JAKARTA, KOMPAS.com - Pelita Jaya Esia melenggang ke semifinal Turnamen Piala Gubernur DKI Jakarta setelah menaklukan Bimasakti Nikko Steel, Rabu (10/3/2010). Setelah berjuang keras, tim juara Pool C ini akhirnya meraih kemenangan 60-49.
Kuarter pertama, Pelita mulai memperlihatkan dominasinya dengan unggul telak 15-8. Lanjut kuarter kedua, persaingan makin ketat. Bimasakti berusaha optimal mengimbangi Pelita. Tim asuhan pelatih kawakan, Eddy Santoso ini pun mampu memperkecil jarak di akhir kuarter kedua 28-34.
Namun sayang perlawanan skuad Kota Malang ini terhenti di kuarter ketiga. Aksi impresif Dimas Aryo dkk semakin menurun di akhir permainan. Alhasil, Pelita pun dengan mudah unggul di kuarter ketiga 39-43 dan terus melaju menutup pertandingan dengan skor akhir 60-49.
Meski menang, permainan Pelita kali ini tetap tak luput dari evaluasi sang pelatih, Rastafari Horongbala. Fari menilai aksi timnya tidak maksimal karena pengaruh kondisi fisik tim.
"Persaingannya ketat, para pemain memang tidak maksimal karena kondisi fisik dan terlalu menganggap remeh lawan. Seharusnya dari quarter pertama kita sudah mulai menekan lawan," ungkap Fari.
Hal tersebut pun diakui point guard andalan Pelita, Kelly Purwanto. "Saya tidak menyangka akan terjadi kejar-kejaran angka. Defense mereka (Bimasakti) sudah bagus. Kami hanya kelelahan karena terlalu forsir di game kemarin," papar Kelly.
Lain halnya dengan pihak Bimasakti. Pelatih Eddy Santoso justru memuji penampilan anak asuhnya kali ini.
"Di atas kertas kami memang kalah, apalagi Pelita adalah tim favorit juara. Tapi saya acungi jempol untuk penampilan tim saya. Mereka mau berjuang keras, terutama di defense. Dengan materi pemain yang minim kami tetap mampu meminimalkan margin skor. Ini adalah penampilan Bimasakti terbaik sepanjang turnamen ini," tandas Eddy bangga.
Sementara di laga semi final, Jumat (12/3/2010) Pelita akan bertemu Aspac yang sukses menekuk Muba Hang Tuah 82-52.

Capello: Saya Mundur Karena Kesalahpahaman
Fabio Capello membantah bahwa keputusannya mundur dari jabatan manajer timnas Inggris sebagai bentuk melarikan diri dari tekanan.

