KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
Bisakah Nadal seperti Federer?
Minggu, 29 November 2009 | 05:06 WIB

Kompas.com - MENJADI petenis pertama yang memastikan diri lolos ke Final ATP World Tour di London, Rafael Nadal justru menjadi yang pertama tersingkir di babak penyisihan grup. Dari tiga pertandingan melawan Robin Soderling, Nikolay Davydenko, dan Novak Djokovic, Nadal bahkan tak mampu meraih kemenangan satu set pun.

Hasil ini menjadi satu dari serangkaian kegagalan yang dialami Nadal sejak kekalahan mengejutkan di babak keempat Perancis Terbuka, Mei lalu. Pada bulan ini pula, Nadal terakhir kali meraih gelar juara, yaitu dari ATP Masters Roma.

Setelah itu, cedera lutut dan otot perut mendera petenis peringkat dua dunia ini hingga harus absen dari berbagai turnamen selama 2,5 bulan. Seusai kembali ke lapangan pada Agustus, prestasi Nadal masih cukup konsisten. Di AS Terbuka, dia lolos ke semifinal. Di lima turnamen hardcourt lainnya, minimal dia masuk perempat final.

Namun, permainan petenis yang mengoleksi enam gelar grand slam ini belum kembali pada kemampuan terbaiknya. Puncaknya terjadi di London.

Servisnya melemah, tak sebaik ketika menjuarai Wimbledon 2008 dan Australia Terbuka 2009. Groundstroke-nya mudah dipatahkan lawan karena tak jarang jatuh di tengah lapangan.

Bahasa tubuhnya juga lain. Jika selama ini dia hanya bereaksi saat mendapat poin melalui pukulan sulit dengan mengepalkan tangan sambil berteriak ”Vamos!”, kali ini Nadal sering menggerutu setiap melakukan kesalahan.

Nadal juga sering melihat ke arah bangku penonton di mana terdapat pelatih yang juga pamannya, Toni Nadal. Nadal mengaku sangat membutuhkan kepercayaan diri yang hilang akibat berbagai kegagalan.

Sejak pertandingan kedua melawan Davydenko, Nadal yang patah semangat bahkan harus mendapat suntikan semangat dari orangtuanya, Sebastian dan Ana Maria, yang duduk bersebelahan. Kedatangan mereka kali ini sangat berarti bagi Nadal setelah perceraian yang terjadi Mei lalu. Perceraian inilah yang membuat perjalanan karier Nadal di semester kedua tahun ini terasa lebih berat.

Dengan gaya main menyerang dari baseline dan selalu berlari ke segala arah untuk mengejar bola, fisik Nadal banyak terkuras. Publik pun menilai Nadal tak cukup kuat untuk bertahan lama.

Tetapi, Nadal tak khawatir. "Saya mulai di arena profesional sejak usia 16 tahun. Jadi, kalau karier saya harus berakhir di usia 25 tahun, sama saja dengan petenis yang memulai karier di umur 20 dan berakhir pada usia 29 tahun," kata Nadal, yang saat ini berumur 23 tahun.

Begitu dipastikan tersingkir di London, Nadal langsung fokus pada persiapan musim kompetisi 2010. "Saya siap berlatih keras dan masih punya motivasi untuk tampil dengan kemampuan terbaik. Saat saya mempunyai itu, saya juga siap mewujudkannya," kata Nadal, yang akan membela Spanyol di final Piala Davis melawan Republik Ceko, 4-6 Desember.

Jika Roger Federer mampu bangkit pada musim 2009 setelah terpuruk pada tahun sebelumnya, kini situasi serupa dihadapi Nadal. Akankah Nadal bisa seperti Federer? (iya)

Editor: lou   |   Sumber : Kompas Cetak Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.