AFP/ANDREAS SOLARO
Shoya Tomizawa ditandu oleh tim medis Sirkuit Misano. Nyawa Tomizawa tak tertolong.
TOKYO, Kompas.com — Komunitas balap Jepang meratapi kematian tragis pebalap motor remaja, Shoya Tomizawa, dalam kecelakaan Moto2 di GP San Marino, Italia, Minggu (5/9/2010).
"Padahal, dia baru berusia 19 tahun....," tulis media olahraga Tokyo, Chunichi. "Dia seorang pebalap Jepang yang hebat dan kita berharap banyak pada masa depannya."
Tim Tomizawa, Suter Racing, merasa benar-benar "hancur" akan kematian Tomizawa. Tomizawa sedang melaju dengan kecepatan tinggi sebelum tergelincir di tikungan dan dihantam dari belakang oleh Alex de Angelis dan Scott Redding, yang juga terguling, tetapi tidak mengalami cedera serius. Pebalap Jepang itu tewas karena cedera di dadanya setelah dilarikan ke rumah sakit lokal.
"Shoya lebih dari sahabat bagi kami. Ia seperti anggota keluarga kami," kata CEO Suter Racing Eskil Suter dalam pernyataannya. "Ia dicintai siapa saja di paddock dan saya amat menyesalkan insiden tragis ini, baik kepada keluarga maupun tim kami," katanya. Suter menyatakan, De Angelis dan Redding tidak memiliki kesempatan untuk menghindarkan tabrakan dengan Tomizawa. Saya juga menyesalkan kejadian yang menimpa De Angelis dan pebalap kami Scott Redding," kata Suter. "Selain cedera di tulang punggungnya, Scott tidak mengalami cedera serius lain." "Tetapi dari sisi mental, ia amat terguncang dan merasa hancur, tetapi itu bukan kesalahannya. Ini membuktikan balapan berbahaya dan lintasan sirkuit harus lebih diamankan dari waktu ke waktu," katanya. Balapan di kelas MotoGP pada perlombaan dunia itu dimenangi Dani Pedrosa. "Kita menyayangkan terjadi kecelakaan ini, tapi inilah yang dapat terjadi," kata juara dunia Valentino Rossi. "Shoya dalam kehidupan keseharian amat menyenangkan, kecelakaan itu amat mengerikan." Kematian Tomizawa terjadi tujuh tahun setelah kematian pebalap Jepang lainnya, Daijiro Kato. Kato tewas dalam kecelakaan di Jepang Grand Prix pada 2003.


Lindaweni Fanetri kalah dalam partai penentu, sehingga tim Piala Uber Indonesia pun tersingkir di perempat final, menyusul tim Piala Thomas.
