BIRMINGHAM, KOMPAS.com — Para pebulu tangkis top yang saat ini sedang tampil di turnamen klasik All England Super Series di Birmingham, London, mempunyai cara sendiri untuk menghilangkan trauma anak-anak korban gempa bumi di Haiti. Mereka mengumpulkan 1.000 raket yang akan dikirimkan ke negara tersebut untuk merehabilitasi anak-anak muda yang masih mengalami trauma akibat tragedi memilukan tersebut (gempa bumi) pada Januari silam.
Ide mengumpulkan raket tersebut mendapat dukungan dari beberapa pemain tersohor, termasuk pemain Indonesia Taufik Hidayat, juara Olimpiade Athena 2004; Pi Hongyan, tunggal putri Perancis yang kini menempati peringkat empat dunia; Zhou Mi, mantan pemain nomor satu dunia asal Hongkong; Koo Kean Keat, ganda putra nomor satu dunia asal Malaysia; dan Nathan Robertson, pemain Inggris yang meraih medali perak Olimpiade Athena 2004.
Gagasan tersebut dilontarkan Raphael Sachetat, seorang penulis bulu tangkis dari Perancis, dan diumumkan pada Jumat (12/3/2010) waktu setempat saat pertandingan perempat final All England ke-100 di National Indoor Arena.
"Banyak dari kita tahu terapi dan kualitas sosial dari bermain bulu tangkis. Karena itu, marilah kita membantu para anak muda di Haiti karena dengan bermain bisa membuat mereka lebih mudah bersosialisasi lagi," ungkap Sachetat, pendiri yayasan amal yang bernama Solibad.
Solibad bekerja sama dengan Peace and Sport, yang didirikan Joel Bouzhou, juara empat kali pentathlon olimpiade modern, dan Haitian Olympic Committee. Dua organisasi tersebut diharapkan bisa memperoleh raket yang akan diberikan kepada anak-anak Haiti yang berusia delapan hingga 20-an.
Setelah gempa bumi, Haiti Olympic Committee meluncurkan sebuah program bertajuk Activities for Young People, yang bekerja sama dengan badan PBB UNICEF. Ini bertujuan untuk memantau 100.000 anak muda yang kehilangan orientasi, dengan melibatkan mereka dalam kegiatan olahraga, seperti sepak bola, voli, judo, catur, tenis dan bulu tangkis. Di samping itu, anak-anak itu juga dibekali dengan pendidikan.


Lindaweni Fanetri kalah dalam partai penentu, sehingga tim Piala Uber Indonesia pun tersingkir di perempat final, menyusul tim Piala Thomas.
