Tampil di hadapan para pendukungnya, pasangan Christo/David belum sesolid lawannya yang bertahun-tahun bermain ganda.
Meskipun dapat mengimbangi lawannya pada set pertama sehingga harus melalui tie-break, kekalahan pada set pertama itu langsung berdampak buruk pada penampilan tim Indonesia di set kedua dan ketiga. Sebaliknya, pasangan kembar Thailand tersebut bermain kian kompak dan tenang. Mereka pun mudah menekuk pasangan Indonesia dengan skor akhir 7-6 (6), 6-3, 6-1, dalam waktu sekitar 105 menit.
Setelah Christo/David kalah, Indonesia tertinggal 1-2 dari Thailand. Padahal, hari Jumat, Christo memetik satu angka dari tunggal. Thailand pun membalasnya di tunggal kedua.
Dalam kedudukan seperti itu, tidak ada pilihan lain bagi Indonesia selain harus dapat memenangi dua pertandingan tunggal pada hari terakhir, Minggu (8/4). Hal itu tidak mudah karena Christo berhadapan dengan tunggal utama Thailand, Danai Udomchoke. Secara statistik,
Christo menilai, lapangan tenis Senayan yang berkarakter cepat adalah lapangan yang sangat cocok untuk Danai. Christo lebih nyaman bermain di lapangan berkarakter lebih lambat, seperti di Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, ”Tidak ada pilihan lain selain bermain habis-habisan,” kata Christo mengenai persiapannya melawan Danai.
Jika Christo memenangi duel melawan Danai, yang berarti skor menjadi 2-2, tunggal terakhir akan menjadi penentuan. Thailand kembali akan menurunkan Kittipong Wachiramanowong.
Sementara Indonesia, seperti kata kapten tim Bonit Wiryawan, masih belum menentukan apakah akan menurunkan Aditya Hari Sasongko atau David Agung.
”Belum bisa dipastikan, tergantung dari kondisi mereka juga. Bisa Adit, David, atau Wisnu untuk tunggal kedua. Terus terang saya sangat berharap bisa menang dari ganda ini karena, jika kalah, pada laga Minggu akan semakin sulit,” kata Bonit.
Ketika melawan pasangan Thailand itu, Christo dan David mengaku tidak bermain di bawah tekanan. ”Kuncinya pada set pertama. Begitu kembar lepas dari lubang jarum setelah menang di set pertama, mereka semakin susah dilawan,” ujar Christopher Rungkat.
Bonit mengakui, perlu jam terbang yang cukup banyak untuk dapat tetap fokus dan tangguh. Itu terutama dalam kondisi poin genting dan penting seperti saat melawan duet kembar Thailand tersebut.

