Shutterstock
Ilustrasi
BERLIN, KOMPAS.com - Demi menjaga gengsi di arena olah raga, Jerman Barat menoleransi penggunaan doping oleh para atletnya selama era 1970-an sampai 1980-an. Hal itu dilakukan agar Jerman Barat dapat unggul atas Jerman Timur dalam olimpiade.
Fakta itu diungkapkan oleh dua tim peneliti dari Humboldt University di Berlin dan dari University of Muenster, di negara bagian North Rhine-Westphalia.
"Pemberian doping tidak dilakukan oleh negara. Namun, kami menemukan, orang-orang dari kementrian dalam negeri, yang juga kementrian olah raga, menghadiri pertemuan untuk mengambil keputusan mengenai pemberian doping," kata Profesor Giselher Spitzer, dari Humboldt University, Rabu (25/1) di Berlin.
Menurut Spitzer, orang-orang dari kementrian itu adalah orang-orang yang ahli di bidangnya. Hal itu yang membuatnya berkesimpulan pemerintah Jerman Barat mengetahui pemberian doping itu.
Di Jerman Timur, penggunaan doping dilakukan secara sistematis di bawah pemerintah komunis. Di Jerman Barat, atlet tidak dipaksa menggunakan doping. Di cabang angkat besi dan atletik nomor lempar, penggunaan doping mencapai 90 persen tetapi di cabang lain banyak yang tidak menggunakannya.
Penelitian Spitzer menemukan adanya dana pemerintah yang dialokasikan untuk penelitian medis guna membantu atlet Jerman dapat unggul saat berkompetisi di tingkat internasional, termasuk olimpiade. Bantuan bagi atlet yang dimaksud saat itu adalah penggunaan doping.
Temuan itu cukup mengejutkan tetapi hukum privasi Jerman memungkinkan dibukanya fakta sejarah yang ditutupi. "Kami meneliti sejarah untuk melihat apakah ada doping, seberapa banyak, cara kerjanya, dan cara menghindari di masa depan. Jika kehilangan kepercayaan penonton, olah raga tidak akan menarik lagi," kata Spitzer.


Lindaweni Fanetri kalah dalam partai penentu, sehingga tim Piala Uber Indonesia pun tersingkir di perempat final, menyusul tim Piala Thomas.