PBSI
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir juara di India
JAKARTA, Kompas.com - Pekan ini (12-17 Juni), Jakarta kembali menggelar ajang bulu tangkis Djarum Indonesia Open 2012 sebuah turnamen sekelas Superseries Premier.
Turnamen yang sudah dimulai sejak 1982 seakan menjadi tradisi atau ikon Jakarta setiap bulan Juni. Seperti French Open di lapangan Roland Garros yang selalu berlangsung Mei-Juni dan Wimbledon di Inggris, setiap Juni-Juli.
Namun pekan lalu, eksistensi Indonesia Open yang kini bernama Djarum Indonesia Open Superseries Premier ini dipertanyakan relevansinya. Perlukah kita mejadi penyelenggara turnamen sekelas hadiah 650 ribu dolar AS di tengah terpuruknya prestasi bulu tangkis Indonesia?
"Jangan sampai hadiah sebesar tersebut jatuh ke pemain luar negeri," kata pelatih nasional kawakan Christian Hadinata saat konferensi pers Djarum Indonesia Open, Senin (4/6). Suatu pernyataan yang menyiratkan rasa pesimis tentang kemampuan pemain kita menandingi hegemoni pemain China, Korea Selatan bahkan Jepang dan Thailand di kancah bulu tangkis dunia saat ini.
Di ajang Djarum Indonesia Open ini sudah tiga tahun kita paceklik gelar. Terakhir kita meraihnya pada 2008 lewat Sony Dwi Kuncoro di nomor tunggal putera dan Vita Marissa/Liliyana Natsir di nomor ganda puteri.
Tetapi cukup sampai di situ. Antara 2009 hingga 2011, ajang Djarum Indonesia Open memang menjadi ajang bagi-bagi hadiah pertama antara Lee Chong Wei (Malaysia), Saina Nehwal (india) dan -lebih parah lagi- pada 2011, empat gelar diraih pemain-pemain China di hadapan para penonton di Istora Gelora Bung Karno.
Kita hanya berhasil meloloskan wakil di final ganda campuran. Sayangnya, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir juga harus menyerah di tangan ganda campuran China, Zhang Nan/Zhao Yunlei.
Namun untuk usulan memutus siklus hidup Djarum Indonesia Open? Ada baiknya kita melihat perjalanan turnamen tenis tertua dan dianggap terbesar di dunia, Wimbledon.
Wimbeldon dimulai pada 1877, dengan permaianan antarpemain lokal Inggris. Nomor pertandingan pun hanya untuk tunggal putra yang dimenangi oleh pemain lokal, Spencer Gore. Yang unik, para penonton yang menyaksikan pertandingan hanya berjumlah 200 orang namun mereka mau bersusah payah datang dan membayar karcis seharga 1 shilling.
Setelah itu, turnamen lokal ini berkembang dengan penambahan nomor pertandingan. Pada 1884 nomor tunggal puteri dan ganda putera mulai dipertandingkan, disusul nomor ganda puteri dan ganda campuran pada 1913.
Karena reputasinya, Wimbledon mampu menyedot para pemain di luar Inggris untuk ikut serta. Tercatat nama-nama pemain asal Perancis seperti Jean Borotra, Rene Lacoste, Henri Cochet hingga pemain seberang lautan seperti Bill Tilden dan Don Budge (AS).
Pemain-pemain Inggris sendiri sudah lama tidak berjaya di tanah mereka ini. Terakhir kali Fred Perry menjadi juara pada pada 1936. Sementara pemain Inggris lainnya, Bunny Austin hanya mampu lolos sebagai finalis pada 1938.
Untungnya, "hilangnya" para pemain Inggris bukan berarti menghilangnya pula dukungan terhadap eksistensi Wimbledon sebagai kejuaraan tingkat dunia. Sejak era terbuka pada 1968, Wimbledon menjadi satu turnamen yang wajib diikuti semua pemain terbaik dunia. Sebut saja nama Stan Smith, Arthur Ashe, Jimmy Connors, John McEnroe hingga Pete Sampras dari AS; John Newcombe, Rod Laver hingga Mark Phillipoussis dari Australia dan Bjorn Borg dari Swedia pernah bermain di lapangan rumput Wimbledon.
Wimbledon dan hadirnya para petenis utama dunia selalu menimbulkan harapan publik tenis Inggris akan munculnya pahlawan baru pemecah rekor Fred Perry, 76 tahun berselang. Makanya mereka mendukung pemain seperti John Lloyd (1970-an), Tim Henman (1990-an) hingga yang paling berpeluang mengulang prestasi Perry, Andy Murray untuk suatu saat mengangkat kembali trofi Wimbledon sekaligus pamor tenis Inggris.
Hal serupa seharusnya terjadi juga pada Djarum Indonesia Open. Berawal dari tradisi panjang pada 1982, ajang ini memunculkan nama-nama besar Indonesia seperti Icuk Sugiarto (1982), Lius Pongoh (1984), Ardy B Wiranata (1991) Alan Budikusuma (1993) hingga Taufik Hidayat (1999) dan Sony Dwi KUncoro (2008).
Keberhasilan para pemain kita menjuarai (Djarum) Indonesia Open ini memang menunujukkan dua era yang berbeda. Hingga era Taufik Hidayat menjadi juara (2002-2004 dan 2006), Indonesia adalah penguasa bulu tangkis dunia. Taufik pun merupakan satu pemain di deretan elit dunia dengan meraih medali emas Olimpiade Athena (2004) dan menjadi juara dunia (2005).
Situasi berbeda dirasa saat Sony Dwi Kuncoro menjadi juara pada 2008. Indonesia tidak lagi menjadi kekuatan utama dunia setelah para pemain senior faded away alias mengundurkan diri. Kemenangan Sony saat itu menjadi sangat berarti karena gelar juara yang diraih para pemain Indonesia mulai digerogoti pemain China. Kemenangan Sony -dan Vita/Butet- saat itu sekaligus menumbuhkan harapan bahwa dengan semangat tinggi, para pemain kita mampu mengatasi kelebihan pemain-pemian negara lain, terutama China.
Djarum Indonesia Open Super Series Premier 2012 seharusnya masih menyimpan semangat pada tahun-tahun tersebut. Kita masih memiliki Taufik Hidayat dan Sony Dwi Kuncoro dengan semangat tak lekang oleh usia, Simon yang masih berada di kalangan elit dunia dan juga ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang semakin matang setelah menjadi runner-up tahun lalu. Seperti Tontowi Ahmad bilang di saat konferensi pers, Senin (4/6), "Rasanya kita jadi punya kewajiban untuk menjaga nama baik kita di hadapan publik sendiri."
Biarkan para pemain tersebut berjuang untuk menjaga legacy kebesaran bulu tangkis Indonesia. Yang perlu kita lakukan hanyalah meniru 200 penonton turnamen awal Wimbledon pada 1877 dengan datang ke lapangan dan membayar 1 shilling. Saat itulah para pemain kita akan menyadari bahwa mereka tidak berjuang sendirian.

