JAKARTA, Kompas.com - Sony Dwi Kuncoro berhasil melewati rintang berat di babak pertama All England, setelah menang 21-19, 21-10 atas pemain China Du Pengyu, dalam duel di National Indoor Arena Birmingham, Inggris, Rabu (10/3/10). Tetapi di babak kedua, Sony harus menghadapi tembok yang sangat kokoh karena bertemu dengan pemain nomor satu dunia Lee Chong Wei.
Sebagai pemain non-unggulan, Sony harus siap menerima risiko ini di mana dia bakal bertemu pemain unggulan di babak kedua. Dan, hasil undian mengharuskan pemain nomor satu di Pelatnas Cipayung tersebut bertemu dengan unggulan utama dari Malaysia itu.
Duel antara pemain dari dua negara dengan rivalitas tinggi ini menjadi ulangan perempat final Kejuaraan Dunia 2009 di Hyderabad, India. Waktu itu, Sony tampil sangat impresif untuk mengalahkan Chong Wei dengan 21-16, 14-21 dan 21-12.
Pada awal pertandingan, Sony sempat kewalahan menghadapi perlawanan Du Pengyu. Namun, setelah tertinggal 5-9, Sony bisa bangkit dan mengunci lawannya di angka tersebut karena dia mampu meraup delapan poin secara beruntun untuk balik memimpin 13-9. Sony terus melejit sampai menang 21-19.
Di set kedua, Sony tak terbendung lagi. Dia dengan mudah meraih angka karena langsung memimpin 8-0, sebelum menyudahi duel yang berlangsung 36 menit tersebut dengan skor 21-10.
Kemenangan mudah juga diraih Chong Wei saat melawan pemain andalan India Chetan Anand. Chong Wei hanya mendapat sedikit perlawanan keras di awal set pertama, di mana dia sempat tertinggal 3-6. Tetapi setelah meraih enam poin beruntun untuk balik memimpin 9-3, Chong Wei tak terbendung lagi sampai menang 21-15.
Di awal set kedua, Anand membuat kejutan dengan meraih empat poin secara beruntun untuk memimpin 4-0. Sayang, dia tidak mampu menjegal Chong Wei yang tampil penuh determinasi sehingga, perolehan poinnya bisa terkejar. Chong Wei berhasil mengumpulkan sembilan poin secara beruntun untuk memimpin 13-6 dan akhirnya menang 21-16.

Capello: Saya Mundur Karena Kesalahpahaman
Fabio Capello membantah bahwa keputusannya mundur dari jabatan manajer timnas Inggris sebagai bentuk melarikan diri dari tekanan.

