Sabtu, 1 November 2014

News / Olahraga

PON Riau

Riau, PON Paling Dinamis

Kamis, 20 September 2012 | 13:46 WIB

KOMPAS.com -- Olahraga memang dinamis. Semboyan citius altius fortius yang berarti lebih cepat, lebih tinggi dan lebih kuat, adalah rohnya olahraga. Siapa yang lebih cepat dan lebih kuat adalah orang-orang yang patut mendapat derajat lebih tinggi. Gelar sebagai juara pantas disandang.

Sejak PON dibawa ke luar Jakarta, kumpulan atlet ibukota negara ini, tidak lagi melulu menjadi kumpulan yang terbaik. Akan tetapi, DKI Jakarta tetap diperhitungkan sebagai barometer olahraga. Hanya saja, pertarungan merebut gelar bergengsi dalam dunia olahraga nasional, semakin ketat.

PON ke-15 tahun 2000, tatkala Jawa Timur yang menjadi tuan rumah, sukses meruntuhkan dinasti DKI untuk merebut juara umum. Empat tahun kemudian, DKI bangkit di PON Sumsel 2004 untuk mengambil alih mahkota yang hilang. Jawa Timur pun tidak diam, pada PON Kalimantan Timur 2008, piala juara umum kembali dibawa ke negeri para arek itu.

Di Riau tahun ini, perebutan tahta terbaik olahraga nasional menjadi lebih seru dan dinamis. Sejak awal pelaksanaan, posisi perolehan medali menjadi ajang salip-menyalip. Ibarat tarung MotoGP, posisi tiga besar, silih berganti dikuasai oleh Jawa Timur, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Tuan rumah Riau memang sempat unggul di hari-hari pertama, namun kondisi itu lebih disebabkan laga final belum banyak.

Di awal, start DKI Jakarta tampak terseok-seok, sementara Jawa Barat dan Jawa Timur lebih unggul. Menjelang hari-hari terakhir, Jawa Timur, justru tersendat-sendat dan kebalikannya, DKI Jakarta tampil perkasa. Perlahan dan pasti, DKI Jakarta menyodok mengejar Jawa Barat. Penentuan juara umum baru dapat ditentukan pada lap terakhir menjelang penutupan.

Pada saat finish, DKI Jakarta akhirnya mengungguli calon tuan rumah PON 2016, Jawa Barat, dengan 108 medali emas, 101 perak dan 110 perunggu. Jawa Barat menjadi runner up dengan selisih enam emas, atau lengkapnya 102 emas, 76 perak dan 102 perunggu. Adapun sang juara bertahan, Jawa Timur harus puas bertengger di posisi ketiga dengan 85 emas, 87 perak dan 83 perunggu. DKI Jakarta unggul dalam cabang-cabang  senam (13 emas), aerosport (8 emas), akuatik (7 emas), atletik, wushu, golf, boling dan selam masing-masing (6 emas), biliar (5 emas), catur, judo, tenis dan sepatu roda masing-masing (4 emas), taekwondo, layar, kempo dan karate masing-masing (3 emas).

Secara keseluruhan, DKI Jakarta meraih emas 29 cabang, dari 39 cabang yang diikuti. Jawa Barat perkasa dari cabang renang dengan 22 medali emas dari total 32 nomor yang diperlombakan. Angkat besi/angkat berat (7), atletik dan judo masing-masing (6), balap sepeda, dayung dan taekwondo masing-masing (5) serta pencak silat dan catur masing-masing (4).

Sama seperti DKI Jakarta, Jawa Barat mengumpulkan emas dari 29 cabang. Perebutan posisi level kedua, juga tidak kalah seru. Menjelang penutupan, tiga daerah, yakni Kalimantan Timur, Riau dan Jawa Tengah  masih berkutat merebut posisi keempat. Sehari sebelumnya, pada 18 September, Kalimantan Timur, berada di posisi keempat, Riau kelima, dan Jawa Tengah keenam, dengan selisih hanya satu medali emas.

