Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Mei 2012 | 09:26 WIB
FedEx Teruskan Tradisi ke Semifinal Grand Slam
Aloysius Gonsaga AE | lou | Rabu, 27 Januari 2010 | 17:00 WIB
|
Share:

AFP/GREG WOOD
Roger Federer (kanan) bersalaman dengan Nikolay Davydenko, yang dikalahkannya di perempat final Australia Terbuka, Rabu (27/1/10).

TERKAIT:

MELBOURNE, Kompas.com - Roger Federer menunjukkan dirinya sebagai raja tenis dunia. Keberhasilannya menembus semifinal Australia Terbuka setelah mengalahkan Nikolay Davydenko di babak delapan besar, Rabu (27/1/10), membuat dia untuk ke-23 kalinya secara berturut-turut maju ke semifinal grand slam dan meneruskan tradisinya ini.

Sempat loyo di set pertama hingga pertengahan set kedua, FedEx--julukan Federer--mampu bangkit untuk meraih kemenangan di tiga set selanjutnya. Petenis nomor satu dunia ini memenangkan 13 game secara beruntun, sebelum Davydenko mematahkannya sehingga terjadi pertarungan ketat dan melelahkan selama dua jam 36 menit, yang berakhir dengan skor 2-6, 6-3, 6-0, 7-5.

Tiket yang diraih ini membuat FedEx semakin dekat dengan impiannya untuk menambah koleksi gelar grand slam menjadi 16. Dan, dia juga terus memelihara peluang untuk merengkuh gelar keempat di Australia Terbuka ini, asal di semifinal bisa lebih dulu mengalahkan unggulan ketiga Novak Djokovic atau unggulan 10 Jo-Wilfried Tsonga, yang sedang memperebutkan tiket ke semifinal.

Meskipun sebagai unggulan pertama dan sangat difavoritkan untuk menjadi juara--apalagi setelah Rafael Nadal cedera dan mundur di perempat final--, FedEx terlihat sangat tertekan di awal pertandingan. Bagaimana tidak, lawannya kali ini adalah Davydenko.

Memang, permainan unggulan keenam ini asal Rusia ini tidak terlalu istimewa. Akan tetapi, Davydenko sedang dalam kondisi terbaik untuk mengalahkan lawan-lawan beratnya, termasuk FedEx yang dulu sangat dominan.

Ya, Federer selalu menang atas Davydenko dalam 12 pertemuan pertama sepanjang karier mereka. Tetapi setelah pertarungan di semifinal ATP World Tour pada akhir November 2009 dan semifinal Qatar Terbuka awal Januari ini, Davydenko memberikan indikasi bahwa dia sudah memiliki "senjata" untuk meredam kehebatan Federer, sehingga mampu menaklukkan sang jagoan Swiss tersebut.

Dan, di Australia Terbuka ini Davydenko terus memberikan sinyal tersebut yang membuat Federer harus mewaspadainya. Benar saja, dalam pertarungan babak perempat final ini, Davydenko menunjukkannya di awal set pertama hingga pertengahan set kedua, di mana dia membuat Federer seperti pemain biasa-biasa saja, yang sangat mungkin ditaklukkannya lagi.

Namun Federer bisa keluar dari tekanan sehingga bisa memukul balik Davydenko, sekaligus mengakhiri raihan 13 kemenangan berturut-turut petenis Rusia tersebut sejak menjuarai ATP World Tour Finals di London. Kemenangan juga memperpanjang rekor fantastis Federer di ajang grand slam, karena selalu menembus semifinal sejak tersingkir di babak ketiga Perancis Terbuka 2004, usai dikalahkan pemain Brasil Gustavo Kuerten.

Selain itu, kemenangan tersebut memastikan FedEx akan tetap menjadi petenis nomor satu dunia saat daftar baru ranking petenis putra dirilis Senin pekan depan. Seandainya Federer kalah dari Davydenko, dan Djokovic bisa lolos ke final dan menjadi juara, maka dipastikan petenis Serbia ini menggeser Federer dari puncak peringkat ATP.

Sedangkan bagi Davydenko, kegagalan ini semakin menegaskan dirinya sebagai "raja perempat final grand slam". Pasalnya, sepanjang karier petenis berusia 28 tahun tersebut sudah 10 kali menembus babak ini--yang keempat di Australia Terbuka--, dan selalu kandas.

Sumber :
AFP