Mitos Istora Senayan - Kompas.com

Mitos Istora Senayan

Jimmy S Harianto
Kompas.com - 13/06/2017, 17:17 WIB
KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, mengembalikan kok dari pemain Denmark, Jan O Jorgensen, pada babak pertama BCA Indonesia Open Superseries Premier 2016 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Rabu (1/6/2016).

KOMPAS.com - Di kalangan masyarakat bulu tangkis dunia di tahun 1970-an, 1980-an, Istora Senayan dikenal sebagai arena pertandingan yang paling angker. Bukan karena ada hantunya, akan tetapi atmosfernya.

Orang boleh juara di All England di Wembley Arena, London. Atau Japan Open di Yoyogi Stadium di Tokyo. Tetapi kalau belum pernah juara di Istora Senayan, ia belum dipandang publik bulu tangkis sebagai juara sejati.

“Perlu tiga minggu tinggal di sini, untuk bisa menyesuaikan dengan cuaca panas Istora,” ungkap jago bulu tangkis Denmark, Morten Frost Hansen ketika saya wawancara saat ikut serta Kejuaraan Indonesia Terbuka pada pertengahan Agustus 1982.

Dan memang, sejak 1982 itu praktis hanya pemain-pemain Asia saja yang mampu tampil sebagai juara di Istora Senayan, kecuali Jan Ø Jorgensen dari Denmark pada 2014.

Morten, yang empat kali juara All England pada 1982, 1984, 1986 dan 1987, termasuk pemain Eropa yang bisa menyesuaikan dengan atmosfer khas Istora Senayan -- publiknya riuh rendah bak penonton sepak bola, serta arenanya pengap, panas ditambah udara lembab Jakarta yang membuat pemain cepat mandi keringat. Tetapi juara Indonesia Open? Morten belum pernah.

Ketika Indonesia memutuskan untuk memasang pendingin ruangan (AC) di Istora Senayan, menjelang digelarnya perebuatan Piala Thomas dan Uber pada 10-21 Mei 1994, publik bulu tangkis Indonesia banyak yang menyarankan – sebaiknya jangan dipasang. Sebab, hawa dingin hanya akan menguntungkan pemain-pemain dari negara dingin.

Dan memang, semenjak Istora pakai pendingin ruangan 1994 pemain-pemain Eropa yang biasanya kepanasan, dan bertelanjang dada seusai bertanding di pinggir lapangan Istora, -- kini jadi nggak “terpanggang” kepanasan lagi seperti dulu.

Apalagi gelaran BCA Indonesia Open Super Series pada 12-18 Juni 2017 kali ini digelar di tempat yang lebih adem, di Jakarta Convention Centre Senayan. Wah, tambah sejuk lagi.

Jika All England, yang biasa digelar di kesejukan musim semi di Inggris bulan Maret, dikenal sebagai “kejuaraan dunia tak resmi” (bagi pemain bulu tangkis top dunia dianggap lebih bergengsi dari menyandang gelar Juara Dunia), maka Indonesia Open di Istora Senayan bagi orang jago-jago bulu tangkis Eropa dianggap sebagai “arena jago bulu tangkis sejati”. Ayo kita tonton.

Kalau soal atmosfer penontonnya? Publik All England di Wembley Arena sungguh sopan sekali. Bertepuk seperti layaknya penonton konser musik klasik, tepukan sopan, tanpa pekikan.

Seperti juga publik tenis mereka di Wimbledon. Yang bahkan pemainnya pun wajib harus menghormat dengan cara membungkuk sebelum bermain. Khas Inggris, demi menghormat tamu VIP atau bangsawan setempat jika bermain di Centre Court.

Apakah gelaran BCA Indonesia Open Super Series 2017 yang tak lagi di Istora Senayan akan seangker tahun-tahun sebelumnya?

Wallahualam. Istora terpaksa kali ini ditinggalkan, lantaran gelanggang bulu tangkis di gedung basket yang legendaris tersebut tengah direnovasi untuk persiapan sebagai venue pesta olahraga Asian Games 2019 Jakarta.

 

EditorJalu Wisnu Wirajati
Komentar