Kompas.com - 01/08/2013, 16:46 WIB
Petinju nasional Indonesia, Julio Bria (kanan) berlatih tanding di Gedung Nanggala, Komplek Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (31/7/2013). KOMPAS.COM/IDRIS SUPRIADIPetinju nasional Indonesia, Julio Bria (kanan) berlatih tanding di Gedung Nanggala, Komplek Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (31/7/2013).
EditorPipit Puspita Rini
JAKARTA, KOMPAS.com — Petinju asal Nusa Tenggara Timur, Julia Bria, jadi salah satu tulang punggung Indonesia untuk meraih emas pada pesta olahraga se-Asia Tenggara, SEA Games di Myanmar, akhir tahun nanti.

Pria kelahiran Belu, NTT, 12 Juli 1988 ini, adalah penyumbang medali emas dari kelas terbang 52 kilogram pada SEA Games 2011 di Palembang. Di final saat itu, Julio menang angka atas petinju Thailand, Butdee Chatchai, 19-16.

Julio mengawali karier sebagai petinju pada 2005. Sejak itu, dia bertekad menjadi petinju besar di Indonesia. Untuk mengejar cita-citanya, Julio hijrah ke Bali dan bergabung bersama Adi Swadana Boxing Camp (ASBC) Denpasar.

Pada 2008, Julio mengikuti ajang Sarung Tinju Emas (STE) di Bali dan menjadi juara. Masih di tahun yang sama, Julio mewakili Bali di PON XVII Kalimantan Timur, dan meraih medali perak.

Pada 2009, Julio dipanggil Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PP Pertina) untuk mengikuti SEA Games di Laos. Dia berhasil menyumbang perunggu bagi Indonesia.

Pengalaman di dua SEA Games bisa jadi tambahan bekal Julio untuk mempertahankan medali emas di Myanmar nanti. Dia bergabung di pelatnas sejak November 2012. Bersama petinju lain yang menjalani pelatnas, Julia kini ditangani pelatih asal Kuba, Ernesto Moreno.

"Banyak perubahan drastis sejak dilatih pelatih asal kuba. Tekniknya banyak saya pelajari. Fisik saya meningkat karena teknik latihannya sangat menguras tenaga. Teknik individu juga ditingkatkan," ungkap Julio seusai latihan rutin di Gedung Nanggala, Komplek Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (31/7/2013).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Julio mengaku, saat ini jam terbang masih jadi salah satu persoalan utama. Jam terbang dibutuhkan untuk meningkatkan mental bertanding.

"Rencana ke depan, harus banyak bertanding. Ada program latihan ke Kuba. Di sana banyak petinju dari negara-negara lain, jadi kalau sparring bisa dapat lawan yang tangguh. Jadi bisa dapat pengalaman yang bagus," ujar Julio.

Sebelum SEA Games, Julio dijadwalkan mengikuti Kejuaraan Dunia di Kazakhstan, Oktober mendatang. (Idris)



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X