Sabtu, 25 Oktober 2014

News /

KOLOM OLAHRAGA

Islamic Solidarity Games

Kamis, 25 April 2013 | 02:32 WIB

Oleh Mohammad Bakir

Baru sekali digelar di Arab Saudi, pelaksanaan Islamic Solidarity Games dua kali berikutnya harus tertunda. Pergelaran pertama di Arab Saudi berlangsung sukses dan tuan rumah langsung merebut gelar juara umum. Indonesia hanya menduduki peringkat ke-18 dari 50 negara peserta dengan merebut satu medali emas, satu perak, dan dua perunggu.

Ajang empat tahunan kedua pesta olahraga negara-negara Islam ini mestinya digelar pada 2009. Namun, pelaksanaannya terpaksa ditunda karena Iran sebagai negara tuan rumah tengah dilanda flu burung (H1N1). Sesuai jadwal, ajang ketiga Islamic Solidarity Games (ISG) di Indonesia digelar pada Juni 2013. Namun, lagi-lagi ditunda dan penundaannya berhubungan dengan kesiapan kita sebagai tuan rumah.

Bicara soal kesiapan, dalam dua ajang olahraga pada beberapa tahun terakhir ini, dua kali juga Indonesia membuat persiapan seadanya. Ketika hendak menggelar SEA Games 2011, Indonesia dihadapkan pada bermacam persoalan, baik kesiapan sarana dan prasarana maupun kesiapan atlet.

Penyelesaian pembangunan beberapa sarana—seperti kolam renang atau arena dayung dan beberapa arena yang akan dipakai pada November 2011, baik di Jakarta maupun Palembang—nyaris bersamaan dengan pembukaan pesta olahraga itu. Tidak hanya itu, seusai pergelaran SEA Games, muncul persoalan baru, yakni tidak terurusnya peralatan SEA Games yang sudah dibeli dengan uang pajak tersebut.

SEA Games berjalan sukses dan Indonesia meraih gelar juara umum, di tengah suasana Thailand yang saat itu baru dilanda banjir cukup besar sehingga tidak dapat mempersiapkan atletnya dengan cukup baik.

Jadi tersangka

Kurang dari setahun SEA Games digelar, Indonesia kembali harus melaksanakan Pekan Olahraga Nasional (PON). Provinsi Riau sebagai tuan rumah PON juga selalu menyatakan siap melaksanakannya. Akan tetapi, lagi-lagi kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kesiapan PON masih jauh dari memadai.

Ujung-ujungnya, Ketua Harian PB PON yang juga Gubernur Riau Rusli Zainal ditetapkan menjadi tersangka terkait dengan pembangunan arena menembak Riau pada 2012. Bahkan, sampai saat ini stadion utama yang rencananya dijadikan sebagai tempat pembukaan PON masih belum juga selesai.

Awalnya, pelaksanaan ISG akan menggunakan sarana dan prasarana yang telah dipakai untuk PON 2012 di Riau. Namun, lagi-lagi, akibat molornya penyelesaian beberapa arena lomba—bahkan stadion utama yang akan dijadikan tempat pembukaan dan penutupan—di Pekanbaru, ditambah pemblokiran anggaran Kementerian Pemuda dan Olahraga, pemerintah akhirnya mengambil keputusan mengalihkan lokasi ISG ke Jakarta.

Pemblokiran anggaran Kemenpora berdampak pada persiapan atlet. Banyak pemusatan latihan tertunda atau, kalaupun berjalan, tertatih-tatih karena kucuran dana yang seret. Berbeda dengan pelaksanaan SEA Games yang pembukaan dan penutupannya dibiayai sponsor, sumber dana ISG sepenuhnya dibiayai pemerintah.

Berharap sumbangan dana dari sponsor merupakan keniscayaan dalam olahraga. Pada banyak ajang olahraga internasional, dana dari sponsor justru menjadi sumber utama pembiayaan. Pertanyaannya, mengapa sponsor kurang tertarik untuk membiayai ajang ini.

Negara kaya

Diakui atau tidak, olahraga adalah salah satu cara mempromosikan keberhasilan negara yang cukup efektif. Pada ISG pertama di Arab Saudi, hampir seluruh negara kaya minyak di kawasan Timur Tengah hadir pada ajang olahraga ini. Mestinya Indonesia dapat ”menjual” apa pun bagi kontingen negara kaya tersebut.

Apalagi, Indonesia gencar mempromosikan konsep Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia yang membutuhkan banyak dana, baik dari luar maupun dari dalam negeri. Masalahnya, untuk mengelola persoalan dalam negeri saja, semisal ISG, pemerintah belum mampu. Wajar jika pemilik modal di luar negeri pun belum yakin terhadap keamanan dananya di Indonesia.

Menarik sponsor untuk olahraga atau ”menjual” Indonesia tidak hanya memerlukan strategi penjualan, tetapi juga kesiapan kita di dalam. Sayangnya, pembinaan olahraga di Indonesia berjalan apa adanya seolah tanpa perencanaan. Kalaupun perencanaan itu ada, kenyataan di lapangan jauh dari ideal.

Kecuali di beberapa cabang olahraga, seperti bulu tangkis, atletik, dan angkat besi, kita tidak memiliki kejuaraan berjenjang dan terjadwal di hampir semua cabang olahraga. Bahkan, olahraga yang bisa dijual, seperti sepak bola, sekarang pun kesulitan mendapatkan sponsor akibat perseteruan internal.

Sebelum dapat menarik sponsor, pemerintah mestinya menjembatani kebutuhan dana pembinaan olahraga. Di tengah kesulitan cabang olahraga mencari dana, rasanya mustahil kita meraih prestasi membanggakan. Perlu kesadaran dan perhatian bersama untuk dapat meraih prestasi itu.


Editor :