MADRID, Kompas.com - Pertikaian antara petenis legendaris Spanyol, Arantxa Sanchez Vicario dan kedua orang tuanya tampaknya akan semakin sulit untuk diatasi, meski kedua orangtua tersebut belum berencana menuntut anaknya ke pengadilan.
Marisa dan Emilio Sanchez mengaku belum mengambil keputusan untuk suatu tindakan hukum atas tulisan puteri mereka dalam memoarnya,"Let's go! Memories of a struggle, a Life and a Woman,' yang terbit awal pekan ini.
Dalam bukunya tersebut, Arantxa menyebut dirinya kehilangan penghasilan sebesar 45 juta euro selama karirnya sebagai petenis profesional 1980-1990-an. Arantxa yang telah berusia 40 tahun ini menyebut hal ini terjadi karena manajemen buruk yang dipegang kedua orang tuanya.
"Kekayaan saya jauh lebih sedikit dibandingkan abang saya, Javier yang memiliki prestasi jauh di bawah saya," kata Arantxa. Selama karirnya, Arantxa meraih tiga gelar juara turnamen grand slam Perancis Terbuka, AS Terbuka dan kini menjabat sebagai kapten tim Piala Fed Spanyol. "Apakah saya harus terus berdiam diri dengan keadaan ini? Tidak, saya tidak akan melakukannya," tulis Arantxa dalam bukunya.
Kedua orang tuanya mengaku belum membaca buku anak mereka tersebut. Namun Selasa lalu melalui pengacaranya, Marisa dan Emilio menyebut puteri mereka tersebut memang tidak henti-hentinya menyakiti keluarga. "Kami memberi 20 tahun hiudp kami buat dirinya dan mengorbankan semua keinginan kami buat dia," ungkap mereka.


Lindaweni Fanetri kalah dalam partai penentu, sehingga tim Piala Uber Indonesia pun tersingkir di perempat final, menyusul tim Piala Thomas.