Park Joo-bong Kritik Pelaksanaan Undian Perempat Final Piala Thomas dan Uber

Kompas.com - 23/05/2014, 14:09 WIB
Pebulu tangkis tunggal Jepang, Kenichi Tago, berusaha mengembalikan kok ke arah pemain Inggris, Rajiv Quseph, pada penyisihan Grup B Piala Thomas di Siri Fort Stadium, New Delhi, Minggu (18/5/2014). AFP PHOTO/SAJJAD HUSSAIN Pebulu tangkis tunggal Jepang, Kenichi Tago, berusaha mengembalikan kok ke arah pemain Inggris, Rajiv Quseph, pada penyisihan Grup B Piala Thomas di Siri Fort Stadium, New Delhi, Minggu (18/5/2014).
|
EditorPipit Puspita Rini
NEW DELHI, KOMPAS.com - Pelatih nasional Jepang Park Joo-bong mengkritik pelaksanaan undian perempat final Piala Thomas dan Uber 2014, yang dilakukan Rabu (21/5/2014) tengah malam. Undian tersebut dilakukan setelah seluruh pertandingan babak penyisihan selesai.

Pada hari itu, Tim Thomas Jepang dan Denmark bermain sampai larut untuk penentuan juara Grup B. Pertandingan yang dimulai pada pukul 19.00 waktu India tersebut berlangsung sengit dan baru berakhir pukul 23.16, dengan hasil 3-2 untuk kemenangan Jepang.

Setelah menjalani pertandingan hingga tengah malam tersebut, besoknya Jepang harus bertemu Perancis di perempat final pada siang hari. Jepang lolos ke semifinal dengan keungulan 3-1.

Park menilai Badminton World Federation (BWF) sebagai badan tertinggi bulu tangkis dunia seharusnya membuat jadwal pertandingan yang lebih baik.

"Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, partai (penyisihan) terakhir antara Tim Thomas Jepang dan Denmark masih berlangsung dan undian baru dilakukan setelah itu selesai," kata Park. "Saya tidak senang dengan hal ini. Menurut saya, keadaan akan lebih baik jika tim diberi waktu istirahat sehari sebelum babak perempat final dan undian dapat dilakukan tanpa masalah."

"Tidak adil bagi tim mana pun yang bermain hingga larut malam lalu harus kembali bermain lagi pada pagi (atau siang) hari untuk perempat final," tambahnya.

Park juga mengkritik ruangan tempat undian berlangsung. Menurutnya, ruangan tersebut tidak kondusif. "Panitia harus tahu ini. Mereka harus menyediakan ruangan yang lebih baik untuk pengundian. Begitu banyak orang di ruangan kecil itu. Bahkan kami, para pelatih, tak tahu apa yang sedang terjadi di depan," katanya.

Kritik Park terhadap BWF tak berhenti sampai di situ. Wacana perubahan sistem poin pun tak luput dari pengamatannya. "Beberapa pertandingan memang bisa berjalan sangat lama, tetapi saya tanya, apakah ini juga adil untuk para pemain yang telah berlatih enam jam sehari hanya bermain 20-25 menit?"

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X