Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 10:13 WIB
Eksklusif dengan Jorge Lorenzo: Saya Belum Yakin Juara Tahun Ini
Zulkifli BJ | zbj | Selasa, 2 Maret 2010 | 10:49 WIB
|
Share:
Kompas.com/Zulkifli BJ
Foto:

TERKAIT:

BANDUNG, KOMPAS.com — Tidak mudah mendapatkan waktu khusus wawancara dengan pebalap bernomor 99 ini. Kendati belum menjadi juara dunia MotoGP, di mana pun berada, Lorenzo sudah didampingi para bodyguard.

Karena itulah, sangat menyenangkan ketika Yamaha memberikan kesempatan kepada Kompas.com wawancara eksklusif meski hanya beberapa menit dengan pebalap berjuluk “X-Fuera”. Julukan tersebut diberikan karena gaya overtaking-nya yang dinilai flamboyan.

Wawancara disaksikan oleh manajemen Yamaha Indonesia. Kesan yang sangat menarik saat duduk di samping Lorenzo, anak muda ini langsung memberi kesan akrab seakan-akan kami sudah sering bertemu. Pebalap kelahiran 4 Mei 1987 ini lancar berbahasa Inggris.

Ia menyimak pertanyaan yang diajukan dan berpikir dengan baik sebelum memberikan jawaban. Karena waktu terbatas, ada saja pertanyaan yang lepas dari jawaban. Misalnya, ketika ditanyakan merek tunggangan yang dia gunakan saat pertama belajar berkendara.

Dapatkah Anda menceritakan, bagaimana Anda membuat keputusan untuk menjadi seorang pebalap profesional atau MotoGP?
Dari kecil lingkup saya adalah dunia sepeda motor. Ayah saya (Chicho Lorenzo) senang motor, mengajar naik motor dan membalap. Ia jadi guru saya sampai saya berusia 14 tahun (Waktu kecil, Lorenzo menggunakan motor yang tanpa rem, dan menggunakan dengkul sebagai rem). Waktu itu balap motor salah satu olahraga yang sangat populer di Spanyol, dan saya sangat menyenanginya, dan  ingin jadi pebalap.

Saya mulai memutuskan menjadi seorang pebalap motor profesional ketika berumur 6 tahun. Saya terus dilatih oleh ayah. Saya mengikuti kejuaraan
minicross junior di Mallorca (baca: Mayorca).

Pada umur delapan tahun, saya memenangi balapan minicross, trial, minimotor, dan kejuaraan motocross junior di Mallorca. Pada 1993, saya sudah menjadi juara dengan Aprilia 50 cc. Setelah itu, saya masuk sekolah balap dan menjadi juara nasional pada 1997. Saya mulai mengikuti balapan profesional kelas 125 cc pada usia 13 tahun di Spanyol (Lorenzo pebalap termuda yang pernah menang di kelas 124 cc Eropa).

Umur berapa Anda pertama kali mengendarai sepeda motor.
Umur 3 tahun. Saya menggunakan motor kecil, minicross. Setelah bisa naik motor, saya ikut kejuaraan.

Anda telah ke Indonesia tiga kali. Apakah kesan khusus tentang Indonesia yang tidak pernah Anda lupakan, baik tentang masyarakat, makanan, maupun lainnya?
Ya, saya sudah datang ke Indonesia tiga atau empat kali. Yang saya ingat, Indonesia adalah daerah tropis dengan suhu udara yang selalu hangat. Saya sangat senang karena orang Indonesia ramah, lucu, dan terbuka. Ternyata, saya punya banyak penggemar di sini. Ke mana saya pergi, saya selalu mendapatkan sambutan hangat. Untuk makanan, sedikit pedas.

Saya baca, salah satu hobi Anda adalah sepak bola. Apa klub dan siapa pemain favorit Anda saat ini?
Karena saya lahir di Barcelona, ya... Barcelona. Pemain yang saya sukai, Messi. Saya juga suka Cristiano Ronaldo dari Real Madrid.

Kadang-kadang Anda terlihat lebih cepat dari Rossi? Kok bisa?
Saya berusaha sampai ke batas kemampuan maksimal motor saya dan saya sendiri!

Anda sudah punya target menjadi juara dunia MotoGP? Tahun ini atau tahun depan?
Saya tidak bisa memastikannya. Balap motor, apalagi MotoGP, masalahnya sangat rumit. Karena itu, saya tidak bisa menentukan kapan bisa jadi juara dunia. Namun yang pasti, saya terus berjuang (Dalam wawancara dengan Autosport pada 9 Februari lalu, Lorenzo mengaku puas berada pada posisi kedua. "Sangat sulit menjadi juara dunia, apalagi bersama dengan pebalap hebat. Saya ingin menang, tetapi tidak harus buru-buru. Saya harus sabar").

Ada perubahan dalam setelan motor Anda tahun ini?
Ya... ada pada mesin.

Bagaimana persaingan Anda dengan rekan satu tim? Makin keras?
Persaingan dengan Rossi bukan personal, terbatas di area sport. Itu normal. Kami sama-sama ingin menang.

Lawan terberat tahun ini?
Secara teori Valentino, Casey, Dani, dan saya akan berjuang sampai batas untuk menang!

Pelajaran apa yang Anda petik dari tahun lalu?
Saya membuat beberapa kesalahan, semoga tahun ini tidak terulang lagi.

Terima kasih Anda telah memberikan kesempatan, semoga ini bisa bermanfaat bagi pengemar Anda di Indonesia. Kami mengharapkan Anda bisa memberikan tontonan balapan yang makin menarik seperti tahun lalu, terutama bersaing dengan rekan satu tim Anda.
Terima kasih kembali! Saya akan terus berusaha sampai ke batas kemampuan maksimal yang saya miliki!