Kekalahan Paling Menyakitkan Rudy Hartono (1) - Kompas.com

Kekalahan Paling Menyakitkan Rudy Hartono (1)

Kompas.com - 15/10/2014, 15:07 WIB
Rudy Hartono semasa jaya sebagai pemain

JAKARTA, KOMPAS.com — Legenda bulu tangkis, Rudy Hartono Kurniawan, mengatakan, kekalahan di nomor beregu biasanya lebih terasa pahit dibandingkan di nomor perseorangan.

Sebagai pemain dengan rentang karier internasional yang panjang (antara 1967-1982), kekalahan Rudy mungkin dapat dihitung dengan jari. Padahal, antara kurun tersebut, Rudy mendulang gelar juara yang tak terhitung, seperti All England (1968-1974 dan 1976), juara dunia 1972 dan 1980, serta turnamen-turnamen individual lainnya.

Bagi Rudy, yang kelahiran 1949 ini, kekalahan dirinya menjadi santapan yang menyenangkan untuk media Indonesia. Makanya, ketika Rudy gagal meraih gelar juara kedelapan berturut-turut di turnamen All England 1975, majalah Tempo menjadikannya sebagai isu utama.

Bagi Rudy, yang kini merupakan Ketua Umum PB Jaya Raya Jakarta, ia sebenarnya justru lebih khawatir dengan kekalahan di nomor beregu, seperti Piala Thomas ataupun di Asian Games. "Bila bermain di nomor beregu, kekalahan kita akan memengaruhi hasil akhir pertandingan. Usaha teman kita bisa jadi sia-sia karena kekalahan kita."

Menurut Rudy, ada dua kakalahan di Piala Thomas yang dialaminya yang membekas, meski dengan tingkat kesedihan berbeda. Pertama, saat ia dikalahkan pemain Denmark, Svend Pri, di final Piala Thomas di Jakarta pada 1973.

Saat itu, Rudy memang merupakan pemain nomor satu dunia dengan dibayangi oleh Svend Pri. Tim Piala Thomas Indonesia saat itu turun dengan kekuatan penuh, seperti ganda Tjuntjun/Johan Wahyudi dan Christian/Ade Chandra serta pemain tunggal lainnya, Mulyadi. Sementara itu, Denmark turun dengan kekuatan pemain tua, seperti Tom Bacher dan Henning Borch, serta Svend Pri.

Pri, yang memang suka melemparkan perang urat saraf, menyebut dirinya tidak berharap merebut Piala Thomas, tetapi ingin mengalahkan Rudy Hartono di hadapan publiknya di Istora Senayan. Ia membuktikan hal tersebut dengan menang rubber game atas Rudy, 15-12, 5-15, 17-15.

"Kekalahan itu bagi saya pribadi memang menyesakkan. Namun, saya berusaha melihat segi positif bahwa itu pertandingan beregu dan pada akhirnya tim kita kan menang 8-1," kata Rudy.

Kekalahan lebih menyesakkan justru terjadi di ujung karier Rudy pada final Piala Thomas di Wembley, London, 1982. Pada hari pertama, tim Indonesia unggul 3-1 saat Rudy turun di partai kelima menghadapi pemain Tiongkok, Luan Jin. Rudy yang telah berusia 33 tahun dan sebenarnya sudah "setengah pensiun" kalah rubber game  9-15, 15-1, 9-15.

"Memang itu antiklimaks karena kekalahan saya ternyata kemudian diikuti kekalahan para pemain lain, termasuk (Liem Swie) King, yang dikalahkan Han Jian dan Kartono/Heryanto, yang juga kalah," kata Rudy. Indonesia kalah 4-5 dan harus kehilangan Piala Thomas.

Rudy mengakui, sehebat apa pun seorang pemain, ia harus merasakan atmosfer bermain di nomor beregu. "Di sinilah terlihat ego atau karisma seorang pemain terhadap rekan-rekan setimnya. Apakah ia berniat dan mampu untuk mengangkat moral teman-temannya untuk memenangi pertandingan atau tidak," kata Rudy.

Dengan alasan inilah, Rudy bersama klubnya, PB Jaya Raya, menyelenggarakan Pembangunan Jaya Cup yang sudah berjalan selama empat tahun. Kali ini, Pembangunan Jaya Cup IV berlangsung pada 15-18 Oktober di gedung bulu tangkis Asia Afrika. "Siapa yang tidak ingin melihat kembali Piala Thomas atau Uber kembali ke Indonesia? Kita harus tetap tanamkan ini walau harus menunggu 10, 20, atau 50 tahun lagi...," kata Rudy.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorTjahjo Sasongko

Close Ads X