Mia Audina (kiri) saat meraih medali perak Olimpiade Atlanta 1996 bersama Susy Susanti (kanan) yang meraih perunggu.
JAKARTA, KOMPAS.com — Legenda bulu tangkis Indonesia, Susy Susanti, mengakui, sempat terjadi kekosongan generasi bulu tangkis di sektor tunggal putri pada era 1990-an. Inilah yang memberikan efek berkepanjangan terhadap regenerasi sektor tersebut, yang membuat prestasi Indonesia di sektor tunggal putri tak kunjung membaik.
Padahal, ketika Indonesia memiliki salah seorang pemain muda berbakat, yaitu Mia Audina, ada tujuh pemain yang potensial. Sayang, hanya Mia yang mendapat perhatian utama sehingga yang lain tersisih.
"Di zaman saya, dulu ada tujuh tunggal putri. Salah satu yang paling muda dan menonjol adalah Mia Audina," ujar Susy saat menghadiri acara peluncuran video program P&G untuk kampanye bertemakan "Thank You Mom Indonesia", Selasa (19/6/2012), di Jakarta.
Satu "kesalahan" yang dilakukan PBSI saat itu, lanjut Susi, adalah hanya memperhatikan Mia sehingga yang lain ditinggalkan, bahkan ada yang ke luar negeri. Namun, Mia akhirnya harus ikut suaminya ke Belanda sehingga ada periode di mana Indonesia tak punya pemain tunggal putri.
Memang Mia menjadi salah satu pemain fenomenal yang pernah dimiliki Indonesia. Dia menjadi pemain termuda yang pernah membawa Indonesia meraih gelar Piala Uber 1994, ketika masih berusia 14 tahun. Pada 1996 pun Mia membawa Indonesia sebagai juara Piala Uber. Mia juga menjadi peraih medali perak Olimpiade 1996 di Atlanta, Amerika Serikat.
Selain itu, pemain kelahiran 22 Agustus 1979 tersebut menorehkan sejumlah prestasi membanggakan, antara lain juara Indonesia Terbuka 1998, juara Jepang Terbuka 1997, dan juara Singapura Terbuka 1997.
Pada tahun 1999, Mia menikah dengan warga negara Belanda, Tylio Arlo Lobman, kemudian menetap serta menjadi warga negara Belanda.
