LONDON, Kompas.com - Nikolay Davydenko menghentikan impian Roger Federer untuk merengkuh gelar kelima di ATP World Tour Finals. Pada babak semifinal di 02 Arena, London, Inggris, Sabtu (28/11), Davydenko menang 6-2, 4-6, 7-5 sehingga berhak melangkah ke final untuk bertemu pemenang duel Juan Martin del Potro vs Robin Soderling yang baru akan bermain Minggu pagi WIB.
Dengan demikian, Davydenko yang menjadi unggulan keenam, membuka peluang untuk mengakhiri penantiannya menjadi juara di sini. Pasalnya, sejak melakukan debutnya di turnamen akhir tahun yang menggunakan sistem round-robin ini pada tahun 2005, petenis Rusia ini tiga kali masuk semifinal dan dua kali menembus partai puncak, termasuk tahun lalu ketika ditaklukkan Novak Djokovic.
Sedangkan bagi Federer yang total tujuh kali tampil di semifinal, hasil ini membuat dia gagal menambah trofi ATP World Tour Finals, yang pernah diperolehnya pada tahun 2003, 2004, 2006 dan 2007. Meskipun demikian, keberhasilannya menembus babak semifinal ini memiliki arti yang sangat penting, karena petenis Swiss ini berhasil menobatkan dirinya sebagai petenis nomor satu dunia pada akhir 2009--menjauh dari Rafael Nadal yang menjadi rival terdekatnya dan sudah tersingkir di penyisihan grup.
Federer yang mendapat dukungan dari sekitar 17.500 penonton, sempat mengawali pertandingan dengan sangat meyakinkan. Usai meraih poin di game pertama, peraih 15 gelar grand slam ini sempat memiliki peluang besar untuk menambah keunggulan karena di game kedua dia meraih double break point. Sayang, petenis nomor satu dunia ini gagal meraih kemenangan karena Davydenko bisa mengejar dan memaksa deuce, sebelum memenangkannya untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1.
Di game ketiga, performa Federer menurun sehingga dia kerab membuat kesalahan. Situasi ini dimanfaatkan dengan maksimal oleh Davydenko sehingga dia bisa melakukan break untuk unggul 2-1 dan semakin menjauh setelah berhasil mengamankan poin saat melakukan servis.
Tertinggal 1-3, permainan Federer justru semakin buruk. Buktinya, pada game kelima dia membuat kesalahan fatal. Double fault diikuti pengembalian bola yang menyangkut di net membuat Davydenko kembali melakukan break untuk menambah keunggulan menjadi 4-1.
Setelah itu, Federer sempat membuat break back untuk mengubah kedudukan menjadi 4-2. Tetapi ini adalah poin terakhirnya di set pertama, karena Davydenko langsung membalasnya dengan melakukan break di game ketujuh, sebelum menambah poin saat memegang servis di game kedelapan untuk memenangkan set pertama dengan skor 6-2 dalam waktu hanya 29 menit.
Pada set kedua, Federer berusaha bangkit. Tetapi Davydenko memberikan perlawanan yang alot, sehingga mereka sama-sama bisa mengamankan poin saat memegang servis.
Di game keempat, Federer yang memburu kemenangan kerab memeragakan chip and charge untuk melakukan serangan usai menerima servis dari Davydenko. Usahanya menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan karena dia sempat memaksa deuce sebanyak tiga kali. Tapi Davydenko bisa mengakhirinya dengan kemenangan untuk menyamakan skor menjadi 2-2.
Selepas skor 5-4 usai menang dengan love game di game kesembilan, Federer memberikan sinyal bakal memenangkan set kedua ini. Mirip game kedua di set pertama, kali ini dia meraih double set point ketika Davydenko yang memegang servis. Sempat kehilangan satu angka yang membuat skor menjadi 40-30, Federer bisa mengakhiri game ini setelah forehand Davydenko melebar ke sisi kanan permainan. Federer menang 6-4, sekaligus memaksa rubber set.
Pada set penentuan, duel berlangsung lebih ketat lagi karena sampai skor 5-5, kedua pemain bisa meraih poin ketika memegang servis. Petaka menghampiri Federer ketika dia gagal menyelesaikan game ke-11 meskipun sudah unggul 40-30. Pasalnya, Davydenko bisa mengejar dan memaksa deuce, dan langsung menambah dua angka untuk melakukan break dan menang 6-5.
Keunggulan tersebut membuat Davydenko tak terbendung lagi. Petenis Rusia tersebut tak membuang peluang untuk meraih tiket ke final karena ketika memegang servis, dia berhasil mengamankan poin untuk menyudahi set ketiga dengan keunggulan 7-5.
Kemenangan yang diraih dalam waktu 1 jam 55 menit ini juga menjadi akhir dari perjuangan Davydenko untuk menghentikan dominasi Federer atas dirinya. Karena, sebelumnya mereka sudah 12 kali bertemu dan hasilnya mutlak milik pemain nomor satu dunia ini.

Capello: Saya Mundur Karena Kesalahpahaman
Fabio Capello membantah bahwa keputusannya mundur dari jabatan manajer timnas Inggris sebagai bentuk melarikan diri dari tekanan.

