Di babak final tunggal putra, Minggu (8/7), Federer menghadapi pemenang pertandingan semifinal antara Andy Murray dan Jo-Wilfried Tsonga.
Federer (peringkat ketiga dunia) dan Djokovic si pemuncak dunia itu sudah 26 kali berhadapan. Duel mereka yang terakhir adalah di semifinal Perancis Terbuka 2012 dengan hasil Djokovic melibas Federer. Kini, dendam Federer di Perancis terbalas di Inggris dan gelar juara Wimbledon pun semakin dekat.
Djokovic yang pada awal set pertama menguasai pertandingan berubah tak berdaya menghadapi Federer yang bermain dengan ritme pelan. Federer menyamakan kedudukan menjadi 2-2 dan terus meraih kemenangan sampai set pertama berakhir. Djokovic merebut kemenangan pada set kedua setelah lebih berani membombardir Federer.
Pertandingan pada set ketiga semakin sengit karena kedua pemain tiga kali menyeimbangkan kedudukan, yaitu 2-2, 3-3, dan 4-4. Federer yang lebih lihai bermain di dekat net membuat Djokovic lagi-lagi takluk.
Perlawanan Djokovic pada set keempat semakin lemah. Djokovic mencoba mengimbangi Federer dengan bermain mendekati net, tetapi Federer meladeni dengan menjatuhkan bola ke arah baseline yang mementahkan perlawanan Djokovic. Permukaan lapangan yang licin menyulitkan Djokovic. Petenis dengan tinggi 188 cm itu juga sering membuat kesalahan.
Federer menuturkan, setelah tersingkir di perempat final tahun 2010 dan 2011, sekarang saatnya merebut kemenangan di Wimbledon. Saat ini petenis Swiss itu telah mencetak rekor sebagai petenis yang delapan kali mencapai final Wimbledon dan enam kali menjadi juara.
”Permainan saya hari ini luar biasa. Djokovic bermain bagus pada set pertama dan kedua, tetapi kunci kemenangan adalah set ketiga,” kata Federer.
Djokovic mengungkapkan, tenaganya mulai terkuras pada set keempat. Itu yang membuat ia tampil ceroboh dan melakukan servis yang buruk. Menurut petenis asal Serbia itu, sangat sulit mencapai hasil maksimal dengan energi yang semakin menipis.
