahan terakhir yang dirasakannya saat masih menyandang status petinju amatir.

Adalah petinju Bulgaria, Serafim Todorov, yang mengalahkan Mayweather Jr di semifinal Olimpiade Atlanta 1996. Kekalahan ini sekaligus membuyarkan ambisi Mayweather untuk mempersembahkan medali emas buat negaranya.

Namun, Todorov saat itu bukan petinju sembarangan. Sudah berusia 27 tahun, ia dianggap sebagai salah satu petinju terbaik dan paling berpengalaman di arena olimpiade.

Hampir 20 tahun setelah peristiwa di olimpiade tersebut, Floyd Mayweather sudah berada di puncak kariernya. Ia merupakan petinju terbaik dengan rekor bertarung 47 kali menang tanpa kalah dan merupakan petinju dengan bayaran tertinggi sepanjang sejarah tinju.

Wartawan New York Times, Sam Borden, mengunjungi Todorov di Bulgaria dan menceritakan kisah hidup mantan juara tersebut.

Todorov masih menjalani kehidupan seperti saat ia aktif sebagai petinju. Ia mendapat pensiun 435 dollar AS (sekitar Rp 5,5 juta). Todorov dan istrinya kini menganggur setelah sempat bekerja sebagai karyawan pasar swalayan dan pabrik sosis.

Bersama istrinya, Todorov tinggal di lingkungan kumuh yang dikuasai mafia obat bius. Para pemimpin kelompok bawah tanah ini mencoba menawarkan pekerjaan kepada Todorov, tetapi mantan pahlawan nasional olahraga ini menolak.

Kepada Sam Borden, Todorov mengaku telah membuang kesempatan besar setelah mengalahkan Mayweather Jr 10-9 di semifinal olimpiade. Kemenangan ini sempat diprotes tim AS yang menganggap hakim asal Bulgaria, Emil Jetchev, telah berbuat tidak adil.

Setelah dinyatakan menang, Todorov didatangi dua orang yang menawarkan kontrak sebagai petinju profesional. Seorang di antaranya bahkan langsung menyodorkan pena kepadanya.

Namun, Todorov menolak mereka. "Tanpa pikir panjang, saya menolak," kata Todorov. "Saya langsung katakan tidak."

Ia kemudian melihat kedua orang tersebut mendatangi Mayweather dan berbicara dengan petinju AS tersebut. "Anda tahu apa yang kemudian terjadi? Kedua orang itu mendatangi Mayweather dan berbicara dalam bahasa Inggris."

Todorov mendapat kesempatan lagi untuk memperbaiki hidupnya. Pada 1997, ia mendapat tawaran pindah warga negara ke Turki menjelang kejuaraan dunia. Jika mampu meraih medali emas, ia akan mendapat bonus 1 juta dollar AS. Namun, kesepakatan tidak pernah terjadi.

Todorov menyesali apa yang terjadi pada masa lalu. "Anda tahu apa yang saya hadapi ketika pulang? Saya menemukan neraka di sini...."

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+