Kompas.com - 10/05/2013, 09:25 WIB
|
EditorAgus Mulyadi

PEKANBARU, KOMPAS.com - Penentuan lokasi pelaksanaan Islamic Solidarity Games (ISG) III kembali terombang-ambing. Rencana kepindahan even olimpiade negara-negara Islam itu dari Pekanbaru di Riau ke Jakarta seperti disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo beberapa waktu lalu, kembali mentah.

Dalam pertemuan yang dipimpin Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono di Jakarta, Rabu (8/5/2013) lalu, rencana Roy Suryo ternyata tidak didukung oleh kolega seniornya yang dari Partai Golkar itu.

Perkembangan terbaru, pekan depan satu tim gabungan dari Menko Kesra, termasuk Kemenpora, Komite Olimpiade Indonesia, dan KONI, akan datang ke Pekanbaru untuk meninjau kesiapan Riau. Tim itu akan mengevaluasi seluruh arena pertandingan atau lokasi tempat pembukaan dan penutupan yang disiapkan pemerintah provinsi Riau. Rekomendasi tim akan menentukan apakah Riau dinilai mampu atau tidak, menjadi tuan rumah ISG.

Kesimpulannya, masalah lokasi ISG kembali menggantung, padahal Roy sempat membuat keputusan memindahkan lokasi ISG ke Jakarta. Setidaknya, itulah yang dikutip oleh sebagian besar media di Tanah Air.

Belakangan, setelah pengumuman kepindahan itu, banyak pihak di Riau bersuara keras terhadap Roy. Bahkan orang dekat Gubernur Riau Rusli Zainal, Syamsurizal, menyebut Roy sebagai pembohong. Belakangan, Syamsurizal menarik tudingannya itu setelah Menpora mengancam akan mengajukan somasi. Kemenpora pun akhirnya meralat bahwa pemindahan lokasi ISG masih berupa wacana.

Dalam rapat di Kemenkokesra, Roy menyebutkan, wacana pemindahan lokasi ISG bukan berasal dari dia, melainkan masukan Wakil Gubernur Riau Mambang Mit dan Rektor Universitas Islam Riau Detri Karya. Roy bahkan mengaku menyimpan rekaman pembicaraan dengan dua orang itu, dan menyebut nama Allah bahwa dia tidak berbohong.

Dari peristiwa ini, ada beberapa hal yang mencuat. Pertama, keputusan pemerintah itu mendua. Nampak jelas ada pertarungan politik antarpartai di kancah nasional. Keputusan Menpora yang berlatar belakang Partai Demokrat ternyata tidak didukung oleh Menkokesra Agung Laksono yang berlatar Partai Golkar. Pertarungan antara partai biru dan kuning itu masih akan berlanjut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kedua, pernyataan Roy mengungkapkan nama Mambang Mit dan Rektor UIR merupakan tindakan yang kurang etis. Ucapan itu jelas telah menempatkan posisi Mambang dan sang rektor sebagai "penghianat" Riau. Apalagi, selama ini hubungan antara Rusli (yang didukung partai kuning) dan Mambang (partai biru) berjalan buruk.

Muncul pertanyaan, apakah seorang pembesar negara ini pantas mengungkapkan narasumber/orang yang memberi masukan terhadap dirinya sebelum mengambil keputusan? Bukankah hal itu dapat dikategorikan sebagai politik lempar batu sembunyi tangan?

Keputusan yang sudah diambil oleh seorang menteri semestinya tetap menjadi keputusannya sendiri. Dalam artian, dialah yang bertanggungjawab atas segala keputusannya tanpa menyebut siapa yang memengaruhinya, mendukungnya, atau memberi masukan sebelum keputusan itu diambil.

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, pada Pasal (1) Ayat 10 menyebutkan hak tolak yang dimiliki oleh insan pers. Ayat itu memberi hak kepada wartawan untuk menolak menyebutkan narasumber beritanya. Hak ini dimaksudkan untuk melindungi narasumber dari ancaman akibat pemberitaan atau faktor keselamatan dirinya.

Apa kaitan hak tolak dengan Roy Suryo? Semestinya, Roy memakai hakikat ayat itu, dan berjiwa besar untuk tidak mengungkap narasumbernya kepada publik. Mengingat pengungkapan nama itu membuat posisi Mambang Mit dan Detrikarya, terancam di Riau.

