Keteladanan Sudarmodjo - Kompas.com

Keteladanan Sudarmodjo

Kompas.com - 25/07/2012, 16:29 WIB

KOMPAS.com - Kalau negara ini ingin mencari pahlawan olahraga, rasanya tidak perlu susah-susah. Letnan Kolonel Navigasi Maram Sudarmodjo (almarhum) bakal memenuhi kriteria yang ada guna menyandang kehormatan tersebut. Dengan kemandirian dan kerendah-hatiannya, Sudarmodjo dapat menjadi teladan.

Sudar, begitu panggilan akrab Maram Sudarmodjo, yang berasal dari Gemolong, Sragen, Jawa Tengah, merupakan salah satu dari tiga atlet terbaik yang dipercaya mewakili bangsa untuk ikut serta dalam perhelatan akbar atlet terbaik sedunia, Olimpiade XV di Helsinki, Finlandia, 1952. Itulah kali pertama Indonesia tampil di olimpiade.

Sudarmodjo wafat enam tahun silam. Ditemui di rumahnya yang teduh di Jakarta Timur, RA Soekandini, istri Sudarmodjo, yang kini berusia 82 tahun, menuturkan, suaminya ketika itu masih muda. Di Solo, hampir setiap hari Sudar berlatih loncat tinggi di Stadion Sriwedari. ”Kebetulan stadion tidak jauh dari kediaman orangtua saya,” tutur Soekandini bernostalgia.

Sudar pun sangat bersahaja. Dia tidak pernah mau diistimewakan sekalipun sudah menjadi pemecah rekor loncat tinggi Indonesia di Pekan Olahraga Nasional (PON) I-1948 Solo yang digelar di Stadion Sriwedari.

Loncatannya setinggi mistar 189 sentimeter yang berbuah medali emas PON I Solo juga melampaui rekor nasional sebelumnya atas nama Harun Al Rasyid yang 188 sentimeter.

Juara di Solo, Sudar pun dipercaya membela Merah Putih di India. Dia diturunkan di Asiade yang dikenal sebagai Asian Games I-1951 dan digelar di New Delhi. Di ajang itu, Sudar meraih medali perunggu dengan tinggi loncatan yang sama dengan yang dicapai pada PON I-1948 di Solo. Kemandirian Sudar membuatnya dipercaya untuk kali kedua, yaitu tampil pada kejuaraan yang lebih besar, Olimpiade Helsinki 1952.

Dalam kisahnya kepada Kompas, Agustus 1992, Sudar juga mengenang masa-masa persiapan dirinya sebelum berangkat ke Helsinki. Saat itu tidak ada sistem pemusatan latihan nasional (pelatnas) seperti sekarang.

Yang ada, dia harus mengayuh sepeda sendiri untuk menuju Lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta Raja) yang kini jadi kawasan Monas sambil menggantungkan pacul kecil di bahunya. Di lapangan itulah, dia berlatih setiap hari sebelum berangkat ke Helsinki.

Pacul kecil dia gunakan untuk menggemburkan kolam pasir yang dipergunakan untuk berlatih. Pasir yang gembur membuat tubuhnya tidak sakit begitu mendarat. ”Dulu kami melakukan semua itu sekalipun tanpa ada menu khusus selama persiapan. Semua ditanggung sendiri karena cinta kepada olahraga yang kami geluti,” tuturnya.

Maka, Sudar sempat merasa risi ketika melihat prestasi atlet muda Indonesia yang sudah ditunjang dengan berbagai fasilitas di pelatnas belum bisa membanggakan bangsa ini. ”Olahraga itu, kan, seharusnya dipandang sebagai hobi atau kesukaan, tanpa memandang apa yang bakal diperoleh dari olahraga tersebut,” tuturnya.

Apa yang disampaikan Sudar memang berdasar pada prinsip dasar olahraga amatir. Kalau senang, kita berlatih. Kalau tidak, ya cari hobi yang lain karena kesukaan itu tidak berpamrih.

Namun, apa yang dia jalani juga merupakan jiwa olahragawan profesional. Dalam berlatih, ketekunan dan totalitas adalah sesuatu yang mutlak: totalitas untuk mengejar kesempurnaan. Bedanya, di kejuaraan, seorang atlet profesional tentu akan memperoleh bayaran.

Rendah hati

Walaupun Sudar merupakan satu-satunya atlet Indonesia dari cabang atletik yang mampu mencapai final di olimpiade, hal tersebut tidak membuat Sudar pongah. Itu pula yang membuat Sudar tak ramai memberitakan jadwal kepulangannya.

Alhasil, saat anggota kontingen disambut sanak saudara begitu pulang dari Helsinki, Sudar sendiri, tak juga Soekandini yang saat itu adalah kekasihnya.

Sifatnya yang tak pernah membanggakan diri membuat Sudar berulang kali melarang Soekandini menceritakan prestasinya di lapangan atletik kepada anak-anak mereka. ”Bapak itu malah tidak ingin kelima anak kami membanggakan diri mereka dengan apa yang pernah dicapai ayahnya yang merupakan atlet Indonesia pertama yang tampil di olimpiade,” tuturnya.

Untuk itulah, lanjutnya, ”Bapak memberikan nama anak-anaknya dengan nama temannya yang pintar dan dianggapnya lebih baik dari dirinya agar mereka bisa seperti temannya itu.” (NIC)

 


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorAloysius Gonsaga Angi Ebo

    Close Ads X