Jumat, 24 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 24 Mei 2013 | 06:31 WIB
Pertarungan Khamenei dan Ahmadinejad
Sabtu, 3 Maret 2012 | 09:26 WIB
|
Share:

AP Photo/Vahid Salemi
Lima perempuan Iran memperhatikan daftar kandidat sebelum mengisi surat suara pemilu parlemen Iran di sebuah tempat pemungutan suara di Teheran, Iran, Jumat (2/3). Hampir 47.000 TPS di Iran dibuka bagi 48 juta warga yang berhak memilih 290 anggota parlemen.

TERKAIT:

TEHERAN, KOMPAS.com - Pemilihan umum untuk memilih anggota Parlemen Iran, Jumat (2/3), menjadi ajang pertarungan politik di antara dua aliran konservatif di negara itu, yakni para pendukung Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan pendukung Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Lebih dari 48 juta pemilih di Iran berhak memberikan suaranya di hampir 47.000 tempat pemungutan suara (TPS) di seluruh negeri. Pemungutan suara akan berlangsung pukul 08.00-18.00 waktu setempat, dan hasil akhirnya baru diketahui tiga hari kemudian karena perhitungan suara dilakukan manual.

Seusai memberikan suaranya di salah satu TPS, Khamenei mendesak sebanyak mungkin pemilih menggunakan hak pilihnya. Menurut pemimpin tertinggi berusia 72 tahun itu, semakin banyak rakyat Iran yang menggunakan hak pilihnya, makin bagus efeknya bagi Iran yang sedang menghadapi berbagai sanksi keroyokan dari dunia Barat terkait program nuklirnya.

”Makin banyak orang menggunakan hak pilihnya, makin baik bagi masa depan, prestise, dan keamanan negara kita,” ujar Khamenei.

Pemilu besar pertama di Iran sejak pemilihan presiden yang ricuh pada 2009 itu akan memilih 290 anggota Parlemen Iran. Namun, pemilu kali ini tak diikuti partai-partai reformis di Iran, setelah para pemimpin mereka menjadi tahanan rumah lebih dari satu tahun terakhir.

Tema nasionalisme

Alhasil, pemilu kali ini akan menjadi ajang persaingan Front Pemegang Prinsip Bersatu, yang terdiri atas kelompok loyalis Khamenei, dan Front Perlawanan pendukung Ahmadinejad.

Khamenei sebelumnya mendukung penuh Ahmadinejad, yang terpilih kembali sebagai presiden pada pemilu 2009. Namun, para pendukung Khamenei mulai tidak suka dengan kubu Ahmadinejad yang lebih mengedepankan tema nasionalisme dan kebanggaan kultural dan sejarah Iran daripada sistem pemerintahan Islam.

Perpecahan di antara dua kubu konservatif itu mulai terbuka setelah tahun lalu Ahmadinejad terang-terangan menolak kepala dinas intelijen yang ditunjuk Khamenei dan menentang berbagai kebijakan lain Pemimpin Tertinggi Iran itu.

Dengan latar belakang itu, hasil pemilu parlemen kali ini akan memberi gambaran awal tentang pemilihan presiden tahun depan. Ahmadinejad menjagokan pembantu terdekatnya, yang kini menjadi kepala staf, Esfandiar Rahim-Mashaie, terpilih sebagai presiden tahun depan.

Namun, jika pemilu parlemen kali ini dimenangi kubu Khamenei, kecil bagi pihak loyalis Ahmadinejad meraih kemenangan tahun depan.

Rakyat Iran sendiri berharap pemilu kali ini akan menghasilkan para wakil rakyat yang bisa menekan laju inflasi dan krisis akibat sanksi ekonomi Barat. (Reuters/AFP/AP/DHF)

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Egidius Patnistik