Hari Olahraga Nasional 2017, Bersatu dalam Keberagaman - Kompas.com

Hari Olahraga Nasional 2017, Bersatu dalam Keberagaman

Eris Eka Jaya
Kompas.com - 10/09/2017, 10:14 WIB
Para guru Maarif Magelang melakukan senam bersama pada peringatan Haornas 2017 di Magelang, Sabtu (9/9/2017).

Gonang Susatyo/Bolasport.com Para guru Maarif Magelang melakukan senam bersama pada peringatan Haornas 2017 di Magelang, Sabtu (9/9/2017).

KOMPAS.com – Olahraga merupakan alat pemersatu bangsa. Jadi, tepat apabila peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) mengambil tema "Olahraga Menyatukan Kita".

Olahraga sebagai pemersatu bangsa disampaikan Menpora Imam Nahrawi pada puncak perayaan Haornas 2017 di Stadion Moch Subroto, Magelang, Sabtu (9/9/2017.

Menpora mengingatkan bahwa tidak ada perbedaan agama, suku, ras di olahraga, dan juga di setiap sendi kehidupan masyarakat Indonesia.

Menpora mengambil contoh beberapa pelaku olahraga yang tidak melihat perbedaan agama atau apa pun demi meraih prestasi tertinggi.

Baca juga: GALERI FOTO - Haornas 2017: Dari Tarian hingga Permainan Tradisional, Wujud Kebinekaan

"Suatu ketika, saya berkunjung ke sebuah desa di Ambon, yaitu Tulehu," kata Menpora saat memberikan sambutan.

"Desa itu termasuk wilayah yang menjadi konflik berkepanjangan di Ambon. Adalah Sani Tawainella, seorang pelatih dan mantan pemain sepak bola yang berhasil menyatukan perbedaan," ujarnya.

Menpora mengatakan, Sani berhasil meramu tim sepak bola U-15 dari lintas agama.

Mereka kemudian meraih sukses dengan menjadi juara pada Piala Medco 2006.

Sukses tim itu memulihkan kehidupan masyarakat Maluku yang terbelah akibat konflik sosial pada 2000-an.

"Keberhasilan Sani mengubah cara pandang masyarakat dalam melihat perbedaan agama, suku, dan ras," kata Menpora lagi.

Menpora Imam Nahrawi memberi sambutan pada peringatan Haornas 2017 di Magelang, Sabtu (9/9/2017).Gonang Susatyo/BolaSport.com Menpora Imam Nahrawi memberi sambutan pada peringatan Haornas 2017 di Magelang, Sabtu (9/9/2017).
Menpora juga menyebut ganda campuran, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang berbeda suku dan agama.

Namun, tidak ada masalah dengan perbedaan itu. Mereka pun meraih prestasi, puncaknya merebut emas di Olimpiade Rio 2016.

"Semua tahu pasangan itu representasi Bhinneka Tunggal Ika dengan beda etnis dan agama," ucap Menpora.

"Melalui olahraga, mereka disatukan dan berhasil mengharumkan nama Indonesia," ujarnya.

Pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, berfoto dengan medali emas Olimpiade Rio yang dimenangi setelah mengalahkan wakil Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying Goh, 21-14, 21-12, pada laga final di Riocentro Pavilion 4, Rio de Janeiro, Brasil, (17/8/2016).GOH CHAI HIN/AFP PHOTO Pasangan ganda campuran Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, berfoto dengan medali emas Olimpiade Rio yang dimenangi setelah mengalahkan wakil Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying Goh, 21-14, 21-12, pada laga final di Riocentro Pavilion 4, Rio de Janeiro, Brasil, (17/8/2016).

Perayaan ke-34 Haornas memang kental bernuansa kebinekaan.

Mereka yang tampil menggunakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Menpora juga memimpin prosesi penyatuan tanah dan air dari seluruh Indonesia. Ini merupakan simbol persatuan Indonesia yang tak tergoyahkan.

Haornas juga dimeriahkan dengan kegiatan Gowes Touring Pesona Nusantara.

Kegiatan bersepeda itu menembuh jarak 5.000 km dari Sabang sampai Magelang.

Atas kegiatan itu, Menpora mendapat penghargaan dari MURI karena memecahkan rekor gowes sejauh 5.000 km.

Pada perayaan, Menpora memberikan penghargaan kepada atlet, mantan atlet, pelatih, maupun pihak-pihak yang mendukung olahraga nasional.

Selain Sani Tawainella, ada pula mantan kiper tim nasional Roni Pasla.

PenulisEris Eka Jaya
EditorEris Eka Jaya
SumberBolaSport
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM