Menetap di Eropa karena Bulu Tangkis - Kompas.com

Menetap di Eropa karena Bulu Tangkis

Kompas.com - 09/08/2012, 10:43 WIB

LONDON, KOMPAS.com — Mantan pemain pelatnas Cipayung, Atu Rosalina Sagita, tetap menekuni dunia bulu tangkis meski harus bolak-balik antara Inggris dan Perancis.

Sebagai pemain, prestasi Atu Rosalina tergolong biasa-biasa saja, kalau tidak mau dibilang buruk. Apalagi, saat itu prestasi bulu tangkis Indnesia masih mampu bersaing di tingkat atas.

Pada 2003, setelah mundur dari Cipayung, Atu memutuskan mencoba bermain di liga Jerman. "Tadinya saya mau bermain di liga Jerman, tetapi karena waktu itu liga sudah berjalan, saya diminta menunggu sampai Maret," ujar Atu yang ditemui di Colchester, Inggris, tempat tinggalnya sekarang, Rabu (8/8/2012).
    
Panggilan dari Jerman tidak kunjung tiba, sementara datang tawaran dari Brunei Darussalam untuk melayani istri salah satu kerabat Sultan Brunei Hassanal Bolkiah untuk bermain bulu tangkis, Atu akhirnya memilih berangkat ke Brunei.

Akhirnya, Atu memilih menuju Brunei dan memulai karier barunya sebagai "pelayan" yang kerjanya hanya melayani keinginan "sang majikan" bermain bulu tangkis.

"Kontrak awalnya enam bulan, tetapi baru dua bulan sudah dikontrak lagi dua tahun. Sementara dari Jerman tidak ada kabar, maka impian jadi pemain bulu tangkis dikubur," katanya.
    
Tentu saja ia terpaksa melupakan keinginannya untuk melanjutkan karier sebagai pebulu tangkis, karena sebagai pendamping kerabat Sultan bermain, tugas utamanya adalah membuat "majikannya" itu senang.
    
Selain itu, ia juga harus siap kapan pun ketika dibutuhkan. "Saya sudah seperti pemain sinetron, harus pandai-pandai bersandiwara supaya dia gembira," kata Atu yang kerap mendapat ajakan bermain bulu tangkis pada jam-jam yang tidak lazim. "Pernah saya sedang tidur ditelepon karena nyonya ingin bermain bulu tangkis pukul 01.00 dini hari," katanya.

Beruntung, ia tidak harus menyelesaikan kontraknya. Setelah berlangsung selama satu tahun sembilan bulan, ia dipulangkan karena kerabat raja yang mengundangnya terkena kasus korupsi. Ia kemudian kembali ke klubnya, Mutiara Bandung.
   
Tidak lama berselang, tepatnya pada 2005, ia ditawari oleh satu klub untuk memperkuat mereka di liga Denmark.
   
Maka, jadilah ia memperkuat klub Skaelskor (yang sekarang menjadi tim Skaelskor Slagelse), yang ternyata juga diperkuat pemain top asal Inggris, Nathan Robertson dan Gail Emms.
    
Setelah sukses bermain di liga Denmark dan memutuskan menikah dengan Agung Mandala yang bekerja di Inggris, Atu beralih ke liga Perancis. "Latihan di Denmark sangat keras, sama seperti di pelatnas," katanya, mengungkapkan alasan beralih ke Perancis yang lebih ringan.  

"Bermain di Perancis saya bisa bolak-balik Inggris-Perancis tanpa harus menetap di sana," kata Atu yang berhasil membawa klubnya Chamble naik dari divisi ketiga ke divisi utama di Perancis.
    
Puas bermain dari liga ke liga tidak membuat Atu lupa mempersiapkan karier selanjutnya sebagai pelatih.               
   
Sejak 2009 ia sudah mendapat sertifikat melatih level 2 di Inggris dan sudah tergabung sebagai pelatih di salah satu Performance Centre di bawah asosiasi bulu tangkis Inggris, Badminton England.

"Sekarang saya ingin fokus melatih," kata Atu, yang sempat menyaksikan pemain-pemain Indonesia berlaga di Wembley Arena saat pertandingan olimpiade berlangsung.


EditorA. Tjahjo Sasongko

Close Ads X