Kamis, 23 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Mei 2013 | 20:57 WIB
Tony Gunawan Masih Ingin Kembali ke Olimpiade
Selasa, 31 Juli 2012 | 23:19 WIB
Dibaca:
|
Share:
AFP/Adek Berry Tony Gunawan (kiri) dan Howard Bach

LONDON, KOMPAS.com — Mantan pebulu tangkis nasional, Tony Gunawan, masih berharap dapat mengikuti kembali olimpiade masa mendatang meski sebagai pelatih.

Meski tersingkir di babak penyisihan grup, Tony yang tampil berpasangan dengan Howard Bach mengaku tidak menyesal mengikuti kompetisi olahraga terbesar di dunia yang diselenggarakan empat tahun sekali itu.
    
"Semula saya ragu untuk mengikuti olimpiade ini. Maklumlah sudah 12 tahun berselang, dan saya sudah tidak muda lagi," ujar Tony yang ditemui seusai bertanding di Wembley Arena, London, Senin (30/7/2012).
    
"Tetapi, untung saya akhirnya memutuskan berangkat, karena rasanya saya jadi mengingat kembali momen-momen itu," kata peraih medali emas ganda putra Olimpiade Sydney 2000 bersama Candra Wijaya itu.
    
Bedanya, saat itu ia masih membela "Merah Putih," sekarang ia membela "Stars and Stripes" setelah ia resmi menjadi warga negara Amerika sejak 6 September 2011.

Bedanya lagi, tahun 2000 ia menyumbang emas untuk "Merah Putih," sementara kali ini ia dan pasangannya Howard Bach tersingkir di babak penyisihan grup setelah tidak meraih satu kemenangan pun. "Dulu masih muda, sekarang sudah berumur, tidak bisa lagi bersaing dengan yang muda-muda," kata ayah dua putra itu.
    
Namun, kenangan dan kebanggaan tentang olimpiade yang dilaluinya membuat ia bermimpi suatu saat nanti dapat kembali lagi.
    
Bersama  Candra Wijaya, ia mempertahankan tradisi medali emas bagi Indonesia pada 2000 di Sydney. Ia juga meraih sejumlah gelar bergengsi, di antaranya juara dunia dan All England, sebelum akhirnya memutuskan untuk hijrah ke Amerika Serikat.
    
Ia memutuskan mengawali karier sebagai pelatih di Orange County Badminton Club di Orange County, California, dan membantu mempopulerkan bulu tangkis di AS.
    
Ia bahkan masih sempat meraih gelar juara dunia bagi AS saat berpasangan dengan Bach pada 2005 saat kejuaraan tersebut digelar di Anaheim, AS.  
    
Dan kini, setelah 12 tahun berlalu, ia kembali lagi ke arena bergengsi olimpiade, yang pesertanya harus melalui kualifikasi yang ketat dan panjang di usianya yang sudah mencapai 37 tahun.

Dua kali olimpiade ternyata tidak cukup bagi Tony, tetapi untuk yang ketiga kalinya ia tidak ingin datang sebagai pemain. "Mudah-mudahan saya bisa kembali lagi sebagai pelatih," katanya.
    
Untuk mewujudkan mimpinya itu, mantan pemain Pelatnas Indonesia tersebut sejak setahun yang lalu mendirikan akademi bulu tangkis di Pomana, California.
    
Akademi yang dinamai Global Badminton Academy itu ia dirikan bersama istrinya yang juga mantan pebulu tangkis Indonesia, Etty Tantri.
    
Tony mengatakan, saat ini akademi yang ia dirikan itu sudah menjaring 33 murid yang usianya berkisar antara 7-16 tahun. "Akademi ini membuka latihan empat kali seminggu, tetapi pesertanya terserah mau ambil berapa kali seminggu," kata pria kelahiran Surabaya, 9 April 1975, itu.
    
Karena ingin fokus pada akademi yang ia dirikan itu, Tony memutuskan untuk meninggalkan bulu tangkis internasional sebagai pemain dan hanya akan ambil bagian dalam turnamen-turnamen lokal seperti AS Terbuka.
    
"Olimpiade ini mungkin turnamen terakhir saya. Mungkin saya hanya akan bertanding di turnamen lokal seperti AS Terbuka," kata Tony, yang di Indonesia pernah berpasangan dengan Candra Wijaya, Halim Haryanto, bahkan Rexy Mainaky.
    
"Kalau saya bertanding terus, siapa yang mengurus akademi," kata peraih penghargaan "US Olympic Committee Team of The Year 2005" itu karena menjadi pasangan peraih gelar juara dunia bulu tangkis pertama bagi AS.

Olimpiade ini mungkin turnamen terakhir saya. Mungkin saya hanya akan bertanding di turnamen lokal seperti AS Terbuka.
Sumber :
ANT
Editor :
A. Tjahjo Sasongko