VIENTIANE, KOMPAS.com — Semula, lifter Jadi Setiadi hanya dibebankan target meraih perak. Ternyata, target itu "meleset" karena atlet asal Lampung itu justru meraih medali emas pada kelas 56 kg putra SEA Games XXV 2009 Laos di Vientiane, Kamis (10/12/2009).
Emas tersebut merupakan yang ketiga bagi kontingen Indonesia pada hari kedua event ini, menyusul sukses atlet sepeda gunung Risa Suseaty dan Popo Ariyo Sejati yang menyumbang emas pertama dan kedua.
Jadi, lifter kelahiran 2 Februari 1985, tampak begitu emosional dengan kemenangan tersebut. Dia langsung melompat kegirangan ke atas panggung setelah saingan terberatnya, Hoang Ans Tuan, gagal melakukan angkatan snatch seberat 152 kg.
Aksi tersebut membuat pemandangan yang sangat kontras di atas panggung, yaitu Hoang Anh Tuan yang terkapar lemas dan menangis atas kegagalan tersebut, serta Jadi yang melompat-lompat kegirangan.
Pemandangan tersebut membuat juri tidak punya pilihan lain, kecuali ikut melompat untuk menyuruh Jadi kembali turun dari pentas.
Kegembiraan Jadi bisa dimengerti karena lawannya dari Vietnam tersebut bukan atlet sembarangan. Dia adalah peraih perak Olimpiade 2008 Beijing sehingga PB PABBSI pun tahu diri dan hanya menargetkan Jadi meraih perak.
Sebaliknya Hoang Anh Tuan mengalami nasib yang tragis karena ia gagal total dan tidak meraih medali perunggu sekalipun. Dari tiga angkatan snatch seberat 152kg, tidak satu pun yang berhasil dan membuat Jadi memastikan medali emas dengan angkatan seberat 148 kg.
Medali perak akhirnya diraih lifter Pyae Phyo dari Myanmar, disusul Ibrahim dari Malaysia.
Bagi Hoang Ans, inilah kegagalan yang kedua secara beruntun di SEA Games karena dua tahun lalu di Nakhon Ratcasima, ia juga dipecundangi oleh lifter Indonesia lainnya, yaitu Eko Yuli Irawan. Eko di SEA Games 2009 akan tampil di kelas 62 kg.
"Tadi saya sangat senang sekali karena hanya ditargetkan medali perak karena lawan yang dihadapi adalah peraih perak Olimpiade Beijing. Makanya saya secara spontan langsung melompat ke atas pentas," kata Jadi yang ditemui dengan wajah masih bersimbah peluh.
Dengan kemenangan tersebut, bonus sebesar Rp 200 juta sudah dipastikan akan menjadi milik juara SEA Games 2003 di Hanoi itu.
"Nanti uang bonus akan saya simpan untuk biaya sekolah anak," katanya ketika ditanya soal bonus yang dijanjikan Mennegpora itu.
Menurut Hadi Wiharja, Ketua Bidang Olahraga Terukur Program Atlet Andalan (PAL), strategi yang diterapkan untuk menghadapi Hoang Ans ternyata berjalan sesuai dengan rencana.
"Kita sudah mempelajari bahwa kelemahan lifter Vietnam itu adalah pada angkatan snatch, maka Jadi harus bisa memanfaatkan kondisi seperti itu," kata Hadi, mantan lifter yang semasa aktif secara total sudah menyumbang delapan emas SEA Games.
Menurut Hadi, tim angkat besi Indonesia masih berpeluang untuk menambah perolehan medali emas melalui Lisa Rumbewas (55 kg), Eko Yuli Irawan (62 kg), dan Triyatno (69 kg) yang akan bertanding pada Jumat (11/12/2009).
"Saya yakin kita bisa menambah emas lagi, terutama Eko dan Triyatno setelah melihat prestasi mereka akhir-akhir ini," kata Lukman, pelatih kedua lifter tersebut.
Untuk SEA Games 2009 ini, tim angkat besi Indonesia menargetkan untuk meraih empat medali emas, lebih sedikit dari lima emas yang diraih di SEA Games 2007 di Nakhon Ratchasima.
"Target ini sebenarnya bukan penurunan karena memang di Laos ini banyak nomor yang dikurangi oleh panitia," kata Lukman yang pernah sukses mengantar Lisa Rumbewas meraih perak di Olimpiade 2000 Sydney tersebut.
Indonesia secara keseluruhan menurunkan sembilan lifter, yaitu Jadi Setiadi (56 kg), Eko Yuli Irawan (62 kg), Bayu Apriliawan (103 kg), Sandow Wildemar Nasution (77 kg), Triyatno (69 kg), Lisa Rumbewas (55 kg), Novi Yanti (82 kg), dan Sinta Darmariyani (75 kg).


Maria Febe Kusumastuti dan Lindaweni Fenetri seperti kompak cedera sehingga tidak melanjutkan pertandingan penyisihan Grup A Piala Uber.