AFP/ADEK BERRY
Ganda campuran Indonesia, Liliyana Natsir (depan) dan Tontowi Ahmad.
JAKARTA, KOMPAS.com — Peraih medali perak Olimpiade Barcelona 1992, Eddy Hartono, mengharap PBSI mau terbuka lagi menerima masukan untuk perbaikan bulu tangkis Indonesia.
Hal ini diungkapkan oleh Eddy Hartono mengenai hasil terburuk bulu tangkis Indonesia di Olimpiade London 2012 dengan tidak memperoleh medali apa pun. Hasil ini merupakan yang terburuk sejak bulu tangkis dipertandingkan di Barcelona pada 1992.
"Minggu lalu saya kaget saat bertemu Christian di Jakarta. Saya tanya lho, Koh Chris tidak berangkat ke London?" kata Eddy yang biasa dipanggil Kempong. Saat itu Christian hanya diam dan angkat bahu.
Bagi Kempong, dalam sebuah event besar, apalagi sepenting olimpiade, kehadiran orang-orang yang berpengalaman sangat dibutuhkan. "Orang di pinggir lapangan atau dalam tim biasanya bisa lebih jeli melihat situasi yang dihadapi pemainnya di lapangan dan mereka bisa mencari solusinya," katanya.
Christian, dengan segudang pengalaman sebagai pemain (sejak 1970) dan pelatih (sejak 1986), menurut Kempong, selalu cermat mengamati perkembangan pertandingan. "Sebagai pelatih, ia selalu memberi masukan kepada saya, 'Pong kamu mainnya harus diubah, atau harus dipercepat'," kata Eddy lagi.
Sebagai pemain, Christian Hadinata pernah menjadi juara All England hingga juara dunia. Ia mengundurkan diri pada 1986, sebelum bulu tangkis dipertandingkan di olimpiade. Setelah itu ia langsung menjadi pelatih dan mendampingi para pemain sejak Olimpiade 1992 hingga 2008.
Menurut Eddy Hartono, pelatih atau pengurus yang berpengalaman itu dibutuhkan untuk menyiapkan strategi bukan hanya memenangi pertandingan, melainkan juga memenangi turnamen. "Ia harus mengenal sistem pertandingan yang berlaku, lawan-lawan yang akan dihadapi dan kalau perlu mengenal karakteristik lapangan dan penonton, selain karakter pemainnya sendiri," kata Kempong. "Ibaratnya jenderal yang lengkap, jago di strategi dan paham lapangan."
Sebagai pemain, Kempong pernah merasakan situasi kebingungan, bahkan kehilangan akal saat di lapangan. "Dalam situasi seperti itu, biasanya pemain akan melirik ke pelatih pendamping atau orang yang berada di tribun. Itu psikologis saja, untuk menenangkan hati."
"Apalagi kalau bebannya berat seperti yang dialami Tontowi (Ahmad) dan Liliyana (Natsir) kemarin, mereka pasti butuh figur yang bisa mereka percaya untruk berbagi beban yang berat itu," kata Kempong.