Ketika seluruh pertandingan berakhir pada 19 September, baru dapat dipastikan Jawa Tengah menempati posisi keempat, Kalimantan Timur kelima, dan tuan rumah Riau keenam, dengan selisih medali emas yang sangat tipis. Jawa Tengah  tertolong perolehan dua medali emas dari bulutangkis pada hari terakhir. Kalimantan Timur, terdongkrak perolehan 14 medali emas dari cabang gulat dari total 16 emas yang diperebutkan.

Adapun Riau, kehabisan bahan bakar di garis finish. Niatan tuan rumah menempati posisi lima besar, gagal total. Padahal, Gubernur Riau Rusli Zainal sempat melontarkan wacana menjadi juara umum.

Pembinaan jangka panjang

Sangat menarik mengkaji perolehan umum medali di PON Riau ini. Kemenangan DKI Jakarta, tidak terlepas dari pembinaan jangka panjang yang dilakukan para pengurus olahraganya semenjak kekalahan di Kalimantan Timur 2008.

Ketua Kontingen DKI, Eddy Widodo mengungkapkan, sepulang dari Kalimantan Timur, DKI Jakarta langsung melakukan evaluasi besar-besaran terhadap seluruh cabang olahraga. Pemusatan latihan daerah sudah dimulai pada tahun 2009. Beberapa cabang berlatih di luar negeri dan memberi kesempatan try out kepada atlet untuk menambah jam terbang pertandingan.

Bukan hanya prestasi, soal pendukung di arena pertandingan pun dipikirkan DKI Jakarta. Mereka merekrut puluhan pemuda Riau asli, untuk menjadi pemimpin para suporter, dengan program semacam training for traineers di Jakarta. Para pemuda itu diberi pelatihan menyanyikan lagu-lagu yang dapat membangkitkan rasa patriotisme dan heroisme atlet.

Setelah melewati program di Jakarta, puluhan pemuda itu merekrut timnya sendiri di Riau. Mereka kemudian bergabung dengan suporter asal Jakarta, untuk menghidupkan suasana arena pertandingan setiap atlet DKI Jakarta bertanding. Tidak heran apabila suporter DKI menjadi kelompok paling simpatik dan berkesan selama penyelenggaraan PON Riau.

Meski sukses menjadi juara umum, Eddy menyatakan masih banyak cabang yang tidak memenuhi target. "Seusai PON Riau ini pun kami akan melakukan evaluasi besar-besaran lagi. Beberapa cabang seperti renang, pencak silat, menembak, ski air dan tinju tidak memenuhi target. Di Riau, kami memiliki 101 medali perak, atau mengalami kekalahan di partai final. Ini yang akan kami evaluasi lagi," ujar Eddy.

Jawa Timur sebenarnya mempersiapkan hal serupa seperti DKI. Bahkan menurut Ketua Harian KONI Jawa Timur, Dhimam Abror, dua tahun menjelang PON, tim aju Jawa Timur sudah meneliti kondisi penginapan atlet di kota-kota lokasi pertandingan. Mereka menyewa beberapa rumah di Pekanbaru, dan mempersiapkan penginapan cadangan. Ketika  ternyata penginapan atlet bermasalah dan kurang memenuhi standar, Jawa Timur tidak terlalu ribut. Mereka dengan tenang memindahkan atletnya ke tempat yang sudah disediakan jauh-jauh hari.

Kegagalan Jawa Timur di Riau, kata Dhimam, murni masalah internal. Jawa Timur kurang dapat mengantisipasi perubahan nomor-nomor pertandingan setelah PON Kalimantan Timir 2008.

"Banyak nomor andalan kami yang tidak dipertandingkan lagi. Misalnya, panahan dari 24 nomor di Kalimantan Timur, menciut menjadi 12 nomor di Riau. Aeromodeling dari 12 menjadi tujuh. Ski air, nomor jumping putra dan putri yang merupakan andalan Jawa Timur tidak dipertandingkan, padahal di SEA Games nomor ini ada," kata Dhimam. 

