Kamis, 2 Oktober 2014

News /

TAKTIK STRATEGI

Jangan Sampai Krisis Waktu

Senin, 20 Mei 2013 | 03:42 WIB

Krisis waktu dalam pertarungan catur bisa berakibat fatal. Pecatur sekelas GM Susanto Megaranto pun masih juga mengalaminya.

Kisah pahit itu bertempat di Kejuaraan Catur Kontinental Asia Piala Manny Pacquiao, Pasay City Manila, Filipina, Sabtu (18/5). Babak pertama, Susanto sudah menang langkah sejak menit pertama atas pecatur Filipina, Master Internasional Chito Garma.

Malang tak kuasa ditolak, duel sekitar empat jam itu berakhir remis. Susanto dan Garma berbagi poin, setengah. ”Aduh, sudah menang segalanya sejak awal, malah krisis waktu. Jadi remis begini,” kata Susanto sambil meringis.

Krisis waktu juga dialami Master FIDE Hamdani Rudin saat melawan GM Santosh Gujrathi Vidit (India). Gelar dan rating Vidit memang lebih tinggi. Rating Vidit 2549, Hamdani 2341. Namun, bukankah tidak ada yang mustahil di dunia ini? Jika tidak menderita krisis waktu, Hamdani mungkin mengimbangi, mungkin menang.

Krisis waktu adalah menipisnya jatah waktu untuk berpikir dan melangkahkan buah catur pada 90 menit pertama duel. Terlalu lama berpikir karena kurang berkonsentrasi atau sebab lain bisa menjadi penyebab.

Turnamen ini memakai Sistem Swiss, yakni dimainkan dalam sembilan babak dan merujuk peraturan federasi catur dunia, FIDE. Dalam jatah 90 menit pertama, seorang pecatur harus mencapai 40 langkah. Jika belum 40 langkah, tetapi waktu telah berjalan 1 jam 30 menit, jam penanda waktu akan memunculkan tanda, semacam bendera. Bisa juga jam itu mati. Pecatur pun dinyatakan kalah.

Jika 90 menit dilalui dengan aman, setiap pecatur otomatis diganjar tambahan waktu 30 menit (plus 30 detik per langkah). Jika langkah makin banyak karena mampu berpikir cepat, waktu pertarungan bisa kian bertambah. ”Bisa sampai lima-enam jam, tetapi rata-rata tiga-empat jam,” kata Evi Lindiawati, asisten pelatih timnas catur putri.

Karena itu, kecermatan dan ketenangan di 90 menit pertama menjadi penting. ”Kalau sudah mepet, jadi seperti dikejar-kejar, langkah kita bisa salah, blunder,” ujar Hamdani.

Dalam krisis waktu itulah langkah Susanto jadi tidak cermat. Apalagi, Garma adalah pecatur ”jagoan lama” yang punya pengalaman tanding lebih lama. ”Dia mengadu benteng. Genius. Telanjur krisis waktu, keadaan jadi berbalik,” kata Susanto.

Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PB Percasi Kristianus Liem berpendapat, Susanto dan Hamdani masih merasa lelah, kurang istirahat. ”Sekali lagi, yang penting diperhatikan pecatur: tidur cukup,” katanya.

Untuk menunjang kebugaran, PB Percasi membuat program olahraga, seperti joging dan senam aerobik. ”Yang penting bugar. Kalau angkat beban, sih, tidak perlulah. Catur, kan, olahraga mikir,” kata Kristianus. (IVV)


Editor :