Ini juga akan menjadi preseden buruk buat Roy di masa mendatang. Apakah masih ada orang yang mau memberinya masukan, apabila ada kemelut menyangkut persoalan bangsa ini? Jangan-jangan, apabila ada masukan yang kemudian dikritik banyak pihak, Roy dengan gampang menyebutkan, "Itu bukan pendapat saya. Saya dapat dari si Anu, Badu, Cecep dan Ucok, kok,"

Dalam adat Minangkabau dikenal istilah "politik belah bambu". Istilah ini bermakna negatif, karena orang harus mengangkat bagian atas bambu dan menginjak bagian bawahnya agar bambu dapat terbelah dengan sempurna. (Syahnan Rangkuti)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Usai Menangi Ballon d'Or, Lionel Messi Absen Latihan karena 'Gejala Muntaber'

Usai Menangi Ballon d'Or, Lionel Messi Absen Latihan karena "Gejala Muntaber"

Liga Lain
Filosofi Pencak Silat

Filosofi Pencak Silat

Sports
Tak Sangka Lolos ke BWF World Tour Finals, Pasangan India yang Kalah dari Marcus/Kevin Sampai Ubah Tiket Pesawat

Tak Sangka Lolos ke BWF World Tour Finals, Pasangan India yang Kalah dari Marcus/Kevin Sampai Ubah Tiket Pesawat

Badminton
Tanggapan Saddil Ramdani soal Rumor Gabung ke Arema FC

Tanggapan Saddil Ramdani soal Rumor Gabung ke Arema FC

Liga Indonesia
Nonton Piala AFF 2020 Pakai Tayangan 'Gretongan', Mau?

Nonton Piala AFF 2020 Pakai Tayangan "Gretongan", Mau?

Internasional
Jadwal Siaran Langsung BWF World Tour Finals, Greysia/Apriyani Buka Perjuangan Indonesia

Jadwal Siaran Langsung BWF World Tour Finals, Greysia/Apriyani Buka Perjuangan Indonesia

Badminton
Update Ranking BWF: Axelsen Kudeta Momota, Jonatan Gusur Lee Zii Jia

Update Ranking BWF: Axelsen Kudeta Momota, Jonatan Gusur Lee Zii Jia

Badminton
Alasan Liverpool Datangkan Kiper Legendaris Timnas Brasil sebagai Pelatih

Alasan Liverpool Datangkan Kiper Legendaris Timnas Brasil sebagai Pelatih

Liga Inggris
Terhindar dari Degradasi, Semen Padang Pasang Target Promosi ke Liga 1 Tahun Depan

Terhindar dari Degradasi, Semen Padang Pasang Target Promosi ke Liga 1 Tahun Depan

Liga Indonesia
Lakshya Sen, Tunggal Putra Termuda pada BWF World Tour Finals 2021

Lakshya Sen, Tunggal Putra Termuda pada BWF World Tour Finals 2021

Badminton
BWF World Tour Finals 2021, Ujian Kemampuan untuk Pramudya/Yeremia

BWF World Tour Finals 2021, Ujian Kemampuan untuk Pramudya/Yeremia

Badminton
Jadwal Liga Italia, AC Milan dan Inter Lawan Tim Papan Bawah

Jadwal Liga Italia, AC Milan dan Inter Lawan Tim Papan Bawah

Liga Italia
Kabar Terkini Proses Naturalisasi Sandy Walsh dkk: Pemeriksaan Dokumen, Target Rampung Awal 2022

Kabar Terkini Proses Naturalisasi Sandy Walsh dkk: Pemeriksaan Dokumen, Target Rampung Awal 2022

Liga Italia
Jadwal Liga Inggris Malam Ini, Derbi Merseyside Everton Vs Liverpool

Jadwal Liga Inggris Malam Ini, Derbi Merseyside Everton Vs Liverpool

Liga Inggris
Hasil Drawing BWF World Tour Finals 2021, Semua Lawan Sama Beratnya...

Hasil Drawing BWF World Tour Finals 2021, Semua Lawan Sama Beratnya...

Badminton
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.