Kompas.com - 18/03/2015, 09:54 WIB
(Depan, kiri ke kanan) Nikita Kahn, Larry Ellison, John McEnroe, dan Bill Gates menyaksikan pertandingan antara petenis AS, Serena Williams, dan petenis Rumania, Monica Niculescu, pada babak kedua BNP Paribas Terbuka di Indian Wells, Jumat (13/3/2015). AFP/GETTY IMAGES/HARRY HOW(Depan, kiri ke kanan) Nikita Kahn, Larry Ellison, John McEnroe, dan Bill Gates menyaksikan pertandingan antara petenis AS, Serena Williams, dan petenis Rumania, Monica Niculescu, pada babak kedua BNP Paribas Terbuka di Indian Wells, Jumat (13/3/2015).
EditorPipit Puspita Rini
KOMPAS.com - Legenda tenis dunia, John McEnroe, tak pernah ragu untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Entah itu ketika dia masih aktif bermain, atau sekarang ketika sudah tidak bermain.

Saat menjadi komentator pertandingan pun, pria 56 tahun tersebut tak pernah ragu untuk memberikan ulasan yang mungkin tidak akan diucapkan oleh komentator lain.

Baru-baru ini, dalam sebuah wawancara dengan BBC, McEnroe kembali melancarkan ide yang mungkin tak akan pernah terlintas di benak siapa pun.

Menurut pemegang tujuh gelar Grand Slam Tersebut, Serena Williams seharusnya mencalonkan diri sebagai presiden Amerika Serikat, dengan dia sebagai wakilnya, tentu saja.

"Saya pernah berpikir bahwa seorang wanita akan menjadi presiden (AS) sebelum pria berkulit hitam," kata McEnroe. Pikiran tersebut tentu saja tidak akan bisa terwujud karena faktanya AS kini memiliki presiden seorang pria berkulit hitam, Barrack Obama.

"Mungkin sekarang kita butuh seorang wanita berkulit hitam (untuk jadi presiden), mungkin kita minta Serena untuk mencalonkan diri," lanjutnya.

Soal mengajukan Serena menjadi presiden AS bukanlah satu-satunya ide yang ada di kepala McEnroe. Pria yang tergabung di ATP's Legends Advisory Board atau badan yang salah satu tugasnya adalah mencari ide pengembangan untuk meningkatkan kualitas tenis pada masa mendatang tersebut punya banyak pemikiran seputar tenis.

Salah satunya adalah soal tiebreak di turnamen Grand Slam. AS Terbuka merupakan satu-satunya dari empat turnamen Grand Slam yang memberlakukan tiebreak pada set terakhir.

Australia Terbuka, Roland Garros, dan Wimbledon, masih bertahan dengan sistem tanpa tiebreak pada set terakhir. Menurut McEnroe, ketiga turnamen tersebut seharusnya sudah mengikuti AS Terbuka.

McEnroe mengambil contoh pertandingan atntara John Isner dan Nicolas Mahut pada Wimbledon 2010. Isner memenangi pertandingan setelah unggul 70-68 pada set terakhir atau kelima.

"Menurut saya, sekarang waktu yang tepat untuk mengubah peraturan. Jangan pernah lagi, selama olahraga ini masih bernama tenis, mengharuskan dua pemain menjalani laga seperti itu lagi," kata McEnroe.

Boris Becker, Mats Wilander, Lleyton Hewitt, dan Carlos Moya merupakan anggota lain dari Legends Advisory Board.



Sumber BBC Sport
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X