Jawa Timur betul-betul terhenyak melihat kebangkitan renang Jawa Barat. Tulang punggung cabang renang Eni Susilowati, Fibriyani Ratna Marita, Omar Suryaatmaja dan Erlina Yacob yang menyumbangkan 16 emas di Kalimantan Timur 2008, gagal total mempertahankan kedigdayaannya. Jawa Timur tidak mendapat satu medali emas pun di Riau.

Jawa Barat memang panen emas di kolam renang. Lebih dari dua pertiga emas kolam renang (22 dari 32 emas), direbut perenang andal Jawa Barat yang dimotori Glenn Victor, Ressa Kania Dewi, Triadi Fauzi, dan Yessy V Yosaputra. Keperkasaan Jawa Barat meluluhlantakkan harapan Jawa Timur dan DKI Jakarta.

Ketua KONI Jawa Barat, Azis Syarif  mengakui, renang memang mendongkrak perolehan medali tim Tanah Pasundan itu. Namun, bukan berarti cabang lain tidak ikut memberikan sumbangsih. Sumbangan dari cabang lain seperti judo, balap sepeda, dayung dan cabang-cabang lainnyanya sangat berarti.

Jawa Barat memulai pelatihan untuk PON semenjak tahun 2010. Selama tiga bulan menjelang PON, sembilan cabang berlatih intensif di Korea Selatan. Program itu termasuk memakai jasa pelatih Negeri Ginseng itu. Hasilnya sangat signifikan. Beberapa cabang menunjukkan hasil menggembirakan, semisal menembak menyumbang dua emas, dari semula hanya perunggu, judo menjadi juara umum dengan enam emas dan beberapa emas lainnya.

Menurut Azis, Jawa Barat akan melanjutkan trend peningkatan prestasi di PON Riau, saat menjadi tuan rumah tahun 2016. Target Jawa Barat sudah pasti menjadi juara umum.

Jawa Tengah beruntung dapat menduduki posisi keempat. Hal itu lebih disebabkan tuan rumah, "malu-malu" mendatangkan atlet luar daerah, seperti kelakuan Kalimantan Timur saat menjadi tuan rumah dahulu.

Gubernur Riau, Rusli Zainal sebenarnya melanggar janjinya, dengan mengatakan tidak akan membeli atlet dari luar Riau. Kenyataannya, beberapa atlet Riau, seperti I Gede Siman (renang), Yon Mardiono (tenis meja), Asmaul Husna (karate), David Agung (tenis) yang menyumbangkan emas adalah atlet luar yang dibeli. Pantas saja, apabila Riau mampu meraih medali cabang-cabang  itu untuk pertama kalinya dalam sejarah PON.

Adapun Kalimantan Timur harus sangat berterima kasih kepada Suryadi Gunawan. Mantan pegulat nasional yang kini menjadi pelatih itu, sukses mempertahankan kejayaan olahraga adu otot itu untuk tetap berada di Kalimantan Timur selama hampir seperempat abad. Kalimantan Timur merupakan satu-satunya mantan tuan rumah PON di luar Jawa, yang mampu tetap bercokol di urutan lima besar.

Sewaktu menjadi tuan rumah tahun 2008, Kalimantan Timur memang mengungguli Jawa Barat untuk menduduki posisi nomor urut tiga dengan perolehan 116 emas, di bawah Jawa Timur dan DKI Jakarta. Namun harap diingat, prestasi besar itu disebabkan Kalimantan Timur membeli setidaknya 144 atlet berprestasi nasional sebelumnya. Di Riau 2012, inilah prestasi Kalimantan Timur sesungguhnya.

Jadi, begitulah ketatnya persaingan untuk menuju puncak. Meskipun didera dilema dan prahara, PON Riau 2012 patut diberi apresiasi sebagai PON paling dinamis dalam persaingan menuju yang terbaik.


Penulis: Syahnan Rangkuti
Editor : Nasru Alam Aziz