Asian Games 2018 dan Bendungan Hilir di Awal Tahun 1960 - Kompas.com

Asian Games 2018 dan Bendungan Hilir di Awal Tahun 1960

Chappy Hakim
Kompas.com - 21/08/2017, 13:15 WIB
-- -
JUMAT malam lalu Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menghadiri acara  hitung mundur  atau acara count down dari perhelatan Asian Games ke 18 di Monumen Nasional, Jakarta Pusat.   
 
Selain Presiden Jokowi, hadir pula Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, hingga Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri.  Baca: Jokowi hingga Megawati Hadiri Hitung Mundur Menuju Asian Games 2018   
 
Asian Games ke 18, bila terlaksana nanti di bulan Agustus 2018, merupakan Asian Games yang kedua kalinya diselenggarakan di Indonesia. Asian Games yang pertama kali di adakan di Indonesia adalah Asian Games ke-4 pada tahun 1962.  
 
Asian Games merupakan perhelatan olah raga terbesar di Asia yang diselenggarakan setiap 4 tahun sekali. Asian Games secara tidak langsung akan memperlihatkan kepada dunia siapa gerangan atau negara mana yang memang dipandang pantas berperan sebagai penyelenggara pesta besar olah raga Asia sekaligus memamerkan prestasi atlet olah raga yang telah mampu dicapainya selama ini.   
 
Peran sebagai tuan rumah adalah merupakan "gengsi" tersediri bagi negara penyelenggara.  Tidak hanya sebagai negara yang memiliki kemampuan menyelenggarakan pesta olah raga internasional akan tetapi juga sebagai negara yang telah berhasil memiliki olahragawan berkualitas dan pantas tampil di pentas global.
 
Yang menarik untuk dicermati adalah bahwa pusat olah raga yang akan digunakan bagi penyelenggaraan Asian Games ke 18 nanti  ternyata sama dengan lokasi penyelenggaraan Asian Games ke 4 di tahun 1962.  
 
Stadion Utama Gelora Bung Karno yang digunakan pertamakali untuk upacara pembukaan Asian Games ke-4 lebih dari 50 tahun lalu konon akan digunakan juga untuk "opening ceremony" Asian Games ke 18 yang akan datang.   
 
Dapat dibayangkan betapa fenomenal Stadion Utama  Gelora Bung Karno yang dapat tetap melayani pesta besar olah raga Asia walau telah melampaui  rentang waktu  yang lebih dari setengah abad usianya.
 
Di awal tahun 1960-an keluarga saya baru saja pindah rumah dari Jalan Segara 4 Nomor 4 ke Bendungan Hilir.  Jalan Segara sekarang sudah berubah nama menjadi Jalan Veteran, dan jalan Veteran 4 sekarang sudah menjadi bagian dari halaman Istana Presiden di Jakarta Pusat.  
 
Tidak banyak orang yang tinggal di Jalan Segara 4. Di tempat itu ada kantor Kementerian Kehakiman yang memang dimintan pindah  sehubungan dengan proyek perluasan halaman Istana Kepresidenan.   
 
Proyek tersebut mengerjakan antara lain pembangunan Mesjid Baiturrahman yang sebelumnya adalah lapangan tenis, serta wisma negara bagi akomodasi para tamu resmi kenegaraan. 
 
Kawasan Bendungan Hilir  di  tahun 1960-an masih sangat sepi bila dibandingkan dengan keadaan sekarang ini.   
 
Saat itu ada kompleks pemukiman baru di daerah Pejompongan yang sebagian besar dihuni oleh orang-orang Rusia yang bekerja membangun Gelora Bung Karno untuk persiapan Asian Games.  
 
Yang agak mengesankan di Bendungan Hilir kala itu adalah saat petang dan menjelang malam. Cukup banyak orang Rusia yang berjalan kaki mondar mandir hilir mudik dari pemukiman pejompongan ke Pasar Bendungan Hilir.   
 
Tentu saja mereka pasti memerlukan belanja kebutuhan sehari-hari yang hanya dapat dilakukan saat petang dan atau sore hari meski pekerjaan pembangunan kompleks olah raga di Senayan kala itu dilaksanakan siang malam.   
 
Meski banyak becak di Pejompongan dan Bendungan Hilir, tidak ada satu pun orang Rusia yang mau naik becak. Ayah saya mengatakan bahwa Orang Rusia dilarang menggunakan becak. Alasannya, becak dianggap sebagai eksploitasi orang oleh orang lain.   
 
Seperti diketahui bahwa salah satu jargon Rusia sebagai negara komunis beraliran sosialis yang terkenal saat itu adalah anti terhadap exploitation de l'homme par l'homme dan  exploitation de nation par nation.  Eksploitasi orang oleh orang lain dan juga eksploitasi bangsa oleh bangsa lainnya.  Unik juga karena ternyata salah satu implementasinya adalah dengan tidak naik-becak.
 
Tidak pernah ada yang menyangka bahwa sebuah kompleks olahraga yang dibangun pada tahun 1960 dan digunakan pertamakali tahun 1962 untuk Asian Games kemudian dapat atau akan digunakan lagi pada tahun 2018 untuk perhelatan yang sama.   
 
Gelora Bung Karno akan digunakan lagi untuk Asian Games ke 18. Banyak keistimewaan yang dimiliki kompleks Gelora Bung Karno terutama  stadion utamanya.  Salah satu keistimewaannya adalah atapnya yang oleh Bung Karno kerap disebut sebagai sebagai "atap temu gelang".   
 
Bung Karno mengatakan bahwa dia sudah keliling dunia melihat semua Stadion yang ada dan tidak pernah ada sebuah stadion yang sama hebatnya dengan stadion utama di Senayan ini.   
 
Hitung mundur telah dilakukan Jumat lalu oleh Presiden Jokowi.  Hitung mundur menuju penyelenggaraan Asian Games ke 18 di tahun 2018 yang upacara pembukaannya akan dilakukan di stadion utama yang atapnya "temu-gelang".   
 
Semoga Asian Games ke 18 dapat berjalan sukses! Tidak hanya sukses Indonesia sebagai penyeleggara Asian Games (lagi) akan tetapi juga kita berharap agar para atlet kita dapat meraih prestasi yang membanggakan.   
 
Prestasi Olah Raga merupakan salah satu cerminan dari keberhasilan perjuangan sebuah bangsa untuk dapat berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah di jajaran  negara bangsa di dunia. Salam olah raga !

EditorHeru Margianto
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM