Jalan Panjang Menuju Prestasi Dunia - Kompas.com

Jalan Panjang Menuju Prestasi Dunia

Kompas.com - 24/09/2012, 21:45 WIB

JAKARTA, Kompas.com - Cabang Gantolle PON XVIII Riau 2012 yang berlangsung di Bandara Pinang Kampai, Dumai dari 10-17 September lalu, telah melahirkan juara-juara baru.

Dari 33 penerbang asal 14 propinsi yang mengikuti nomor-nomor lomba Sambar Pita & Ketepatan Mendarat serta Lintas Alam Terbatas untuk Kelas A (High Performance) dan Kelas B (Intermediate), tidak ada nama-nama para juara bertahan PON XVII Kaltim serta Juara Nasional 2011 Ayat Supriatna (Jabar/Kelas B) dan Herda Eka Nurhidayah (Jatim/Kelas A) sebagai peraih medali emas. Kelas A bagi atlit yang memakai layangan dengan sayap dua lapis sehingga mampu terbang lebih kencang dan bermanuver lebih canggih, sedang Kelas B bagi penerbang yang memakai layangan dengan sayap satu lapis.
     
Pada PON XVIII Riau para penerbang Gantolle (Layang Gantung) memakai teknik lepas landas Aerotowing mengingat lokasi pegunungan terpencil dan sarana infrastrukturnya kurang mendukung. Dimana atlit dengan layangannya ditarik Gantolle bermotor (Microlight/Trike) dari landas pacu bandara, hingga mencapai ketinggian ideal, sekitar 500-1000 meter di atas permukaan tanah, baru atlit melepaskan tali penyambung dengan Trike.
     
Menurut Ketua Bidang Lomba, Gerhard Sitorus, bukan hanya kabut asap akibat pembakaran ladang yang mengganggu kelancaran lomba, “Arah angin yang sering berubah tiba-tiba dan Crosswind, dari samping, menjadi hambatan bagi banyak penerbang. Itu sangat berpengaruh dalam Ketepatan Mendarat. Sedangkan angin dari arah depan (Headwind), sangat menguras fisik dan konsentrasi atlit.” Bila dalam Nomor Sambar Pita & Ketepatan Mendarat, regu Jawa Barat berhasil memborong kedua medali emas lewat Ir. Koesnadi S. Bohon (Kelas A) dan Ujang Robi (Kelas B), maka dalam Nomor Lintas Alam Terbatas, dimana atlit harus melewati beberapa titik (berjarak sekitar 12 km untuk penerbang Kelas A dan 8 km untuk atlit kelas B) dalam waktu tercepat, persaingan para penerbang amat ketat. “Si anak hilang” penerbang Rusdianto (DI Yogyakarta) membuktikan bahwa “Practice makes perfect”.

Terbiasa berlatih lintas alam di kawasan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri dan Bukit Telomoyo, Salatiga, Jawa Tengah, dengan sabar ia meladeni kendala Headwind. Terbatasnya dana pembinaan dari KONI Daerahnya, menyebabkan Rusdi absen dari PON Kaltim. Pada Kejurnas 2009 dan Pra PON tahun lalu, ia hanya mampu menduduki peringkat empat besar dalam nomor spesialisasinya itu. (*/)
     
Strategi jitu yang diterapkan regu DIY juga mendukung keberhasilan Rusdiyanto, 36, mendobrak dominasi Jabar dan Jatim. Pada penentuan Ronde III, Senin (17/9), ketika Gerhard membuka window (sesi penerbangan) pada pukul 12.15, tidak ada atlit yang langsung terbang. Sadar tak berpeluang meraih emas karena jumlah nilainya rendah, rekan Rusdi yang sama-sama berada di Kelas B dengannya, Munandar Bendol bersedia menjadi Wind Dummy, “kelinci percobaan” untuk mengukur kekuatan dan arah angin dan di towing pada pukul 12.47. Melihat Bendol berhasil terbang dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan tanah, beberapa penerbang terpancing dan berebut take off. Namun layangan Bendol lama-lama menurun karena tidak ada thermal, udara panas. Begitupun para penerbang yang mengikutinya. Cuaca mendung menyembunyikan matahari yang dapat membantu penerbang menambah ketinggian. Di saat beberapa penerbang “rontok” itulah Rusdi meluncur menempel Ayat Supriatna (Jabar) yang menjadi pesaingnya merebut emas.  
     
Sedang di Kelas A, penerbang Jawa Timur hasil pembibitan intensif, Abdul Mustopa, yang pada Kejurnas (Pra PON) tahun lalu masih di Kelas B, berhasil menggagalkan ambisi seniornya, Herda Eka Nurhidayah mengawinkan medali emas pada dua PON berturutan. Mustopa konsisten mengumpulkan nilai di atas 175 pada ketiga ronde. Prestasi tersendiri bagi penerbang veteran, Tony F. Kullit (53) yang selalu berhasil meraih medali pada setiap PON yang diikutinya sejak merebut emas Nomor Duration pada PON 1985 untuk Jawa Barat, di saat Mustopa baru berusia tiga tahun!
Menuju Asian Beach Games
     
Selalu ramai dikunjungi penonton selama PON berlangsung, olahraga dirgantara seperti Gantolle (Layang Gantung), tak hanya berpotensi besar menjadi daya tarik wisata udara, namun menyusul anjloknya prestasi cabang bulutangkis di tingkat internasional, harus dilirik pemerintah sebagai olahraga andalan untuk merebut medali dan kembali mengharumkan nama bangsa di tingkat dunia. Ketua Perkumpulan Olahraga Dirgantara (Pordirga) Gantolle dan Paralayang Indonesia (PGPI) Adi Dirhamsyah, SE, sangat antusias dengan perkembangan olahraga dirgantara di tanah air. Apalagi jika melihat ikutsertanya lima cabang dirgantara sekaligus pada PON XVIII Riau; Aeromodeling, Gantolle, Paralayang, Terjun Payung dan Terbang Layang. “Saya berharap demam olahraga udara makin merata di kalangan generasi muda seluruh Indonesia dan menular pada negara-negara anggota ASEAN, agar semakin banyak cabang dirgantara bisa mengikuti ajang Asian Beach Games (ABG) dan SEA Games (Pekan Olaharaga Asia Tenggara),” ucap Adi.
     
