Pau Gasol (Lakers) vs Dirk Nowitzki (Mavericks)
KOMPAS.com - Musim NBA 2010/2011 memang sudah berakhir, tapi kenangan selama satu musim tersebut masih teringat jelas di benak para pecinta basket. Tentunya, yang paling menarik bagi para penonton NBA adalah saat pemain idolanya berlaga.
Momen paling penting dan nyaris tak terlupakan pastilah final NBA. Partai puncak musim yang baru lalu mempertemukan Dallas Mavericks dengan Miami Heats. Mavericks yang banyak diisi pemain tua ketimbang Heat, keluar sebagai juara NBA.
Pemain berkebangsaan Jerman, Dirk Nowitzki, adalah kunci keberhasilan Mavs untuk menaklukkan Heat. Pebasket berumur 33 tahun itu dipuji oleh rivalnya di final, LeBron James. "Ia adalah pebasket yang sangat susah dijaga di NBA ketika sedang menyerang."
Pemain dengan tinggi badan 213 cm ini memiliki jurus ampuh saat sedang menyerang ring lawan. Jurusnya adalah menembak sambil mundur atau lebih dikenal dengan fadeaway shoot. Berbeda dengan fadeaway shoot yang pemain lain sering lakukan, Nowitzki memiliki satu keunikan ketika melakukan tembakan ini, yaitu menembak dengan bertumpu pada satu kaki.
Awalnya memang terlihat aneh, tapi Nowitzki dapat membuktikan bahwa gerakan ini bisa menjadi gerakan mematikan bagi setiap musuhnya. "Ketika ia akan menembakkan bola ke ring, Anda harus berusaha dan membuat dia berada dalam posisi sulit untuk menembakkan bola itu," tutur LeBron seperti yang dikutip The Sun-Sentinel.
Hal serupa juga diungkapkan forward Heat, Chris Bosh. Ia mengatakan bahwa Nowitzki menggunakan segenap kemampuannya untuk mencetak skor dan melakukannya sesuai dengan dasar bola basket. Pada keadaan demikian, yang perlu dilakukan adalah menerima tantangannya dan mencoba menjaganya.
Kehebatan fadeaway shoot ala Nowitzki sangat memukau Heat, apalagi berkat gerakan tersebut ia mampu mengalahkan para punggawa muda Thunder dan Kevin Durant.
"Gerakan tersebut merupakan gerakan yang baru. Ia selalu membuat tembakan yang aneh untuk ukuran pemain berpostur tinggi. Tapi, tembakan yang bertumpu pada satu kaki tersebut sangat susah untuk dijaga," puji Udonis Haslem.
Walau begitu, bagi LeBron, tembakan yang dipopulerkan Nowitzki belum bisa menyaingi tembakan sky hook ala Kareem Abdul-Jabbar. "Kemungkinan besar tembakan yang paling susah dijaga adalah sky hook. Saya rasa, hal ini menempatkan tembakan Nowitzki menjadi yang kedua yang sulit dijaga," papar LeBron.
Bagi LeBron, salah satu faktor yang membuat tembakan ala Nowitzki susah dijaga adalah tinggi badannya yang menjulang. "Anda berhadapan dengan pemain yang memiliki tinggi 213 cm menembak fadeaway dengan bertumpu pada satu kaki. Tidak ada yang sanggup untuk menghalau tembakan tersebut," ujarnya.
