Ikhsan Imanuel Rumbay Sabar Menunggu - Kompas.com

Ikhsan Imanuel Rumbay Sabar Menunggu

Tjahjo Sasongko
Kompas.com - 12/01/2018, 00:27 WIB
Ikhsan Leonardo Imanuel RumbayTjahjo Sasongko/Kompas.com Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay

JAKARTA, Kompas.com - Bagi Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay menunggu adalah bagian dari proses untuk mewujudkan impian besarnya menjadi atlet bulu tangkis nasional.

Akhirnya, Ikhsan mampu menggenapkan impiannya untuk menjadi bagian dari Pelatnas Cipayung. Sejak Januari 2018 ia naik ke kasta tertinggi bulu tangkis nasional setelah berhasil mencatat prestasi gemilang di tahun 2017. Pemain kelahiran Tomohon, 15 Januari 2000 ini naik podium juara di ajang Kejurnas 2017 untuk kategori tunggal putra taruna. Penampilannya juga cukup baik di ajang Superliga Junior 2017 lalu.

“Tentunya semangat masuk pelatnas, apalagi bisa bertemu pemain-pemain senior seperti Jonatan Christie dan sebagainya,” ungkap Ikhsan. “Pasti tekanannya di pelatnas itu beda, mau nggak mau harus adaptasi. Tetapi saya jalani saja. Pertama saya ke pelatnas rasanya tegang, ketemu senior, ketemu yang sudah juara super series. Lalu saya berpikir kenapa harus tegang, bukannya bagus saya ketemu mereka dan termotivasi?” tambahnya.

Bagi Ikhsan, status ini merupakan kebahagiaan berikut setelah pada Maret 2017 lalu ia resmi bergabung dengan klub dengan fasilitas terbaik di Indonesia, PB Djarum. Dengan bergabung bersama PB Djarum, Ikhsan berkesempatan menimba pengalaman bertanding di dalam dan luar negeri yang sebanyak-banyaknya.

Ia tampil di pertandingan internasional, dari laysia hingga Peru dan Brasil di Amerika Selatan.  Sementara sebagai tanda  loyalitas, ia membawa PB Djarum menjadi juara nomor beregu pada Pembangunan Jaya Cup 2017 dan Superliga Junior 2017.

Adalah mantan pemain nasional, Luluk Hadiyanto yang membawa Ikhsan ke puncak harapannya.  Meski sempat  juara di ajang Sirnas sejak 2015, Ikhsan masih berkutat di turnamen lokal.  Pada tahun itu pula, Luluk menawarkan Ikhsan untuk masuk Sekolah Khusus Olahraga (SKO) di Ragunan, Jakarta. Pada awalnya, Ikhsan menolak karena melihat fasilitas di Ragunan  sangat buruk dan tidak sebanding dengan nama gedung bulu tangkisnya yang menggunakan nama legenda bulu tangkis,"Rudy Hartono."

Tak mau putus asa, Luluk menawarkan kembali Ikhsan untuk bergabung di Ragunan. "Saya pakai biaya sendiri dan meminta Ikhsan untuk coba berlatih selama dua pekan. Kalau tidak cocok, silakan pulang dan saya akan melupakan dia," kata Luluk yang pernah menempati peringkat satu ganda dunia bersama Alvent Yulianto.  Untung tiket pulang ke Tomohon tak jadi digunakan Ikhsan.

Ikhsan Leonardo Imanuel RumbayTjahjo Sasongko/Kompas.com Ikhsan Leonardo Imanuel Rumbay

bagi Luluk, pingah ke Jawa adalah satu-satunya jalan buat Ikhsan untuk berkembang. Bukan hanya dalam karir di bulu tangkis, tetapi juga dalam kehdiupan sosial. "Saya tahu keluarga Ikhsan di Tomohon itu berasal dari yang memprihatinkan," kata Luluk.

Namun kemudian Luluk menyadari, anak didiknya sulit berkembang bila terus berstatus sebagai atlet SKO Ragunan. "Kami memang boleh ikut Sirnas dengan nama Ragunan, tetapi kalau untuk tanding ke luar negeri, kami tidak punya dana," kata Luluk yang bertugas menangani 20 atlet bulu tangkis di SKO Ragunan.

Untung keinginan Ikhsan  tersambung dengan kebutuhan PB Djarum yang terus berusaha mencari atlet tunggal putera usia muda. Adalah Yoppy Rosimin, ketua PB Djarum yang  mengatakan proses bergavbungnya Ikhsan memang berliku. "Kami menangkap keinginan Ikhsan dan keluarga untuk bergabung ke Djarum, sementara kami memang juga butuh pemain tunggal putera," kata Yoppy.

Namun keabsahan perpindahan ini ternyata harus memakan waktu hampir satu tahun karena banyaknya  institusi yang harus dihubungi. "Bukan sekadar urusan antarklub, namun juga berkaitan dengan SKO Ragunan, PPLP sampai Kemenpora," kata Yoppy. "Kami ikuti saja prosedurnya dan untungnya semua baik-baik saja."

Munculnya Ikhsan Rumbay memperlihatkan satu fakta bahwa melalui institusi pendidikan olahraga seperti SKO Ragunan, dapat diharapkan muncul bibit potensial. Hal ini diakui juga oleh Yoppy Rosimin dari PB Djarum yang selama ini melakukan  penjaringan bibit bulu tangkis melalui ajang audisi tersebuka. "Kami mau saja membantu pengembangan institusi pendidikan olahraga seperti Ragunan. Syaratnya hanya satu, ada banyak para muridnya yang seperti Ikhsan."

PenulisTjahjo Sasongko
EditorTjahjo Sasongko
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM