PALEMBANG, KOMPAS.com — Legenda bulu tangkis Indonesia, Christian Hadinata, menyebut regenerasi atlet berlangsung lambat sehingga gagal mempertahankan konsistensi prestasi pada ajang internasional.
"Prestasi Indonesia cenderung menurun karena tertinggal satu langkah dengan China dalam regenerasi atlet," ujar Cristian di Palembang, Sabtu (28/4/2012).
Pada setiap era kepengurusan Pesatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) senantiasa menjadikan prestasi sebagai indikator keberhasilan organisasi.
Kondisi itu mengakibatkan Pengurus Besar PBSI mengirimkan atlet-atlet senior, seperti Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, dan pasangan Markis Kido-Hendra Setiawan.
Christian menyatakan sempat mengingatkan kepada Pengurus Besar PBSI mengenai kebijakan itu. "Dampaknya justru merugikan Indonesia, karena memberikan pesaing lawan tanding atlet-atlet kelas dunia, sementara para yunior kita sama sekali tidak mendapat kesempatan," kata pria kelahiran Purwokerto, 11 Desember 1949, ini.
Kini negara-negara lawan itu telah menuai hasilnya. "Pada awalnya bisa menang mudah, kemudian menang rubber set. Selanjutnya mulai ramai dan pada akhirnya Indonesia yang kalah," ujarnya.
Selain menyoroti kebijakan para pemimpin PBSI itu, Christian juga menilai penyebab lainnya karena para pelatih di Indonesia tidak memiliki metode latihan yang seragam. "Sama sekali tidak pernah dibuat suatu metode latihan yang baku untuk mencetak atlet bulu tangkis. Pelatih membina seenaknya saja karena tidak ada buku panduan," katanya.
Atlet-atlet yang dibina tidak memiliki standar fisik dan teknik yang seragam sehingga muncul anggapan jika ingin berprestasi, harus menetap di Pulau Jawa. "Inilah yang menyulitkan, padahal jika sejak awal dibina dengan benar, maka atlet-atlet kelas dunia bakal tercipta, bukan hanya di Pulau Jawa," ujar juara Kejuaraan Dunia 1980 ini.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki riwayat bulu tangkis yang sangat membanggakan karena sejumlah atlet mampu menjuarai beberapa ajang bergengsi, tetapi pada satu dekade terakhir kian menurun.
