Agar Bulu Tangkis Tidak Tergerus Zaman

Kompas.com - 20/02/2014, 07:59 WIB
Acara MILO Ayo Olah Raga di GOR Jakabaring, Palembang, 17-19 Februari MILOAcara MILO Ayo Olah Raga di GOR Jakabaring, Palembang, 17-19 Februari
|
EditorTjahjo Sasongko
PALEMBANG, KOMPAS.com — Bila tidak segera ditangani, bulu tangkis Indonesia dikhawatirkan akan menjadi bagian dari kejayaan masa lalu.

Secara global, popularitas bulu tangkis memang merosot. Di Asia, permainan ini sudah semakin tergeser dengan cabang olahraga atau permainan baru seperti futsal atau basket 3 on 3.

Sementara untuk tingkat pertandingan, eksistensi bulu tangkis di Olimpiade mulai digugat. Alasan yang digunakan mulai dari adanya dominasi satu negara atau satu benua hingga tidak mampu menarik siaran televisi dan iklan. Di Olimpiade London 2012 lalu, China memborong lima medali emas yang dperebutkan di cabang bulu tangkis.

Turunnya popularitas bulu tangkis—untuk Indonesia—berdampak dengan semakin sulitnya mendapatakan bibit untuk pembinaan. Anak-anak dari tingkat sekolah dasar semakin banyak langsung menetapkan futsal sebagai olahraga utama mereka.

Kondisi ini disadari penuh oleh Badminton World Federation (BWF) selaku badan tertinggi bulu tangkis. Sejak 2012, BWF meluncurkan "Shuttle Time", suatu program untuk membantu pelatih dan guru olahraga untuk mengajarkan teknik-teknik dasar bermain bulu tangkis buat para anak didik berusia di bawah 10 tahun.

Salah satu pelatih asal Indonesia yang ikut dalam program awal "Shuttle Time" ini adalah Eddy Prayitno. Ia ikut dalam pelatihan awal program ini bersama FX Sugiyanto. Eddy yang kini menjabat sebagai Kasubid Pengembangan Komunitas Pengurus Pusat PBSI ini sekarang rajin "menyebarkan" virus kekhakwatiran akan punahnya bulu tangkis serta perlunya pembinaan usia dini.

"BWF menyadari popularitas bulu tangkis di dunia kini memang sudah sangat terancam. Kemerosotan popularitas olahraga ini akan berisiko dicoretnya bulu tangkis dari penyelanggaraan Olimpiade setelah 2020," kata Eddy saat memberi pelatihan di acara MILO Ayo Olah Raga di Palembang, 17-19 Februari ini.

Menyadari negara-negara Asia merupakan akar terkuat bulu tangkis, BWF kemudian mencoba menerapkan program "Shuttle Time" di 20 negara Asia, seperti Laos, Arab Saudi, dan lain-lain. Sementara Indonesia, sebagai negara dengan tradisi bulu tangkis terkuat, kemudian dianggap sebagai proyek percontohan buat negara-negara tersebut.

"Program Shuttle Time ini cocok sekali dengan program pralevel yang telah dimiliki PBSI. Keberadaan bulu tangkis di Indonesia, seperti juga di negara-negara Asia lainnya, sangat terancam dengan berkembangnya olahraga futsal sepuluh tahun belakangan," kata Eddy. "Jika dituruti, semua anak sekolah inginnya bermain atau menjadi atlet futsal. Lebih mudah, murah, dan fun," lanjutnya.

Menyadari sulitnya penerapan program ini, PBSI bekerja sama dengan MILO menjalankan program MILO Ayo Olah Raga di empat kota: Cirebon, Yogyakarta, Surabaya, dan Palembang.  Dalam program ini, untuk setiap sesi selama tiga hari, sekitar 30 guru olahraga sekolah dasar dikumpulkan dan diberi pengetahuan tentang teknik-teknik dasar bermain bulu tangkis.

Tjahjo Sasongko/Kompas.com Suasana pelatihan Program

Eddy Prayitno sendiri memmberi tutorial di GOR Jakabaring Palembang. Selama dua hari, ia memberi materi berupa  pengetahuan dasar bulu tangkis serta praktik di lapangan. "Kalau teknik memukul ataupun langkah dalam bulu tangkis dapat dipelajari semua orang. Namun,  kemampuan menyampaikan hal tersebut kepada anak-anak usia di bawah 10 tahun tentunya dimiliki oleh para guru sekolah dasar ini," kata Eddy.

Untuk menyampaikan pengajaran bulu tangkis secara mudah dan menyenangkan, para guru  tersebut mendapat bantuan berupa alat-alat bulu tangkis dan modul pengajaran yang aplikatif. "Untuk menarik minat para anak-anak, kita menggunakan alat bantu seperti balon dan—tentu saja—raket dan shuttle cock," lanjut Eddy.

Karena itulah, selama tiga hari, para peserta MILO Ayo Olah Raga di GOR Jakabaring, Palembang, mempresentasikan kemampuan mengajar mereka untuk "menjual" olahraga bulu tangkis kepada anak-anak murid mereka.  "Tujuan jangka pendek adalah guru-guru ini mampu menjaring murid yang berminat untuk dalam ekstrakurikuler bulu tangkis." lanjut Eddy yang didampingi Rahmat, pelatih bulu tangkis dari Medan, serta Donny Wahyudi dari MILO.

Idealnya, bila setiap sekolah dapat "menyumbangkan" 5-10 murid peminat bulu tangkis, di tingkat provinsi jumlah ini akan menjadi beratus kali lipat. "Kita mencoba menyelamatkan bulu tangkis secara menyeluruh. Di tingkat internasional, kita harus bersaing di tingkat prestasi dengan negara-negara lain. Tetapi secara basic, secara internal, kita harus prioritaskan bahwa popularitas olahraga ini semakin turun dan perlu suatu terobosan untuk mencegahnya makin dilupakan," kata Eddy.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X