JAKARTA, KOMPAS.com — Sepenggal bait lagu "Kasih Ibu kepada Beta" menggambarkan bagaimana besarnya pengorbanan seorang ibu bagi anaknya. Laksana matahari, kasih ibu tak hentinya menyinari bumi tanpa mengharapkan balasan. ...hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia..., demikianlah penggalan lagu tersebut.
Ibu hanya mau memberikan yang terbaik bagi putra dan putrinya. Tak ada sedikit pun niat untuk menghancurkan masa depan anaknya. Malah sebaliknya, dengan berbagai upaya, dia akan berusaha menghalau segala rintangan demi masa depan sang buah hati.
Itulah yang dirasakan dan diakui dua mantan atlet terbaik Indonesia, Susy Susanti dan Richard Sam Bera, yang pernah mengharumkan nama Indonesia dalam ajang Olimpiade. Susi untuk pertama kalinya mempersembahkan medali emas bagi Indonesia di Olimpiade Barcelona 1992, sedangkan Richard tiga kali tampil di kegiatan olahraga empat tahunan tersebut.
"Ibu menjadi pendukung nomor satu dalam keberhasilan saya. Dia sosok yang menepis keraguan saya ketika saya sempat hampir menyerah. Sosok yang selalu menjadi alarm bagi saya di pagi hari, menyiapkan nutrisi terbaik, juga motivator yang menanamkan pada diri saya bahwa sesungguhnya peluang itu tak terbatas. Semua orang dapat meraih apa yang diinginkannya atas dasar keinginan dan usaha yang kuat," demikian pernyataan Susy ketika hadir dalam progrm P&G Proud Sponsor of Moms dan kampanye Thank You Mom Indonesia, Selasa (19/6/2012), di Jakarta.
Susy, kelahiran 11 Februari 1971, mengakui bahwa sang ibu, Purwo Banowati, tak kenal lelah memberikan dorongan dan telaten dalam membimbingnya. Alhasil, Susi pun menikmati hasil jerih payah ibunya. Dia membayar semuanya dengan prestasi yang tentu saja bukan hanya membanggakan keluarga, melainkan juga bagi Indonesia.
Dari ibu dan keluarga pula Susy belajar banyak hal, terutama etika, disiplin, dan sikap menghadapi suatu masalah. Hal itu pula yang selalu ditanamkan kepada anak-anaknya.
"Orangtua selalu mengingatkan supaya saya tidak boleh sombong ketika menghadapi suatu kemenangan. Saya juga tidak boleh lengah ataupun puas dengan hasil yang sudah diraih karena masih ada tantangan ke depannya," ungkap Susy yang menambahkan bahwa ibunya selalu setia jadi pendamping meskipun ada pihak-pihak yang mau menjatuhkannya.
Hal serupa dirasakan Richard yang pernah merajai kolam renang Asia Tenggara (tujuh kali menyabet emas SEA Games nomor 100 meter). Ia mengakui, dukungan tulus sang ibu, Maartje Kullit (almarhum), yang membuatnya bisa meraih prestasi bagus meskipun sang ibu tidak pernah menekannya untuk menjadi juara dalam bidang apa pun.
Menurut Richard, ibu selalu menanamkan keyakinan kepadanya untuk mengeluarkan dan melakukan yang terbaik dalam segala hal. Motivasi ini secara tidak langsung menjadi pemicu setiap kali menghadapi sebuah pertandingan sehingga dirinya bisa tampil maksimal untuk meraih prestasi, termasuk tiga kali tampil di Olimpiade.