Pada SEA Games 2011 di Indonesia, cabang Gantolle absen, sedang tim nasional Paralayang Indonesia, berhasil keluar sebagai juara umum dengan meraih 10 medali emas dari 12 buah yang diperebutkan di kelas putera dan puteri. Sebelumnya, pada ABG I di Bali, 2008, tim Paralayang Indonesia juga keluar sebagai Juara Umum. Bahkan atlit Paralayang Putri sempat tercatat sebagai peringkat pertama dunia Ketepatan Mendarat. Sedangkan tiga atlit puteranya masuk 10 Besar Dunia 2011.
          
Persiapan kearah mendunianya penerbang Gantolle Indonesia sudah dimulai. Menurut Drs. Tagor Siagian, M. Si, Ketua Bidang Humas & Promosi Federasi Aero Sport Indonesia Perkumpulan Olahraga Dirgantara (Pordirga) Gantolle dan Paralayang Indonesia (FASI PGPI) Bidang Gantolle, beberapa hari jelang PON, sebuah delegasi yang dipimpin Sekjen FASI Pusat, Marsma TNI AU Khoirul Arifin sudah presentasi tentang Gantolle di depan Panitia Besar ABG Phuket 2014 di Bangkok, Thailand. Bila disetujui Komite Olimpiade Asia yang akan bertemu di Makao, November ini, Layang Gantung (Hang Gliding) berhak mengikuti ABG Phuket. “Konsekuensinya, Indonesia bersedia melatih penerbang dari Malaysia, Thailand, Vietnam dan Filipina untuk memenuhi syarat minimal empat negara peserta.

Wacana Kejuaraan Layang Gantung Asia Oktober 2013 pun sedang disiapkan sebagai ajang sosialisasi pada masyarakat Thailand. Lawan kuat yang bakal dihadapi Indonesia adalah Jepang dan Korea Selatan yang sudah rutin mengikuti Seri Kejuaraan Dunia. Tentunya berbagai lomba internasional dan lokal bila teratur digelar, diharapkan dapat memicu pembibitan penerbang baru, serta dukungan pemerintah dan sponsor. Lomba khusus Lintas Alam tingkat nasional juga akan diselenggarakan rutin, karena di tingkat dunia, nomor yang dilombakan hanya Lintas Alam, baik jarak terbatas maupun bebas. Olahraga dirgantara itu paling irit biaya penyelenggaraan kejuaraan, karena tak perlu bangun stadion. Stadionnya langit, sudah dibangun oleh Tuhan,“ ujarnya semangat.

 Kejuaraan Dunia Layang Gantung FAI ke-19 akan berlangsung di Forbes Flatlands, Sydney, Australia pada 5-18 Januari 2013. Sekitar 107 penerbang dari 40 negara diperkirakan akan berlomba pada kegiatan puncak FAI (Federasi Aeronautika Internasional) cabang Layang Gantung setiap dua tahun itu. Perkumpulan Layang Gantung Sydney mendapat kehormatan menjadi penyelenggara kali ini. Berlangsung di Lapangan Udara Forbes, sekitar 5 jam perjalanan darat dari Sydney, nomor yang dilombakan adalah Lintas Alam Terbatas (Goal and Race) yang berjarak sekitar 200 km. Setiap harinya, para pilot rata-rata terbang sekitar 5-6 jam. Mereka akan lepas landas dengan teknik Aerotowing, dengan ditarik armada pesawat Ultralight, yang dijuluki Dragon Fly, dirancang khusus untuk menarik Hang Glider, dari Forbes Aeroclub. Guna mengantisipasi kedatangan pendukung para penerbang dunia itu, warga lokal sampai menyewakan rumah mereka.
     
Para penerbang Indonesia belum siap mengikuti Kejuaraan Dunia 2013. Ajang Kejuaraan Nasional dan PON kurang mengasah kemampuan terbang lintas alam para atlit, karena medan yang kurang ideal. Catatan prestasi penerbang nasionalpun, masih sangat jauh tertinggal dengan para penerbang tingkat dunia. Adapun rekor nasional Lintas Alam Tak Terbatas (Open Distance Cross Country), masih dipegang penerbang senior Roy Sadewo (DKI Jaya), yang berhasil terbang sejauh 92 km di Wonogiri (Jawa Tengah) pada 1995.

Sedang rekor dunia Lintas Alam Tak Terbatas adalah 761 km yang dibuat Dustin Martin dan Jonny Durand di Zapata, Texas, Amerika Serikat pada 3 Juli 2012. Penerbangan mereka berlangsung sekitar 11 jam dengan kecepatan rata-rata 69 km/jam. Dustin memakai layangan merk Wills Wing jenis T2C 144, sedangkan Jonny memakai layangan Moyes Litespeed RX 3.5. Tak lama setelah matahari terbenam pukul. 21.01 waktu setempat, Jonny mendarat pukul 21.02 dan Dustin beberapa menit kemudian, 3 km setelah lokasi pendaratan Jonny. Karena keduanya lepas landas dengan teknik Aerotowing, maka jarak tempuh dihitung dari titik dimana atlit melepas tali penyambung layangannya dengan Trike.

 


EditorA. Tjahjo Sasongko

Close Ads X