Lee Chong Wei: Seharusnya Video Rekaman Ulang Ditampilkan di Layar Besar

Kompas.com - 17/12/2013, 11:31 WIB
Pebulu tangkis Malaysia, Lee Chong Wei jatuh setelah mengembalikan kok dari Tommy Sugiarto pada laga final tuanggal putra BWF World Superseries Finals di Kuala Lumpur, Minggu (15/12/2013). Lee menang 21-10 21-12. AFP PHOTO/MOHD RASFANPebulu tangkis Malaysia, Lee Chong Wei jatuh setelah mengembalikan kok dari Tommy Sugiarto pada laga final tuanggal putra BWF World Superseries Finals di Kuala Lumpur, Minggu (15/12/2013). Lee menang 21-10 21-12.
Penulis Norma Gesita
|
EditorPipit Puspita Rini
PETALING JAYA, KOMPAS.com — Setelah penyelenggaraan BWF Superseries Finals berakhir, instant review system (hawk eye) menjadi topik paling hangat untuk diperbincangkan.Teknologi yang digunakan untuk melihat letak jatuhnya kok ke lapangan tersebut dinilai cukup berhasil. 
 
Penggunaan teknologi dengan kamera ultra-gerak lambat tersebut pertama kali digunakan di olahraga bulu tangkis pada pertandingan grup A tunggal putra BWF Superseries Finals, antara Lee Chong Wei (Malaysia) dan Wang Zhengming (China), Rabu (11/12/2013). Instant review system tersebut kemudian juga digunakan pada pertandingan-pertandingan selanjutnya.
 
Lee mengaku menyukai sistem ini. Dengan bantuan teknologi tersebut, para pemain tidak lagi protes jika jatuhnya kok serta keputusan wasit dinilai meragukan.
 
"Saya suka instant review system, sangat bagus dan lebih adil. BWF melakukan tugasnya dengan baik untuk membawa perubahan," tutur Lee. "Tapi saya rasa seharusnya video rekaman ulang itu dapat ditampilkan di layar yang besar, jadi semuanya termasuk penonton bisa melihat, dan tidak ada keraguan lagi."
 
Kepala bidang event Badminton World Federation (BWF), Peter Tarcala, mengakui masih ada beberapa hal yang belum sempurna dan harus dikembangkan lagi. Salah satunya, komunikasi antara wasit pertandingan dan wasit turnamen yang berada di belakang lapangan. 

Pada Superseries Finals, kedua wasit masih berkomunikasi secara manual sehingga saat terjadi kesalahan, wasit turnamen terpaksa memasuki lapangan untuk berkomunikasi langsung dengan wasit pertandingan. Menurut Tarcala, hal ini perlu diperbaiki untuk meningkatkan standar bulu tangkis mendekati olahraga raket lainnya, yakni tenis.
 
"Mencoba sistem ini di Superseries Finals adalah langkah awal untuk meningkatkan level olahraga ini. Tentu saja, masih ada beberapa hal teknis yang perlu kami perbaiki. Kami mendapat tanggapan positif mengenai instant review system dan akan mempertimbangkannya untuk turnamen superseries dan beberapa turnamen besar lainnya tahun depan," tutur Tarcala.
 
"Yang kami hadapi saat ini adalah masalah finansial. Artinya, jika kami menggunakannya di tiap turnamen superseries, akan terbatas pada pertandingan di TV court, dan hanya dipilih hari yang menampilkan pertandingan menarik di TV court tersebut," jelas Tarcala.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X