Federer Ingin bertahan Hingga Usia 40 - Kompas.com

Federer Ingin bertahan Hingga Usia 40

Tjahjo Sasongko
Kompas.com - 17/07/2017, 18:22 WIB
Petenis asal Swiss, Roger Federer, tampil pada laga semifinal Wimbledon 2017 melawan Tomas Berdych (Republik Ceko) di London, Jumat (14/7/2017).AFP/ADRIAN DENNIS Petenis asal Swiss, Roger Federer, tampil pada laga semifinal Wimbledon 2017 melawan Tomas Berdych (Republik Ceko) di London, Jumat (14/7/2017).

LONDON, Kompas.com - Baru saja mencatat rekor baru dengan delapan kali menjadi juara Wimbledon, Roger Federer melontarkan ancaman kepada para pesaingnya bahwa ia akan tetap bermain hingga usia 40.

Telah berusia jelang 36, Federer tampil  gemilang tahun ini dengan menjadi juara Wimbledon setelah mengalahkan petenis  Marin Cilic di final. Ini merupakan juga gelar turnamen grand slam ke 19 sepanjang karir Federer.

Meski dikatakan telah berusia senja, Fderer yakin masih akan mampu berprestasi hingga usia 40. "Anda pasti setuju, sepanjang saya mampu menjaga kesehatan," kata Federer yang meraih gelar juara turnamen grand slam di Wimbledon pada 2003.

Fderer mengaku telah menemukan resep untuk mampu tampil bugar dalam sebuah turnamen grand slam. Ini berdasar pengalamannya setelah disingkirkan Milos Raonic di semifinal Wimbledon 2016.

Setelah kekelahannya tersebut, Federer memutuskan memulihkan cedera lututnya dan absen dalam pertandingan Olimpiade Rio de Janeiro, Agustus  dan turnamen grand slam AS Terbuka pada September 2016. Akibatnya, peringkatnya langsung terjun bebas ke posisi 17, peringkat terburuk sejak 2000.

Namun keputusannya ini berbuah manis saat ia mampu menjadi juara di Australia Terbuka pada Januari 2017 dengan mengalahkan petenis Spanyol, Rafael Nadal di final.

April  lalu, Federer membuat keputusan berani dengan absen mengikuti rangkaian turnamen lapangan tanah liat untuk menghindari Rafael Nadal yang memang merupakan jawara jenis lapangan ini.

Di lapangan rumput Wimbledon, Federer kembali memperlihatkan keperkasaannya dengan memenangi semua pertandingan tanpa kehilangan satu set pun, mengikuti apa yang dilakukan Bjorn Borg pada 1976.

PenulisTjahjo Sasongko
EditorTjahjo Sasongko
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM